16 “BERTUMBUH” DALAM LINGKUNGAN PEDESAAN

Shinta Estri – Teknik Informatika

Desa Wulung Sari merupakan salah satu desa di Kabupaten Wonosobo yang memiliki 4 buah dusun. Masing-masing dusun memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Keempat dusun tersebut adalah Dusun Kemranggen, Dusun Kacepit, Dusun Depok, dan Dusun Mblindeng.

Pada saat acara diskusi bersama antara warga desa Wulung Sari dengan kami dari UNIKA Soegijapranata, kepala desa menjelaskan  tentang  beberapa  kondisi  alam  dan  kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di desa tersebut. Berdasarkan karakteristik alam masing-masing desa mempunyai kekayaan alam yang berbeda-beda. Warga yang pekarangan rumahnya sempit membudidayakan tanaman dengan memanfaatkan polibag.

Dusun   yang   kedua   adalah   dusun   Kacepit.   Berdasarkan informasi  dari  kepala  desa,  dusun  Kacepit  memiliki  sumber daya air yang melimpah. Hal ini dimanfaatkan oleh warganya untuk melakukan budidaya perikanan, selain itu sumber airnya melalui usaha swadaya dikelola untuk   memenuhi kebutuhan air bagi seluruh masyarakat desa.

Dusun yang pertama adalah dusun Kemranggen. Dusun ini ditetapkan sebagai dusun lumbung pangan. Hal ini terlihat pada setiap halaman rumah warga terdapat berbagai macam tanaman, mulai dari tanaman sayur sampai dengan tanaman hias, setiap warga masyarakat dalam desa ini secara mandiri membudidayakan tanaman pada pekarangan rumah masing- masing. Warga yang pekarangan rumahnya sempit Dusun yang ketiga adalah dusun Depok. Dusun ini lebih merupakan dusun untuk pengolahan bank sampah. Selain itu dusun Depok juga mulai dikenal dengan produksi pembalut ramah  lingkungan  pagi  para  wanita  dan  usaha  pengolahan daun purwoceng untuk produksi teh.

Dusun yang terakhir adalah dusun Mblindeng. Dusun ini dikenal dengan olahan tanaman toga dan budidaya tanaman toga dalam rumah tangga.

Dari penjelasan kepala desa mengenai keempat dusun yang terdapat di desa Wulung Sari ini ada beberapa hal yang menarik antara lain :

  • kesadaran masyarakat dalam mengenali sumber daya alam
  • kemauan dan kesadaran masyarakat untuk mau bersama- sama membangun desa untuk mewujudkan mimpi mereka membangun “Desa Wisata” beberapa hal sudah dimulai seperti camp pelatihan bercocok tanam di desa Kemranggen
  • masing-masing warganya memahami posisi dan kewajibannya masing-masing untuk berperan serta aktif dalam lingkungan masyarakat
  • perangkat desa yang mampu menumbuhkan semangat dan melakukan edukasi serta memberikan fasilitas terhadap warganya dengan baik.
  • Selain itu juga beberapa prestasi (juara 2 lomba adhikarya tingkat Propinsi, Juara PKK propinsi) yang telah mereka raih berkat usaha yang telah mereka lakukan.

Bertumbuh dalam lingkungan sekolah berkebutuhan khusus

 

Di daerah Wonosobo ada sebuah sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus yaitu sekolah Dena Upakara (SLB/B). Sekolah ini merupakan sekolah bagi siswa yang tidak bisa mendengar atau tunarungu. Sekolah ini mendidik dan mengajar anak tunarungu dengan cara oral. Murid-murid dilatih untuk berbicara dengan bahasa lisan (dengan tujuan supaya bisa berkomunikasi dengan orang bukan tunarungu). Siswa dari sekolah ini berasal dari latar belakang ekonomi dan daerah asal yang berbeda-beda baik dari Jawa maupun luar Jawa. Sebagian besar siswanya sudah mulai masuk sekolah pada saat usia dini atau masih dibawah lima tahun. Tidak terbayangkan oleh saya perasaan orang tuanya pada saat meninggalkan mereka di sekolah dan harus jauh dari orang tuanya. Saya kagum dengan orang tua dan anak-anak yang ada di sana, mereka masing-masing berjuang/berkorban dengan tugasnya masing-masing, orang tua mencari biaya sekolah dan anak-anak belajar mandiri di sekolah asrama. Hal ini dilakukan untuk memperjuangkan keberhasilan  hidup  anak-anak  tersebut  di  masa  yang  akan datang.

Pada  hari  kedua  acara  Refleksi Karya  UNIKA  di  Wonosobo ada sesi performance dari siswa sekolah Dena Upakara yaitu penampilan tarian dari siswa usia SD dan siswa usia SMP. Pada saat melihat penampilan siswa tidak akan ada yang mengira bahwa mereka berkebutuhan khusus. Saya bangga dengan para guru yang berhasil membimbing siswanya dengan kesabaran dan mendampingi para siswa sehingga berhasil menorehkan prestasi baik dalam bidang seni maupun akademik (http:// denaupakara1.blogspot.co.id/2014/01/prestasi-siswa.html). Sekolah tersebut mampu membuat para siswanya mensyukuri apa yang menjadi kekurangan mereka. Dengan bersama-sama dalam sebuah sekolah para siswa merasa memiliki teman yang senasib dan bersama-sama berproses untuk menyiapkan diri menghadapi kehidupan bersama dengan masyarakat yang heterogen.

Semangat mengembangkan diri dan semangat mendampingi pada mahasiswa sesuai dengan kebutuhan mahasiswa merupakan  oleh-oleh  bagi  saya  dalam  Refleksi Karya  Unika 2017.

VIVA UNIKA