13 “DESA YANG BERPOTENSI NAMUN MASIH TERTINGGAL”

Veronica Kusdiartini – Prodi Manajemen FEB Desa Ngadikusuman Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo

Refleksi Karya merupakan program rutin tahunan yang telah beberapa kali dilakukan di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Refleksi Karya yang diselenggarakan pada  tanggal 24–25 Februari tahun 2016/2017,  mengangkat tema  “Peduli,  Aktif  dan  Bermakna”.  Refleksi Karya  kali  ini berfokus pada 12 desa yaitu Desa Bumitirto, Wulungsari, Reco, Krasak,   Ngadikusuman,   Kadipaten,   Mbojasari,   Kapencar, Tlogo, Maron, Kaliputih dan Kalibeber di Kabupaten Wonosobo dan diikuti oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan Unika Soegijapranata.

Hari pertama, saya bersama teman-teman satu bis mendapat kesempatan untuk menggali kondisi lingkungan di Desa Ngadikusuman. Sesampainya kami di desa Ngadikusuman, kami   bersama   rombongan   langsung   jalan-jalan   berkeliling desa. Kondisi rumah-rumah penduduk kami lihat layak bahkan terlihat di atas rata-rata. Di sana kami tidak melihat adanya rumah yang sederhana bahkan kumuh. Melihat situasi tersebut, saya tergelitik dan bertanya dalam hati kondisi desa yang sudah maju seperti ini kok dikatakan masih tertinggal? Tertinggalnya di mana? Setelah kira-kira 2 jam kami bersama rombongan menyusuri desa tersebut, akhirnya kami kembali ke balai desa untuk sarasehan dan ramah tamah dengan perangkat desa dan warga Ngadikusuman. Kami disambut aparat desa dan bersama warga berkumpul di balai desa.

Pada   awal   pertemuan   dilakukan   perkenalan,   baik   dari pihak  perangkat  desa  beserta  beberapa  pengurus  UMKM yang ada di Desa Ngadikusuman maupun dari pihak Unika Soegijapranata. Selanjutnya Bapak Kepala Desa Ngadikusuman memaparkan kondisi lingkungan yang berfokus pada masalah dan potensi  sumberdaya  manusia  dan  lingkungan  desanya.

Dalam pemaparan tersebut terjawablah pertanyaan yang ada dalam  hati  saya,  ternyata  desa  tersebut  dikatakan  tertinggal dari kondisi penduduknya yang belum sadar akan kesehatan dan pendidikan. Dari sisi kesehatan, dikatakan desa tertinggal karena banyak rumah-rumah penduduk yang belum memiliki jamban. Mereka hanya mengandalkan kolam untuk mengalirkan buangan dari WC. Keprihatinan yang lain sehingga dikatakan sebagai desa tertinggal, adalah kondisi dimana mayoritas tingkat pendidikan penduduknya hanya tamat SD, padahal kalau dilihat secara finansial mereka bisa dikatakan mampu untuk membiayai pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi bahkan sampai perguruan tinggi. Selain dari sisi finansial, kalau saya amati sebetulnya dari sisi intelektual mereka mampu untuk mengenyam  pendidikan  yang  lebih  tinggi.  Kondisi  tersebut juga didukung dengan sikap warga yang pada saat pertemuan terlihat mampu mengungkapkan pendapatnya dengan baik.

Dibalik kekurangan dari penduduk Desa Ngadikusuman, sebetulnya mereka juga mempunyai potensi yang besar. Beberapa ibu   mampu   menunjukkan   kreativitasnya   dalam   mengolah sumberdaya alam di sekitarnya, menjadi produk olahan yang mempunyai nilai tambah. Sebagai contoh dengan hasil panen beras ketan, mereka bisa mengubah menjadi rengginang. Dari produk rengginang sendiri mereka bisa memproduksi tidak hanya dalam ukuran kg tetapi juga sampai ukuran kwintal. Hasil olahan beras ketan menjadi rengginan yang berhasil dikumpulkan dari ibu-ibu pengrajin rengginan, telah dipasarkan tidak hanya di sekitar desa, namun sampai ke luar kota bahkan sampai ke luar pulau. Selain rengginan, mereka juga mampu mengolah sumberdaya alam ketela diubah menjadi makanan kecil yang beragam, sehingga bisa dijual untuk jamuan ketika ada pertemuan-pertemuan. Melihat kekurangan dan kelebihan yang dimiliki warga Desa Ngadikusuman,  terjawablah sudah rasa penasaran saya yang “mengapa desa yang punya potensi, masih dikatakan sebagai desa tertinggal?” Apakah hanya dengan indikator kesehatan dan pendidikan saja suatu desa bisa dikatakan sebagai  desa tertinggal?

Setelah kami beramahtamah dengan perangkat desa dan beberapa warga Desa Ngadikusuman, malam harinya acara dilanjutkan dengan ramah tamah bersama bapak Bupati Wonosobo Bapak Eko Purnomo SE.,MM. Dalam pertemuan tersebut, selain ramah tamah juga ada penandatanganan MOU antara Kabupaten Wonosobo dengan Unika Soegijapranata. Pertemuan malam itu juga dilengkapi dengan berbagai pentas budaya yang begitu menarik.

Hari kedua Refleksi Kkarya, kami mendengarkan paparan dari Bapak Wakil Bupati Wonosobo dan juga paparan dari Romo Alexius Dwi Aryanto, PR (Pejabat Keuskupan Agung Semarang khususnya yang menangani bidang Pengembangan Sosial Ekonomi – PSE). Dalam paparannya, bapak wakil bupati juga menyampaikan bahwa beberapa desa di Kabupaten Wonosobo masih tertinggal. Hal yang sama seperti diungkapkan oleh Kepala Desa Ngadikusuman, bahwa  indikator desa tertinggal terlihat   dari   kurang sadarnya penduduk akan kesehatan (khusunya kepemilikan jamban) dan masih rendahnya tingkat kesadaran penduduk akan pendidikan (terbukti masih banyak penduduk yang hanya mengenyam pendidikan SD). Kegiatan refleksi pada hari kedua ini juga dimeriahkan dengan pentas budaya yang menarik oleh anak-anak berkebutuhan khusus (tuna rungu) dari sekolah Dena Upakara Wonosobo.

Dari Refleksi Karya selama dua hari ini, bisa saya ambil suatu kesimpulan bahwa warga desa di Wonosobo sebetulnya mempunyai potensi untuk maju agar tidak lagi dikatakan sebagai desa tertinggal. Hanya saja mereka butuh pengarahan, bimbingan dan dorongan untuk bangkit dari label desa tertinggal. Mari kita terapkan semangat “Peduli, Aktif dan Bermakna” sesuai dengan tema Refleksi Karya tahun 2017. Sanggupkah kita meluangkan waktu dan talenta kita untuk membantu mereka???