3 MENJADI BERMAKNA, APAKAH SUDAH ? REFLEKSI-KU REFLEKSI-MU

Yuliana Sri Wulandari, SE. – Biro Administrasi Umum. Koordinator Perlengkapan – The BaPer. Refleksi Karya 2017

Sudah menjadi sebuah ‘tradisi’ di Unika, bahwa kegiatan Refleksi  Karya  (selanjutnya  saya  sebut  Refkar)  adalah kegiatan yang selalu membuat heboh. Mengapa demikian? Karena Refkar itu selalu memicu pro kontra yang aduhai baik di kalangan pendidik   maupun tenaga kependidikan. Banyak hal yang menjadi pemicu, di antaranya lokasi, acara, sarana, transportasi dan macam-macam lagi. Namun bagi kami yang mendukung acara universitas di bagian perlengkapan sarana prasarana, The BaPers, sudah merupakan hal yang biasa. Biasa jika kami harus pontang-panting memenuhi sarpras yang terkadang tidak di-order sebelumnya oleh penanggung jawab kegiatan. Ho-ho …selalu okelah buat kami untuk hal-hal begitu.

Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan Tim BaPer RefKar. Saya , Yoel, sebagai koordinator, dibantu 4 pria perkasa Biro Adminstrasi Umum yaitu mas Tri Yulianto – dedengkot listing pekerjaan, Al. Juardi – vokalis tetap, dan si kembar Upin Ipin kami: KohSiem (nama aslinya Slamet Kosim) dan Wawan. Kami berlima harus selalu bersama dan berkoordinasi penuh. Aba-aba terakhir berada di tangan sayalah yang berkoordinasi dengan Tim Inti Refkar – the Blessing Team.

Hari H tiba. Saat yang lain hendak berangkat, kami sudah dalam perjalanan ke lokasi. Saat yang lain bisa mengunjungi desa tujuan, menikmati alam yang indah dan keramahan penduduk, kami harus mulai memantau ketersediaan sarana prasarana kegiatan. Sedih ? Oow, tidak. Kami tidak sedih, kami senang melakukan bagian kami dalam kegiatan ini. Setiap tahap dalam pelaksanaan Refkar ini selalu menemui sukacita meskipun ada kendalanya.

Awal Yang Membahagiakan

Berawal dari survey ke Bapeda Wonosobo, kami bertemu dengan banyak orang penting yang mendukung terselenggaranya Penandatanganan MoU dan Refleksi Karya ini. Protokoler Unika yang diwakili pak Dadut selalu berdampingan dengan saya, bertemu dengan Protokoler Bupati, Pak Akri, untuk pengaturan berbagai  macam  sarana  fisik  di  area  pendopo  kabupaten. List kebutuhan sarana prasarana mulai kubuka. Pertanyaan- pertanyaan mulai bermunculan. Dan keramahan pak Akri membuat ketegangan kami akan segala sesuatu yang berkaitan dengan protokoler dan sarana pendukung menjadi cair. Segala kekuatiran tentang ini itu dijawab dengan kelegaan hati: beres ibu, kami yang akan menanggung, kami sudah terbiasa dengan hal itu.

Woooow…. melegakan to?   Masalah kursi sejumlah 400 unit, meja penerima tamu, lampu penerangan, sound system, layar LCD dan lain-lain sudah ready. Hanya satu dua perangkat yang harus kami bawa dari Unika. Saya sempat berpikir, kalau begitu, apa yang akan kami kerjakan jika semua sarana prasarana sudah tersedia dan dikontrol oleh tim protokoler? Sungguh, ini adalah hal yang membahagiakan bagi The BaPers, tinggal cek – rechek saja. Sudah terbayang di angan-angan saya bahwa tugas The BaPers akan banyak diringankan.

Begitu juga dengan Hotel Kresna   yang menjadi lokasi utama kegiatan kebersamaan seluruh pdosen dan tenaga kependidikan berjumlah 380 orang. Keramahan mbak Etti, PIC hotel Kresna dalam kegiatan ini, mencairkan suasana tegang. List yang kami bawa, sudah berada di tangan mereka dan kami kontak langsung dengan para manager hotel yang berkaitan. Lagi-lagi kami diliputi dengan point awal yang membahagiakan. Puji Tuhan !

Hari H yang ‘Melelahkan’

Para rohaniwan ataupun orang bijak berkata: segala sesuatu yang dimulai dengan kebaikan Tuhan akan sempurnakan dengan kebaikan pula. Kami memulai Refkar ini dengan kebaikan, doa dan harapan yang baik, menggawangi tiap detil kebutuhan dengan kecermatan dan kerendahan hati, meyakini bahwa Tuhan selalu mendampingi langkah kami. Ya betul, Tuhan pasti akan mendampingi langkah kita, tapi DIA tidak akan melepaskan kita untuk ber-lenggang kangkung. Kesulitan, hambatan dan ketidakpastian, semua pasti selalu ada. Untuk itulah DIA hadir untuk memberikan kekuatan dan ketenteraman pada hati kita.

The BaPers berangkat dengan keadaan yang sehat dan sukacita, meskipun  sehari  sebelum  harus  packing sarpras  dan  titipan barang dari seksi lain ke dalam 1 unit mobil HiAce dengan susah payah. Perjalanan yang lancar membuat kami semakin bersemangat menuju Hotel Kresna terlebih dahulu untuk setting ruangan. Kami melewati RM Gayatri untuk makan siang yang kepagian. Niat kami adalah satu: cepat sampai di lokasi dan segera menata segala sarana yang dibutuhkan.  Let’s go Baper,

Let’s do it !!  Lihatlah, sukacita kami dengan senyum dan canda di sepanjang perjalanan. Tapi kami tetap harus kontak dengan Tim Inti, ketua panitia – bu Berta.

Tim BaPer dan perbekalan dalam satu armada HiAce,

06.00 – 24 Februari 2017

Tiba  di  Hotel  Kresna  dan  perbekalan  kami  turunkan.  Cek lokasi meeting room, ternyata kursi sejumlah 382 sudah tertata. Panggung sudah siap seperti pesanan kami. Namun ketika kami sedang setting sound system  yang kami bawa dari Unika, mbak Etti yang manis dan ramah tiba-tiba menjadi makhluk yang kurang menyenangkan di mata saya. Sound system kami kena charge !  Muka saya sudah berubah merah, karena hal ini sudah di luar wewenang saya. Kalem ya Yoel, kalem…. itu batin saya berbicara. Hehehe…. saya serahkan masalah itu kepada Ketua Panitia yang melakukan negosiasi ketersediaan sarana dan harga dan yang order sound system ke kami.  Yes !! Masalah hati, harus diamankan supaya fisik tidak melemah dalam kelelahan.

Lepas dari masalah sound system hotel ternyata tidak melepaskan emosi sesaat dari permasalahan lain. Acara di Pendopo Kabupaten-pun menyita tenaga dan emosi kami, karena kami harus menunggu ketersediaan prasarana. Kursi sudah tertata, namun layar LCD dan yang terutama sound system belum siap. Ow iya, sound system yang menurut pak Akri tidak ada sewa ternyata tetap harus menyewa karena memperdengarkan musik dan lain-lain. Wow, pak Akri, jangan belak belok begitu dong, bilang saja sejak awal bahwa akan ada charge.

Kami harus menunggu lama, melewati makan siang. Sedih ? Tidaaaak….  Kami masih ada stock sukacita. Isi perut seadanya di depan Pendopo, dengan makanan sekedarnya dari penjual lokal pinggir jalan. Selfie ? Pasti ! Hahaha…. bentuk sukacita kami adalah menerima rejeki Tuhan di setiap kesempatan, di setiap suap yang kami makan, di setiap senyuman wefie.

The BaPer, Alun-alun Wonosobo (ki)  Bu Ketua – bu Berta , tim penari dan Baper (ka). 24 Feb 2017

 

Kendala tidak berhenti di situ. Ketika malam hari, acara di pendopo kabupaten yang telah dipersiapkan sebaik mungkin, tidak juga 100% berjalan dengan baik. Dimulai dengan hujan yang sangat deras. Pak Akri menjanjikan bahwa pawang hujan akan bekerja jika ada event besar seperti ini, tapi ingat bahwa kuasa Tuhan melebihi segalanya. (Sebenarnya, saya yang tidak percaya akan adanya pawang hujan…hehehe…hujan buatan Tuhan kog ditolak, dialihkan).   Disusul lagi dengan kejadian sound system yang tidak tersambung dengan laptop sie acara. Beruntung kami membawa laptop property kami, meski agak tersendat karena colokan agak ‘ledeng’ (bahasa Jawa) sehingga harus dipegangi setiap kali dicolokkan, atau gangguan- gangguan lain yang tidak kami perkirakan.

Soundsystem Setting, stage  lay out  and backdrop, Kresna Hotel , 24 Feb 2017 – 22.30 wib

Galau, hati yang dag dig dug, malu, jengkel dan entah perasaan apa lagi, berkecamuk. Doaku, mohon Tuhan angkat kami dari masalah ini. Dan benar, Tuhan memberikan sukacita lain di puncak acara karena lagu dan tarian Bundengan yang menarik dari adik-adik sanggar tari bu Mul, kesenian lokal Wonosobo. Galau hati kami terobati. Terima kasih Tuhan. Masih ada tugas lain yang menunggu, yaitu cek terakhir di meeting / hall room hotel. Kami selesaikan semua hingga pukul 23.00 dan istirahat.

Hari  ke-2  acara  Refleksi  Karya  yang  dilaksanakan  di  Hotel dapat berjalan lancar. Saya harus terus pasang telinga baik-baik, supaya sound system dapat dinikmati seluruh peserta dengan baik. Kali ini telinga saya dilatih untuk lebih peka lagi. Sesekali harus memberi aba-aba ke tim BaPer untuk memenuhi keinginan sie acara ataupun Ketua Panitia yang mendadak seperti memberikan mic pengganti jika macet atau mematikan lampu karena pembicara akan menayangkan film. Beruntung kami sudah cek terakhir untuk posisi saklar lampu, yang   memang jauh dari jangkauan di seberang lokasi MC dan soundsystem. Tapi semua dapat diatasi, dengan merangkap fungsi   ‘asisten koordinator transportasi’ yang ternyata juga banyak njawil saya kalau ada masalah penjemputan dan lain-lain. Disyukuri saja, jika ada orang yang percaya pada tindakan dan keputusan kita.

Kegiatan belum berakhir meski sudah pukul 15.00. Lelah hari itu belum kelar, namun dapat terobati dengan melarikan diri sejenak dari keramaian. Jatah makan siang di hotel aku alihkan ke suatu menu daerah. Makan siang mie Ongklok yang sudah terbayang-bayang di pelupuk mata sampai terbawa mimpi. Banyak teman yang mengatakan bahwa mie ongklok itu tidak enak karena ada kuah yang seperti bubur (berlendir?). Tapi keinginan untuk mencoba tidak pudar. Kami mencari informasi, mie ongklok yang banyak dicari orang. Hoho, ternyata tidak jauh dari Kresna Hotel, hanya berjalan kaki kurang lebih 10 menit. Dan kami buktikan bahwa mie ongklok itu ENAK !! Jika ada yang mengatakan sebaliknya, ya maaf saja, selera tidak dapat diperdebatkan. Tinggal pembuktian saja. Hohoho …. !!

Mie Ongklok Longkrang, keceriaan rekan-rekan adalah penghiburanku, 25 Feb 2017

 

Acara  selesai  pada  pukul  15.45,  tapi  kami  harus  memberesi peralatan kami, packing kembali ke HiAce. Dan kembali kami dikejutkan dengan tambahan penghuni Hiace untuk posisi pulang. Semakin banyak barang bawaan kami ! Bertambah 4 doos souvenir   titipan dari panitia. Ahaaa….. mas Krido, sang driver-lah, yang menjadi komandan packing. Blusuk sana, blusuk sini, tumpuk situ, geser sini… akhirnya full packing di HiAce, ditambah 5 penumpang yang kucel karena lelah. Ditemani dengan gerimis sore, pukul 17.10 kami keluar dari halaman hotel, menyusul 10 bus lain yang sudah mendahului pulang sejak pukul 16.00. Kondisi yang lelah dan cuaca yang dingin membuat salah satu tim kami tumbang. Sepanjang perjalanan mas Koh Siem mabuk dan tidak ada yang bisa menghentikan. Akhirnya kukatakan, bahwa disini-lah saya merasakan sedih…..

Akhirnya …. Pengejawantahan dari Peduli, Aktif dan Bermakna

Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari satu kegiatan ini. Bahwa    kekompakan  dan  keteguhan  hati  kita  (para  panitia dan   pelaksana)   diuji   dalam   kondisi   ketidakpastian.   Saat awal dijanjikan hal yang manis dan akan dipermudah oleh pihak terkait (protokoler, misalnya), ternyata berbeda pada kenyataannya. Atau pihak hotel yang menawari ini itu, ternyata buntutnya adalah charge yang harus dipenuhi. Dan masih banyak lagi hal-hal yang terkadang mematahkan hati kita.

Perbedaan cara pandang sesama panitia dan kelelahan, terkadang menjadi pemecah konsentrasi. Arah menjadi melenceng. Tetaplah fokus pada tujuan semula, yaitu menyukseskan kegiatan dan melihat kembali peran kita. Perhatian atau peduli akan sekecil apapun peran kita dan peran orang lain, lalu melakukan semua dengan ikhlas, cerdas, tuntas. Itu yang membuat kita peduli, tidak mlempem.

Banyak pribadi yang aktif, tapi tidak sedikit pula yang pasif. Meskipun telah ditunjuk untuk menjadi anggota dalam kepanitian, ke-aktif-an seseorang dalam melakukan kewajiban terkadang   perlu   disentil   dengan   hal-hal   kecil.   Tanggap sasmito, dinamis dalam berbagai kondisi dan tangkas dalam permasalahan yang tiba-tiba muncul, merupakan sesuatu dalam diri kita yang perlu kepekaan, kepekaan yang perlu diasah. Apakah kita cukup berbangga saja dengan satu atau banyak jabatan yang tersandang di bahu kita? Tidak!   Jiwa kita perlu diasah untuk dapat melengkapinya agar menjadi jiwa yang bersyukur dan aktif.

Di setiap kelebihan ada kekurangan, begitu pula sebaliknya.

Setiap insan mempunyai talenta masing-masing. Saat berada di area kelebihan kita, gunakanlah dengan tidak “melebih- lebihkan” diri kita. Namun bila membutuhkan tangan lain untuk berperan, jangan pungkiri itu adalah kelemahan kita. Cukup bermaknakah kita dengan talenta yang Tuhan beri dan mengabaikan kekurangan?  Tidak. Belum cukup.  Padukanlah talenta dengan kekurangan kita dan tambahkanlah kebijaksanaandan kerendahan hati. Hasilnya akan luar biasa bermakna.

Apakah     refleksi-mu     kali     ini     menyadarkanmu     akan sesuatu?      Bagiku,   iya,   aku   semakin   sadar   akan   makna dan    peran    diriku.    Tidak    susah    untuk    menyadarinya, asalkan    kita    mau    membuka    hati.    Terimakasih    Unika. Tetap semangat dan Tuhan memberkati !!

Keceriaan dalam kelelahan bersama Tim yang tersisa di akhir acara

RefKar 2017. 25 Feb 2017