1 WANG SINAWANG: MEMAHAMI “URBANISASI” DI KALIBEBER – WONOSOBO

Benny D Setianto – Fakultas Hukum dan Komunikasi

Memasuki  Kalibeber  saya  mencium  aroma  seperti  di daerah Bandungan, atau lorong di kebanyakan daerah wisata di Jawa Tengah. Kesibukan yang terlihat sudah sangat urban. Di kanan kiri jalan bisa dilihat toko, warung dan bahkan laundry. Impresi yang muncul langsung menembus otak untuk berkata bahwa ini bukan sebuah “desa” tetapi sudah menjadi perkampungan urban.

Waifi

Kami datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan, sehingga kami harus menunggu sejenak. Sambil menunggu saya sengaja berjalan mengitari lokasi pertemuan dan karena sejak pagi belum sempat ngopi, maka saya mampir ke salah satu warung di dekat kantor tersebut. Ketika menunggu kopi dihidangkan, mas penjaga warung tersebut mengatakan password wifi-nya yang digunakan di warung tersebut. Inisitif itu muncul mungkin karena sambil menunggu saya menyalakan Handphone. Asumsinya saya akan senang  kalau  diberitahu  password  wifi  dan  bahkan  mungkin itu adalah bagian dari SOP yang harus dilakukan oleh penjaga warung kopi tersebut. Saya tertegun dengan fasilitas yang tidak saya duga akan saya temukan di warung kopi di pinggir jalan kecil Wonosobo. Meski pengucapan wifi tidaklah tepat, (mas- nya menyebut waifi bukan waifai, entah kenapa kok bukan wifi – dibaca sebagaimana susunan huruf itu dilafalkan dalam bahasa Indonesia) tetapi itu menunjukkan bahwa Wonosobo memiliki akses informasi yang baik. Hal ini semakin memperkuat impresi pertama tadi bahwa Kalibeber sudah “mengkota”.

Setelah beberapa saat, mulailah penduduk Kalibeber berdatangan dan diikuti dengan pak Lurah. Penduduk yang datang relative tidak terlalu beragam dari sisi usia. Rentang yang bisa saya tebak adalah di usia awal 20-an sampai 50-an.

Kecuali tentu saja ada bayi yang berusia 8 bulan diajak turut serta. Ketika perkenalan, Pak Lurah sudah melakukan koreksi terhadap istilah KorDes karena menurut pak Lurah, Kalibeber bukan desa tetapi kelurahan, maka yang benar adalah KorKel. Koreksian kedua adalah pengucapan nama kelurahan, yang benar  pengucapan  Kalibeber  dengan  pengucapan  huruf  e seperti pada kata pergi. Namun saya perhatikan bahkan sampai saat Korkel kami presentasi, pengucapannya masih belum tepat. Kalau saya tadi kritis terhadap pengucapan mas penjaga warung ketika mengucapkan wifi, maka sudah layak pula jika berusaha mengucapkan nama kelurahan dengan tepat juga.

Dialog berjalan dengan lancar, dari pertanyaan yang muncul semakin kelihatan bahwa Kelurahan Kalibeber sudah mengkota. Misalnya, pertanyaan tentang pengolahan sampah rumah tangga sudah disertai kondisi bahwa rumah-rumah mereka tidak memiliki lahan yang cukup untuk bisa menempatkan sampah di pekarangan rumah. Mereka mengatakan bahwa banyak rumah yang bahkan tidak memiliki pekarangan lagi.

Demography   penduduk   yang   menyebutkan   bahwa   30% masyarakatnya adalah pendatang sementara karena banyaknya pondok pesantren dan satu-satunya kelurahan yang menjadi lokasi perguruan tinggi, membuat kelurahan Kalibeber juga harus bersiap dengan kondisi tersebut. Usaha penduduknya tidak banyak lagi yang bertani, tetapi sudah seperti masyarakat di sekitar Bendan Dhuwur Semarang.

Di sisi lain, dari dialog juga terungkap bahwa memunculkan kesadaran   bahwa   memberi   makan   ikan   dengan   kotoran manusia (memakai model jamban “plung-lap”), masih sangat sulit. Penduduk masih percaya bahwa kebiasaan itu sudah merupakan “adat” yang turun temurun dan selama ini tidak ada masalah yang berarti bagi kesehatan masyarakatnya. Dalam hati kecil, saya jadi ingat apa yang pernah disampaikan Mgr Soegijapranata Tempora mutantur, et nos autem cum illis (zaman berubah dan kita pun berubah pula). Bisa jadi kebiasaan itu dulu tidak memunculkan masalah karena kondisi lingkungan dan pola makannya berbeda. Namun, karena kami tidak memiliki bukti apakah memang ikan yang diberi makan kotoran manusia tersebut  tidak  layak  konsumsi,  maka  jawabannya  sungguh sangat berhati-hati.

Miras

Pengalaman menarik juga saya temukan ketika kami pulang dari Pendopo Kabupaten. Setelah berganti baju batik seragam dengan kaos, malam itu saya dengan dua dosen baru, pengin menikmati suasana malam di Wonosobo. Dari hotel kami bertiga berjalan menuju alun-alun. Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30 WIB, jalanan relative sudah sepi. Hanya beberapa warung makan yang masih buka. Ketika sampai alun alun, saya melihat ada mobil polisi yang parkir di sana. Sepertinya itu memberikan rasa aman karena kalau ada apa-apa dengan cepat bisa berlari ke arah mobil tersebut. Namun, bisa jadi keberadaan mobil tersebut karena sebelum-sebelumnya pernah terjadi tindak pidana yang membuat kehadiran polisi menjadi penting untuk menjamin keamanan.  Apapun itu, saya merasa lebih aman.

Ketika kami berkeliling sambil melihat-lihat. Mata saya tertarik dengan keberadaan sebuah gerobak penjual rokok, makanan kecil dan beberapa minuman bersoda. Sesekali ada mobil yang berhenti, mengatakan sesuatu dan kemudian mbak penunggu gerobak itu menunduk, memasuk sesuatu ke dalam kantong plastic hitam dan menyerahkannya kepada penumpang mobil yang disertai dengan menerima sejumlah uang dari penumpang mobil tersebut. Karena ingin tahu kami agak mendekat. Rasa penasaran semakin menyelimuti kami, dugaan kami, ada transaksi minuman beralkohol (miras).

Kami  memberanikan  diri  untuk  mendekati  gerobak  tersebut dan menanyakan apakah ada bir yang bisa kami beli. Setelah mengamati kami bertiga, mbak penunggu gerobak langsung menanyakan merk apa yang dikehendaki. Setelah kami sebutkan merk-nya. Mbaknya menunduk, mencungkil bagian tertentu dari gerobaknya (sekilas tampak tidak ada ruang penyimpanan) yang dipakai untuk menyimpan beberapa botol.   Botol yang dibungkus   tas   plastik   hitam   akhirnya   berpindah   tangan, demikian juga dengan sejumlah uang milik kami.

Wang Sinawang

Dalam kebudayaan Jawa dikenal pitutur bahwa hidup manusia itu seringkali wang sinawang. Seseorang melihat kehidupan orang lain tampak lebih enak jika dibandingkan hidupnya sendiri. Padahal bisa jadi orang yang selama ini tampaknya selalu bahagia sebenarnya sedang menyembunyikan penderitaannya. Hanya karena dia tidak ingin membuat beban bagi orang lain maka ia menghadapi penderitaannya dengan senyuman. Kota Wonosobo tampak seperti kota kabupaten kecil, dan bahkan mendapatkan predikat termiskin se-Jawa Tengah. Namun jika melihat kehidupan warganya, kondisi jalan-jalannya, serta keberadaan hotel yang cukup representative, masih banyak kota-kota kabupaten lain yang tidak sebaik ini.

Sekalipun menyebut dirinya sebagai kota agamis yang melarang peredaran minuman alkohol di wilayahnya, toch tidak sampai 200 meter dari mobil polisi yang berjaga, orang dengan gampang bisa melakukan transaksi untuk mendapatkan minuman beralkohol.  Jadi  ingat  pula  dengan  lambang  lingkaran  Yin dan Yang. Dalam bagian yang putih selalu ada titik hitamnya, demikian pula dalam bagian yang hitam ada titik putihnya.

Perjalanan Refleksi Karya kemarin semakin menohok kesadaran saya. Jangan gampang berasumsi atas kondisi atau keadaan sesuatu. Desa belum tentu seperti bayangan desa yang selama ini  saya  percaya. Label-label  yang  diberikan  tidak  pernah menggambarkan   apa   yang   senyatanya   terjadi.   Tampilan sumuci suci bisa jadi justru untuk menyembunyikan kegelapan dalam hidupnya. No Judgment, tidak gampang menghakimi, menetapkan stigma harus menjadi bagian dari pola pikir saya. Terima kasih masyarakat Wonosobo. Terima kasih Unika Soegijapranata yang telah memberikan kesempatan untuk memahami urbanisasi di Wonosobo.