5 KALIPUTIH MELAHIRKAN HATI PUTIH : HIDUP RUKUN, RENDAH HATI DAN TERUS BELAJAR

Alberta Rika Pratiwi – Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Unika Soegijapranata

Mencari dan memaknai nama Kaliputih

Desa Kaliputih Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo adalah salah satu desa yang ada di wilayah Jawa Tengah ini. Baru pertama kali saya mendengar bahwa ada suatu desa dengan nama Kaliputih. Kami rombongan memasuki desa Kaliputih sekitar jam 11.00 – nampak sepi – hanya ada sekitar 4 orang ibu. Kami disambut sekedarnya dan dalam waktu yag tidak terlalu lama ada seorang bapak yang memperkenalkan dirinya sebagai ketua RW. Bapak tersebut menyampaikan bahwa semuanya sedang sembahyang Jumatan – dan bapak tersebut juga menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah Jumatan – karena memang bapak tersebut beragama bukan muslim.  Sayapun  sudah  merasa  heran  –  ada  seorang  bapak non muslim menjadi ketua RW di wilayah yang sebagian besar bergama Islam.

Desa Kaliputih nampak sangat bersih dan tertata rapi. Kantor kepala desa dan sekitarnyapun nampak beberapa tulisan yang menunjukkan kerapihan dan sekaligus semangat yang ingin ditanamkan pada warga desa tersebut agar menjaga lingkungan untuk kepentingan kesejahteraan bersama. Warga baik tua maupun muda desa ini nampak sekali kompak dalam menjaga “berkehidupan bersama” di alam tempat hidupnya. Saya mulai menemukan sesuatu yang indah di desa Kaliputih.

Di pinggir kantor kepala desa, ada sungai kecil yang jernih. Apakah sungai tersebut yang menjadi asal muasal nama desa Kaliputih – tidak ketemu jawabannya – saat bertemu dengan warga Kaliputih, tidak sempat menanyakan tentang awal mula nama desa tersebut. Dengan apa saya rasakan dan temukan, semoga ketemu jawaban tersebut.

Mencari asal mula nama Kaliputih bagi desa tersebut – akhirnya tidak lagi menjadi perhatian setelah bertemu dan berbincang- bincang dengan warganya serta memperhatikan bagaimana warga desa tersebut mengekspresikan diri. Terlihat begitu putih hati para warga desa tersebut. Hal tersebut sangatlah pantas jika Kaliputih menjadi nama desa karena “putih” hati warganya. Perilaku yang mencerminkan hati putihnya seperti air sungai mengalir – dalam menjalani kesehariannya.

Foto : Bentuk Kepedulian untuk Kepentingan Bersama yakni Menjaga Sungai (dok.pribadi, 2017)

Menghormati keragaman karena putihnya hati

Warga  desa  yang  diwakili  ibu-ibu  begitu  fasih  dan  hikmat menyanyikan lagu kebanggaannya yakni Hymne Kaliputih.

Judul lagu : KALIPUTIH (Ciptaan: Bp Abet)

Kaliputith kuwi aran desa lan kaline …

Delik, Puntuk, Beser, Rincrin, sumber umben-umbene …
Jaran kepang kuwi kang dadi keseniane …
Islam kristen, budha kuwi agamane …

Nadyan mung ndesa. Desa cicik masyarakate, tentrem lan becek …
Masyarakate, tentrem lan becik ….,
guyub rukun kangdha di dasar pasrawungane …,

gotong royong modal dasar makaryane….Lirik lagu yang menjadi hymne masyarakat Kaliputih yang diciptakan oleh bapak Abet, menunjukkan baik lirik maupun musiknya adalah ekpresi betapa putihnya hati warga tersebut. Sayapun teringat dengan bapak yang datang mengenalkan dirinya pertama bertemu dengan kami – yang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah Jumatan. Kerukunan warga desa bukan lagi jargon ataupun slogan saja namun telah menjadi roh kehidupannya. Menyimak lagu dan lirik yang diciptakan dan dinyanyikan dengan tulus dalam setiap kesempatan menjadi bukti  bahwa  hidup  rukun  tanpa  memandang  agama  yang dianut, menjadi dasar dalam mencapai tujuan hidup warga desa ini (lihat lirik : …guyub rukun kangdha di dasar pasrawungane …, gotong royong modal dasar makaryane….).

Betapa inginnya mengajak mahasiswa untuk belajar dengan warga desa ini sebagai pengayaan kuliah Kewarganegaraan dan Pancasila – yang isinya bagaimana menjadi warga Indonesia yang  benar  –  dengan kemajemukan  yang  dimiliki.  Warga Kaliputih  adalah  the  best  practice  bagaimana  menjadi  warga negara Indonesia.

Foto : Koor ibu-ibu Desa Kaliputih dengan lagu kebanggaannya Hymne Kaliputih dan Keluarga Sakinah (dok.pribadi, 2017)

Lirik lagu selanjutnya juga menunjukkan betapa agungnya daya pikir dan olah hati yang dimiliki.

Lagu : KELUARGA SAKINAH (Ciptaan : Abet)

Yo pro konco wagane Kaliputih …

Mbangun desa ngisi kamardikaning bangsa..                                      
Ben tentrem uripe lam ayem atine…
Jo lali tuntunan agama ..
Sing Islam sholato 5 wektu sing dasi wajibe…
Budha lam Kristen elingo dina minggu ndedonga ngabektio …
Reff :     Menyang mesjid dho sholato…              \
              Menyang grejo ngabektio …              
              Menyang wihara manembaho …

Lagi-lagi lirik lagu tersebut menjadi jelas bahwa warga desa Kaliputih sangat memaknai keragaman keyakinan yang dianut oleh warga desa tersebut. Terlihat begitu ironi jika melihat dan mendengar berbagai tayangan yang bersifat “tidak toleran” di berbagai media dewasa ini. Perilaku tidak toleran justru terjadi di kota-kota besar yang dalam catatan statistik menunjukkan lebih tinggi tingkat pendidikannya. Warga Kaliputihpun sekali lagi patut menjadi tauladan hidup bermasyarakat. Bagaimana praktek bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah dihidupi oleh warga Kaliputih Wonosobo tanpa didahului dengan teori- teori di Universitas. Sekali lagi harus belajar dengan warga desa tersebut.

Rendah hati membuat ingin terus belajar

Pada pertemuan yang dilakukan dengan warga desa Kaliputih, ada seorang yang mungkin sudah ditunjuk sebagai wakil warga. Bapak yang menjadi wakil warga tersebut menyampaikan berbagai permasalahan – begitu semangat. Dengan keikhlasannya menjadi wakil warga mencari solusi yang tidak dapat dipercahkan sendiri. Dalam pertemuan tersebut nampak sekali warga desa Kaliputih begitu berharap bahwa mereka dapat belajar dari tamu-tamunya. Pertanyaan-pertanyaanya begitu riil menyangkut kehidupan sehari-hari – yang semata-semata untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh warga. Pertanyaan yang disampaikan dengan awalan : …. kami tidak tahu…, kami belum tahu dan dilanjutkan …kami perlu tahu.., kami harus tahu..,   Menurut pandangan saya hal tersebut sangat hebat. Kecerdasan yang luar biasa semakin terlihat karena pertanyaannya memperlihatkan keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk semakin baik dalam kehidupannya baik dari aspek psikologi di keluarga, ekonomi maupun persoalan-persoalan menyangkut hukum. Kalau   tidak   cerdas   maka   pertanyaan-pertanyaan   tersebut tidak akan muncul – ditambah dengan awalan kalimat yang menunjukkan begitu rendah hati.

Kerendahan hati adalah modal untuk ingin bertanya dan terus belajar tanpa merasa sudah pinter dan lalu merasa pandai. Orang Jawa mengenal ujaran (pengajaran) : “ Aja sok kuminter”. Artinya jangan menjadi orang yang merasa sok pinter. Barangkali itulah ajaran para pinisepuhnya dalam berkehidupan bermasyarakat.

Sikap yang begitu rendah hati – merasa tidak tahu atau tidak dapat menyelesaikan masalahnya – lalu belajar dengan orang yang baru dikenalnya. Sikap “dapat melihat kelebihan orang lain” menjadi begitu melekat di para warga Kaliputih tersebut. Saat ini diperlukan sikap-sikap seperti yang dimiliki warga Desa Kaliputih agar terus belajar tentang apapun untuk kesejahteraan bersama – bukan untuk diri sendiri. Terimakasih untuk seluruh warga Kaliputih yang sudah mengajarkan saya untuk menjadi “hati yang putih”.

Semarang, Maret 2017