1 Massive Open Online Course

Hadirin yang saya muliakan,

Menurut Christensen  (1997), kegagalan  yang dihadapi  oleh sebuah organisasi seringkali disebabkan oleh ketidakmampuan dalam membedakan sustaining technologies dan disruptive technologies. Organisasi harus dapat memilah mana yang termasuk ke dalam kedua jenis teknologi yang dimaksudkan. Dalam sustaining technologies, peningkatan performa dari produk yang sudah ada menjadi fokus yang dituju.  Biasanya dikembangkan oleh mereka yang menjadi pemimpin pasar, pemilik bisnis sukses, dan mempunyai ketergantungan  pada mitra lain yang menguntungkan. Sehingga yang dikembangkan adalah hasil praktek bisnis yang baik dari mendengar keinginan konsumen. Sedangkan dalam disruptive technologies, organisasi seringkali tidak menghasilkan performa yang baik dalam jangka pendek karena  tidak memenuhi  kebutuhan saat  ini namun memenuhi kebutuhan lain dengan fitur yang spesifik. Meskipun karakteristik Perguruan Tinggi tidak sama dengan  perusahaan bisnis, konsep disruptive innovation juga dapat diterapkan secara selektif di dalamnya.

Dalam pendidikan  tinggi, kursus secara  online atau  Massive Open Online Course (MOOC) sering disebut-sebut sebagai bentuk  disruptive   innovation   yang dimaksudkan oleh Christensen. Selain itu, juga muncul istilah Small Private Online Course (SPOC) dengan jumlah siswa yang lebih terbatas sehingga dapat  dikelola oleh dosen yang menjadi fasilitator. Beberapa contoh MOOC yang sudah dikenal masyarakat antara lain edX (edx.org), Udacity (udacity.com), Udemy (udemy.com), dan Coursera (coursera.org). Berbeda dengan Udacity, Udemy, dan Coursera, edX menawarkan kelasnya secara gratis kepada siswanya. Di Indonesia, situs indonesiax.co.id yang didirikan pada tahun 2015 memiliki tujuan yang sama dengan edX.

Gambar 2. Situs Massive Open Open Course di edx.org

Meskipun istilah MOOC mulai dikenalkan pada tahun 2008 oleh Dave Cormier dari University of Prince Edward Island di Canada (Kaplan & Haenlein, 2016) providing education to students who are separated by distance and in which the pedagogical material is planned and prepared by educational institutions is a topic of regular interest in the popular and business press. In particular, MOOCs (Massive  Open Online Courses dan dideklarasikan oleh New York Times pada tahun 2012 sebagai tahunnya  MOOC (Pappano,  2012), pembelajaran secara  online (online learning) telah  ada  sejak lama  dan diterapkan  baik sebagai  pengganti  kelas, tambahan dalam kelas,  maupun   digabungkan   dalam   bentuk   hybrid/blended learning (Garrison &Kanuka, 2004). Dalam prakteknya, bahkan YouTube  dan  situs-situs penyimpanan  presentasi  telah  lama  menjadi  rujukan pengguna  internet  untuk mempelajari pengetahuan  atau  memenuhi  keingintahuannya  terhadap suatu hal. Anak-anak generasi millenial bahkan telah menggunakannya  sejak usia dini (Sanjaya, 2016). Sedangkan awal tahun 1998, Brainbench.com yang sebelumnya bernama Tekmetrics.com telah lebih dulu memberikan layanan berupa ujian untuk sertifikasi online atas pengetahuan yang dikuasai di bidang Teknologi Informasi.

Terkait dengan pemanfaatannya di dunia pendidikan tinggi, Assumption University di Thailand mulai mendirikan pendidikan berbasis internet pada tahun 2002 dan menawarkannya  ke masyarakat secara internasional pada tahun 2005 (Anaraki  & Htun, 2015) melalui College of Internet Distance Education (CIDE) yang berganti nama pada tahun 2012 menjadi Graduate School of eLearning (GSeL). Sedangkan di Indonesia, pemerintah juga telah mengeluarkan regulasi berupa Permendikbud RI No 109 Tahun 2013 untuk menggantikan Permendikbud No 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Dalam regulasi tersebut, pemerintah mensyaratkan adanya kampus-kampus satelit atau Unit Sumber Belajar Jarak Jauh (USBJJ) di beberapa kota yang digunakan untuk mempermudah mahasiswa dalam belajar beserta syarat kehadiran yang sama dengan kuliah tatap muka.

Dalam waktu-waktu  mendatang, keberadaan kampus-kampus satelit akan menjadi  tidak relevan seiring dengan peningkatan kecepatan internet dan jangkauan akses internet. Begitu pula dengan syarat kehadiran yang dapat dengan mudah digantikan dengan  teknologi. Evolusi pembelajaran secara online saat ini belum usai dan sedang  mencari bentuk yang sesuai, bahkan  menyesuaikan dengan  kondisi masyarakat  di masing-masing negara. Namun pertanyaan yang mendasarnya adalah apakah MOOC merupakan satu-satunya disruptive innovation dalam pendidikan tinggi? Apa saja yang harus dipersiapkan agar tidak pendidikan tinggi saat ini dapat menyesuaikan  dengan  perubahan teknologi? Agar nantinya kita di dunia pendidikan tinggi tidak tergantikan secara tiba-tiba karena terlambat melakukan adaptasi. Apalagi menurut Garrison, adopsi teknologi informasi dalam proses pembelajaran merupakan hal yang tidak terhindarkan (Garrison & Kanuka, 2004).