10 KAPENCAR: BERSAHABAT DENGAN KEARIFAN LOKAL DAN BERDAMAI DENGAN ALAM

Widuri Kurniasari – Manajemen-Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Sekilas Pandang Desa Kapencar

Kapencar adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Kertek, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Kapencar merupakan desa yang berada di lereng Gunung Sindoro (sebelah utara/timur laut) sekaligus di bawah Gunung Sumbing (sebelah timur/tenggara), dengan ketinggian sekitar 1200-1300 meter di atas permukaan laut (dpl).   Kapencar di kelilingi oleh sungai Kiamangbranti, sungai Jurang Jero dan sungai Galuh. Desa ini terdiri dari 2 Dusun yaitu Dusun Sontonayan dan Dusun Kapencar. Kapencar adalah desa yang berada di jalur tengah Purwokerto-Semarang. Disini udaranya sejuk karena terletak diantara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Melihat kondisi desa yang berada di lereng gunung dan dikelilingi oleh sungi bukanlah hal yang mengejutkan kalau desa ini mayoritas penduduk adalah sebagai petani, mulai dari petani tembakau, sayuran dan lain-lain.

Secara umum, bisa dikatakan bahwa masyarakat desa Kapencar berada dalam tingkat ekonomi cukup. Tempat tinggal mereka memiliki desain dan arsitektur yang unik (tidak ada yang menghadap ke timur). Kebanyakan dari mereka tidak punya kamar mandi sendiri tetapi menggunakan tempat mandi umum yang jumlahnya sangat banyak. Pengairan di sini sangat lancar, bahkan di musim kemarau sekalipun air berlimpah.

Tingkat pendidikan desa Kapencar sangatlah rendah. Sekitar 85 % penduduk tingkat pendidikannya hanya sampai dengan SD dan tidak tamat, 6 % adalah tamatan SMP,   2,5 % adalah tamatan SMA dan 0,3 % adalah tamatan Perguruan Tinggi. Meski tingkat pendidikannya rendah, namun mereka memiliki semangat belajar yang tinggi. Hanya saja, mereka masih perlu banyak belajar untuk bersabar dan ulet. Beberapa golongan tua masih ada yang memandang tidak perlunya pendidikan atau pekerjaan lain karena merasa sudah cukup dihidupi oleh hasil pertanian. Dengan berkembangnya komunikasi dan meluasnya wawasan, saat ini sudah banyak yang mempunyai kesadaran akan pentingnya pendidikan. Namun, kebanyakan akhirnya terbentur oleh masalah biaya dan pergaulan yang tidak menyehatkan. Hanya beberapa yang menyelesaikan pendidikan sampai pendidikan tinggi. Kesenian khas pedesaan Jawa, seperti lengger, ebleg, warokan, gendhingan, wayang, dan campursari,pun masih dipelihara sampai saat ini.

Potensi desa Kapencar yang belum tergarap dengan maksimal adalah “Live In” , Wisata Religi, Wisata Kera, dan Wisata Ladang. Live ini yang bisa dilakukan oleh pelajar, mahasiswa, ataupun umum. Tujuan live ini adalah lebih mengenal kehidupan dan berkehidupan di desa. Kegiatan ini, biasanya dilakukan 3 hari sampai dengan 7 hari. Pemasukan dari kegiatan ini ternyata dapat dinikmati oleh banyak lapisan masyarakat. Namun, kendala yang dihadapi adalah tidak semua rumah tangga mempunyai jamban di rumah dan menggunakan jamban umum,  yang  letaknya  tepat  di  pinggir  jalan  umum.  Hal  ini umum kita jumpai di desa ini karena memang sungai mengalir di tengah desa dengan air yang melimpah. Kendala ke dua, adalah kurangnya sumber daya manusia yang dapat mengelola kegiatan ini, sehingga hasilnya kurang maksimal.

Wisata religi ada goa Maria Taroanggro. Goa Maria ini diapit oleh gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Kisah Goa Maria ini juga unik, keberadaannya dimulai pada tahun 2008. Saat itu masyarakat desa Reco dan sekitarnya mengalami keprihatinan karena para petani tembakau berturut-turut dari tahun-tahun sebelumnya mengalami kegagalan usaha. Muncullah ide membuat taman wisata. Mulailah membuat perencanaan untuk membangun taman di tanah seluas 625m2 milik Keuskupan Purwokerto. Dengan adanya Gua Maria peziarah semakin meningkat jumlahnya. Budaya yang dikembangkan di Goa Maria Taroanggro adalah budaya hati. Budaya ini ditumbuhkan dengan memberikan perhatian pada kebutuhan pokok masyarakat dengan membiayai perbaikan jalan dusun dan membiayai pengadaan dan penyaluran air untuk masyarakat sekitar.

Pantang Ngadhep Wetan

Ketika pertama kali masuk ke desa ini ada sesuatu yang menarik, yaitu kebanyakan rumah tidak ada yang menghadap ke timur. Tentu saja hal ini banyak mengundang tanya dan penasaran. Ketika  ada  waktu untuk  melakukan  eksplorasi  lingkungan di  sekitar  desa  dan  ditanyakan  ke  perangkat  desa  ternyata ada penjelasan yang menarik mengenai rumah yang pantang menghadap ke timur (pantang ngadhep wetan). Menurut informasi yang didapatkan bila rumah menghadap ke timur dipercaya memiliki watak ala seperti cekak aten (mudah tersinggung/ sensitif), emosinan (cepat marah), dan cengkiling (ringan tangan). Yang menarik lagi adalah alasan pantang ngadhep wetan adalah wetan (timur) diakui sebagai wiwitan (awal), matahari , pemberi kehidupan, dan orang tua. Jika rumah menghadap ke timur maka diyakini akan menantang pemberi kehidupan dan ini pamali dilakukan. Sehingga keyakinan yang dianut oleh warga desa ini adalah rumah atau bangunan   menghadap ke arah selatan dan utara karena diyakini rumah akan lebih adem. Lalu pertanyaannya, jika ada rumah yang terpaksa menghadap ke timur apa yang harus dilakukan? Jawabannya menarik, pintu utama rumah tetap tidak menghadap ke timur.

Pertanyaan berikutnya muncul, jika masyarakat di desa ini sangat menjunjung tinggi kepercayaan ini, apakah mayoritas penduduk di desa ini adalah kejawen? Jawabannya tidak, mayoritas penduduk desa ini adalah Muslim. Dan Kapencar salah satu desa yang mempunyai tingkat toleransi tinggi. Hal ini dibuktikan dengan jumlah penduduk pemeluk agama Islam adalah sebanyak 91,88 % , Katolik, 7,52 %; Buddha, 0,58 %; dan Kristen, 0,02. Selain agama-agama itu, sebenarnya kebatinan kejawen mengakar kuat dalam tradisi dan hidup masyarakat golongan atas. Mungkin karena budaya Jawa yang sangat kental dan kejawen yang mengakar kuat, toleransi sangat terasa. Jadi sebenarnya falsafah hidup yang dianut oleh penduduk desa ini sangat bersahabat dengan budaya dan kearifan lokal yang ada.

Kera dan Keunikannya

Berbicara tentang bersahabat dengan kearifan lokal, ada satu hal yang menarik yaitu jumlah populasi kera di desa ini yang semakin bertambah. Ada hal positif dan negatif dari keberadaan kera-kera ini. Hal positifnya adalah potensi wisata kera yang kemungkinan akan meningkatkan perekonomian warga sekitar serta menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke desa ini. Dampak yang berhubungan adalah akan banyak menumbuhkan ekonomi kreatif yang bisa berkembang baik di desa ini. Seperti halnya makanan tradisional khas desa, wayang kulit, dan keseniaan tradisional yang belum tergarap secara optimal. Namun semakin bertambahnya jumlah kera-kera tidak sedikit menimbulkan hal negatif yaitu populasi kera yang mengancam lahan pertanian para petani Kapencar.

Namun keberadaan kera-kera ini semakin lama semakin merisaukan, karena jumlahnya semakin lama semakin banyak. Dampak negatif yang muncul dari pertumbuhan jumlah kera ini adalah meningkatnya jumlah lahan pertanian yang rusak. Menurut informasi aparat desa kerusakan yang ditimbulkan oleh kera-kera ini mencapai 10%. Kondisi ini dimungkinkan karena habitat mereka terancam dengan perluasan lahan perkampungan, sehingga kera sulit untuk mencari makan. Disamping itu adanya perburuan liar yang semakin marak, sangat mengusik kehidupan mereka. Oleh karena itu, petani dan aparat desa berinisiatif untuk ‘mengusir” keberadaan kera-kera ini. Mengusir kera inipun dilakukan tanpa kekerasan karena pengusiran kera ini dilakukan dengan “ritual” mengundang pawang kera dengan melalui doa bersama di lahan petani Kapencar, untuk mengusir monyet  agar  tidak  merusak  lahan  pertanian  para  petani. Ritual ini  dilakukan untuk menghindari tindakan yang dapat menyakiti kera. Ritual ini dilakukan bersama di lahan warga yang sering untuk digunakan untuk berkumpul sekawanan kera. Bersama aparat desa, tokoh masyarakat dan warga yang punya lahan, mereka memohon kepada Tuhan agar hama kera bisa lenyap dari desa Kapencar dan sekitarnya.

Dari hasil ritual pengusiran ini diperoleh informasi bahwa sebenarnya kera-kera ini ingin nunut urip menungso dengan merelakan sebagian hasil pertanian yang dikhususkan untuk kera-kera ini. Hal inilah yang mungkin jarang kita jumpai di desa-desa lain di Indonesia, kita harus berdamai dan bersahabat dengan alam tanpa merusaknya dan menjunjung tinggi budaya asli tanpa menghilangkannya.