11 ALAM TIDAK MEMERLUKAN MANUSIA, MANUSIA YANG MEMERLUKAN ALAM

Lindayani – Program Magister Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Katolik Soegijapranata-Semarang

Pagi hari perjalanan dari rumah menuju ke kampus ditemani macet  sehingga  sampai  kampus  “nyaris” terlambat….. panitia  sudah  sibuk  mencari  dan  menunggu  dengan  segala macam ekspresi muka (ha….ha…ha…). Akhirnya saya dapat duduk manis dalam bus yang siap menghantar perjalanan menuju lokasi Desa Wulungsari, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.

Sepanjang perjalanan mata kadang terpejam rapat karena kantuk yang tak tertahankan. Tiba-tiba byarrrrr mata terbelalak karena dikejutkan suara panitia yang memberi woro-woro untuk makan pagi……. Setelah badan mendapat santapan jasmani maka badan mulai berenergi dan siap untuk mendarat di lokasi. Setibanya di lokasi, kami melihat suasana yang begitu tenang, setiap rumah mempunyai koleksi tanaman dan sayuran yang   tumbuh   subur.   Hatipun   jadi   senang   melihatnya…… Tiba-tiba seorang ibu dengan ramah menyapa kami, setelah beberapa saat bertanya-tanya siapa ibu yang ramah tersebut?? Akhirnya terjawab bahwa ibu yang ramah adalah istri dari kepala desa. Untuk mencairkan suasana, kami dijamu berbagai makanan  lokal  dan  minum  teh  manis  anget.  Melihat  begitu beragamnya makanan lokal, saya langsung bertanya darimana bahan bakunya. Ternyata asli dari sumber alam desa. Bagian ini menjadi bahan refleksi saya. Seperti yang saya kutip bahwa Refleksi Karya di Kabupaten Wonosobo bertujuan mengajak semua warga Unika SOEGIJAPRANATA memiliki sikap peduli, dan aktif terhadap aneka persoalan masyarakat yang menghambat tercapainya kesejahteraan hidup masyarakat.

Secara  pribadi,  saya  tidak  merasakan  ada  masalah  ekonomi di desa yang saya singgahi. Secara umum (tentu berdasarkan pandangan saya) kehidupan masyarakat tidak berbeda jauh dari kehidupan masyarakat umumnya. Yang membedakan adalah kekayaan sumber alam yang dimiliki oleh Kabupaten Wonosobo. Mendengar  paparan  perangkat  desa  dan  juga  keterlibatan warga untuk memajukan desa, saya sangat kagum…. pergulatan penduduk  dengan  segala  macam  kreativitas  dan  kemauan untuk maju dan berkembang tidak sia-sia. Masyarakat mampu membuktikan yang terbaik dari hasil jerih payah, keterlibatan dan kepedulian mereka untuk membangun desanya. Pandangan saya   terhadap   pencapaian desa   hanya   berdasarkan   pada interaksi  bersama  perangkat  desa,  bapak-bapak,  ibu-ibu  dan wakil Karang Taruna yang terjadi sekitar tiga (3) jam. Apakah waktu tiga jam cukup untuk menggali macam apa persoalan masyarakat yang dapat menghambat kesejahteraan hidup masyarakat? Pastinya, baru mengetahui permukaannya saja. Walaupun demikian, ada hal yang berguna untuk saya. Seperti yang sudah saya tulis sebelumya bahwa sumber makanan asli dari sumber alam yang ada.

Betul! Sumber alam menjadi kekuatan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Masyarakat   di   desa sudah  paham  strategi  untuk  memajukan  desanya  sehingga yang  diperlukan  adalah  kerjasama  dan  keterlibatan  pihak luar yang berani menanam “modal” untuk mengubah desa menjadi desa mandiri yang mampu mengolah sumber alam untuk lebih meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Saya memandang masyarakat di desa secara tidak langsung telah memberikan teladan bagaimana mengolah sumber alam untuk mempertahankan hidup. Sumber alam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup masyarakat. Masyarakat telah berusaha dengan baik untuk menggunakan sumber alam secara bijaksana. Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang alam. Pesan yang sangat kuat disampaikan melalui film tersebut adalah “alam tidak memerlukan manusia, manusia yang memerlukan alam”. Pesan tersebut tercermin pada desa yang saya singgahi. Masyarakat bersikap dan bertindak arif terhadap sumber alam yang tersedia sehingga hasil pertanian dan perikanan dapat dinikmati masyarakat. Alam dapat dipelihara  dengan  baik.  Namun,  tuntutan  masyarakat  untuk meningkatkan kehidupan yang   lebih baik pasti terjadi, oleh karena itu perlu bijaksana untuk mengolah alam dan menjalin kerjasama dengan pihak luar.

Sumber alam yang tersedia akan tetap memberikan berkah tergantung bagaimana manusia mengolahnya. Sumber air belum menjadi masalah sehingga sektor perikanan menjanjikan untuk dikembangkan  secara optimal.  Begitu  pula  sektor  pertanian yang dapat dikelola dengan baik. Satu hal yang menjadi kunci keberhasilan adalah sumber air. Memang air bukan menjadi masalah di desa tetapi yang perlu diingat adalah sampai berapa tahun air akan terus tersedia bagi masyarakat?? Hal ini perlu dikelola dengan baik mengingat sudah banyak negara di belahan bumi yang mengalami kekurangan air. Sebagai contoh keperluan air berdasarkan angka 200 liter/hari untuk keperluan keluarga Masaeed dan 7.800 liter untuk 700 kambing di Yordania; 1.000 liter/hari untuk keluarga Gilbertson di New York; 220 liter/hari bagi keluarga Sarker yang bermukim di India dan 60 liter/hari yang diperlukan keluarga Mahamadou yang tinggal di Niger (sumber: Nina Strochlic (2017) dalam Air Bersama. National Geographic Indonesia). Jelas kebutuhan air beragam bagi setiap negara, begitu pula untuk berbagai wilayah di Indonesia.

Saya merenungkan pengalaman yang saya peroleh sekitar tiga jam di desa dan saya kembalikan kepada diri sendiri. Masyarakat desa mempunyai alam yang dapat dikelola untuk memenuhi kehidupannya. Masyarakat pada umumnya mau peduli dan aktif membangun desa untuk mencapai kesejahteraan. Maka pelajaran  ini  menjadi  penting  bagi  pengalaman  pribadi  saya karena alam saya adalah Unika SOEGIJAPRANATA berserta seluruh isinya. Jika alam tempat kerja saya tidak dikelola dengan baik maka ”alam kerja saya tidak ada masalah, tetapi saya dan masyarakat Unika-lah yang akan mendapat masalah”. Mulai terjadi peningkatan suhu kerja yang “kurang sehat”, mulai gerah…..merasakan “sesuatu banget” terhadap alam kerja saya. Gangguan semacam ini yang dapat menyebabkan erosi mental, ladang kerjaan mulai mengalami kekeringan karena kurang mendapat siraman air segar…. Sumber alam kerja sayalah yang perlu dirawat sehingga peningkatan suhu dan kegerahan dapat dikontrol dengan baik. Tujuan Refleksi Karya 2017 di Kabupaten Wonosobo   justru   memberikan   penyadaran   terhadap   saya untuk lebih peduli dan aktif mengelola alam kerja saya (Unika SOEGIJAPRANATA) supaya kesejukan dan kesuburannya terus terpelihara dengan baik dan disirami dengan segala karya saya untuk mempertahankan keseimbangan alam kerja saya. Alam tidak memerlukan manusia, manusia yang memerlukan alam. Terimakasih Tuhan atas alam yang KAU berikan untuk saya bercocok-tanam. Terimakasih untuk semua yang terlibat atas pengalaman pribadi yang diperoleh dari Desa Wulungsari, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.