4 BELAJAR DARI PENJAGA TRADISI DAN BUDAYA LOKAL WONOSOBO

Berta Bekti Retnawati – Ketua Panitia Refleksi Karya 2017

Do  small  things  with  great  love rasanya  tepat  disematkan padanya. Ibu Mulyani, sosok sederhana dengan kecintaan luar biasa pada seni yang ditekuni sekian lama, upaya tiada kenal lelah bangkitkan minat generasi belia cintai seni milik bangsa sendiri. Perempuan kelahiran 12 Juli 1965 ini memilih berkesenian sebagai sarana melayani sesama, satu jawaban singkat penuh makna saat ditanyakan mengapa memilih profesi di bidang ini. Sebagai guru seni budaya di SMP 2 Selomerto, kegiatan berkesenian mendapat wadah khususnya tarian tradisional khas Wonosobo bagi para siswa didik yang masih muda usia. Selain di sekolah umum, ibu Mulyani menggiatkan gelora seni bagi anak-anak berkebutuhan khusus Dena Upakara. Tangan dinginnya telah membantu anak-anak di sekolah ini mendapatkan kesempatan mengembangkan talenta di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki siswa-siswa Dena Upakara. Prestasi yang ditorehkan siswa memberi kebanggaan dan kegembiraan bagi semua, sekolah, pelatih dan terutama para siswa. Selain di sekolah formal, satu sanggar tari yakni Ngesti Laras didirikan sejak tahun 1990 juga menjadi tempat baginya dalam membangkitkan minat para anak muda mengenal tradisi daerah yang perlu dijaga kelestariannya.

Alumni IKIP tahun 1989 dan S1 Jurusan Tari UNY tahun 2008 ini  telah  melewati  rentang  waktu  dan dinamika  yang  ada dalam membagi ilmu untuk generasi muda mencintai budaya. Pengalaman suka menjadi bagian terbesar dalam dinamika mendidik generasi muda selama ini, mengalahkan pengalaman duka yang tidak pernah dirasakannya. Menjalankan profesi dengan kecintaan yang besar, berkarya dengan hati, menjadikan ibu ini berasa pengalaman yang tidak menyenangkan mudah dilupakan, dalam istilah jawa mudah ‘ajur ajer’. Kepuasan akan kinerja  profesi  dihayatinya  dengan  mendapatkan  atensi  dari audien yang gembira melihat dan mendapatkan pesan moral dalam setiap karya tari para siswa dalam pelbagai kesempatan berpentas. Penggiat seni ini merasa beruntung bisa membawa anak didiknya mengikuti beragam acara pentas di level daerah Wonosobo maupun di level nasional. Sejumlah lakon dengan melibatkan banyak penari telah dipentaskan antara lain pentas

2500 penari Hangruwat, 1500 penari lengger, serta 1000 penari PAUD. Bukan perkara mudah menciptakan partisipasi sekian anak muda dalam proses pentas akbar ini, dengan melewati serangkaian latihan yang membutuhkan energi, waktu, dan perhatian tersendiri. Kegigihan menjadikan generasi muda mencintai seni tradisi menjadi pemompa semangat dalam proses panjang ini. Puluhan jenis tari yang menjadi cermin budaya khas Wonosobo dieksplorasi untuk menjadi pengetahuan yang siap dibagikan pada para siswa, mulai dari pengembangan ikon tarian khas daerah seperti Lengger dengan Bundengan, serta tarian lain seperti Gladen, Ginanjar Mulyo, Thungprak, Keprok, Ling, Hangesti, Puspita, Rampak Topeng, Kartini, Angger, Lengger Wanusaban, Hangruwat, Mayasari, Gandrungjiwo, Mukswa, Catur Topeng, Tudung, Batik, Nandur, Nyingnying, Othokomprong. Ireng Poteh, Godril, Jirolu, Brubuh Ngalengka, Pangesti, dan Ngupadi, Semar Mbangun Kayangan. Itulah ragam tarian yang dieksplorasi dan dikembangkan untuk dilestarikan dalam era kekinian.

Peran pemerintah sebagai pengambil kebijakan sangat dibutuhkan bagi penggiat seni seperti ibu Mulyani ini. Tidak bisa   dipungkiri   bahwa   upaya   menjaga   tradisi   diperlukan dukungan aktif dari pemerintah setempat. Baik berupa fasilitas tempat berlatih, kesempatan-kesempatan tampilan di acara formal daerah yang mengundang beragam tamu pemerintahan, serta memberi kesempatan bagi ibu Mulyani dan anak didik menjadi duta budaya daerah Wonosobo untuk diperkenalkan di level nasional dan manca. Beruntunglah pemerintah daerah Wonosobo  memberi  wadah dan  tempat berpentas bagi duta membawa kesenian khas daerah ini.

Bila ada yang menyebut Wonosobo sebagai kota dengan pesona budaya yang luar biasa, tak salah memang demikian adanya. Potensi wisata dan budaya membubung tinggi di daerah ini. Panorama alam yang membingkai daerah ini seperti paket tawaran yang menjanjikan keteduhan bagi siapapun yang bertandang ke Wonosobo. Upaya mempertahankan tradisi dengan tantangan besar di jaman menuju era modernisasi sekarang adalah upaya mengembangkan seni dan budaya, menjaga tradisi untuk tidak mudah tergerus oleh perubahan itu sendiri. Pengembangan dan ekplorasi kekinian tanpa meninggalkan keaslian budaya menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari, dengan mempertahankan kearifan lokal agar tetap punya roh dan memiliki daya tarik bagi pelaku dan penikmat seni.

Di tengah perubahan arus budaya modern inilah yang memunculkan sejumlah kontribusi potensi memudarnya identitas diri suatu daerah yang tercermin dalam budaya setempat.   Eksistensi budaya asli akan   mudah   terancam keberadaanya digerus perubahan yang ada. Situasi seperti inilah dibutuhkan sosok penggiat seni dengan luapan cinta akan profesi yang murni. Perlu seseorang yang dipenuhi dengan harapan mengabdi pada upaya menjaga tradisi, mempertahankan nilai yang diajarkan melalui seni, dan tiada pelit berbagi melalui beragam hasil pengembangan budaya untuk ditularkan pada penerus generasi. Para generasi muda usia yang diminta menjaga budaya,  tentunya  sangat  memerlukan  role  model  bagaimana cara mencintai budaya sendiri, bagaimana cara menghargai tradisi, dan bagaimana memperlakukan budaya adiluhung ini dibahasakan dalam era kekinian. Melalui sosok penggiat seni seperti ibu Mulyani inilah kecintaan pada nilai-nilai budaya mendapat wadahnya. Di tangan yang tepat upaya menjaga tradisi bisa diharapkan selalu terjadi. Belajar dari kecintaan pada profesi, menghayati setiap peran dalam penugasan ekplorasi tradisi dengan hati, diharapkan memampukan Wonosobo tetap menjadi kota dengan sejuta pesona budayanya.