14 OM WONOSOBO OM : SEBUAH DAERAH KAYA YANG ‘MISKIN’

Y. Gunawan, Pr – Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata

Wonosobo  dikenal  dengan  julukan  “Wonosobo  Negeri di  Atas  Awan”.  Saya  mengenal  Wonosobo karena saat SMA Seminari Mertoyudan saya bersama teman-teman pernah mendaki Gunung Sindoro Sumbing dengan tinggi lebih dari 3.000 mdpl. Waktu itu saya naik dari daerah Kapencar. Pemandangan alam yang indah, udara yang dingin dan masih alami menjadi kenangan yang terpatri dalam memori dan sanubari. Pernah juga saya naik ke dataran tinggi Dieng yang terkenal dengan keindahan panorama dan hawanya yang sejuk nan menyegarkan. Saya pernah naik juga ke Puncak Si Kunir Dieng, dimana para pendaki bisa melihat “Golden Sunrise” saat cuaca cerah.

Wonosobo memang dikenal masyarakat umum dengan aneka macam hasil bumi (kentang, salak, carica, purwaceng, dsb), obyek  wisata  dan  desa  wisata  yang  menarik.  Saat  Refleksi Karya pada Jumat, 24 Februari 2017 kemarin, kelompok saya (Bis 6) yang diketuai Pak Retang mengadakan kunjungan dan sarasehan dengan warga desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto. Kami  disambut  oleh  Pak  Kepala  Desa,  para  perangkat  desa dan perwakilan warga. Sarasehan diadakan di aula Kantor Kelurahan. Kami disuguhi Salak Pondoh, hasil bumi dari warga desa. Fresh from the oven. Salaknya baru saja dipetik dari kebun. Juga ada aneka macam hidangan yang lain.

Lestarikan Budaya Nyadran Suro                        

Potensi yang menarik dari Desa Kadipaten adalah adanya desa/ dusun wisata Giyanti. Menurut penuturan salah satu pengurus desa wisata itu, ada kegiatan Nyadran Suro di Dusun Wisata Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Nyadran Suro merupakan ritual akbar yang cukup besar diperingati setiap tahunnya. Dalam ritus ini, tari lengger yang merupakan kearifan lokal setempat menjadi tema utama selain berbagi jajan pasar dalam tenongan.

Giyanti atau masyarakat setempat akrab memanggilnya dengan “Janti” merupakan sebuah dusun dari Desa Kadipaten. Sebagai dusun, Janti tidak terlalu luas wilayahnya. Namun, pamornya di Wonosobo dan sekitarnya telah mengudara, bahkan jauh lebih dikenal dusunnya itu sendiri dibanding desanya. Dusun yang berada cukup jauh dari pusat kota ini, dikenal karena Tari Lengger-nya, sebuah tari yang khas yang merupakan kekayaan lokal setempat. Untuk melestarikan Tari Lengger ini, setiap tahun digelar acara khusus dalam wujud nyadran. Keberadaan inilah yang kemudian pemerintah setempat memberikan julukan kepada desa ini sebagai desa wisata.

Letaknya cukup sulit dijangkau karena tidak berada di titik lalu lintas umum. Namun, untuk mencapai tempat itu, ada petunjuk menuju desa itu. Jalan sudah beraspal, tetapi sempit. Kiri kanan ada sawah dan sesekali ada rumah warga. Sampai di dalam bis, saya bercanda dengan rekan sebelah saya, “Ini masih Indonesia ya pak…hehehe…”

Menurut  Pak  Lurah,  saat  acara  Nyadran  Suro  semua  warga desa mengenakan pakaian adat. Ada yang berdandan ala sinden, mengenakan kebaya dan sanggul untuk para wanitanya, sementara  kaum  pria ada  yang  berdandan  prajurit,  pakaian seni, kostum kraton dan berbagai variasi kostum lainnya. Di makam desa, ratusan orang berdandan seperti masa kerajaan, memanjatkan doa kepada sesepuh dan leluhur. Doa untuk para sesepuh dipanjatkan sebagai bentuk pengabdian. Mereka juga berdoa sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah dan berkah Tuhan yang berikan kepada warga desa.

Tari Lengger yang menjadi ikon di desa ini tampil menjadi acara puncak. Lengger adalah tarian khas yang menggambarkan tentang ajaran meninggalkan keburukan dan mengutamakan kebaikan. Lengger berasal dari kata “Elingo Ngger” (Ingatlah Nak), kata nak disini adalah anak. Jadi Tari Lengger tersebut bermakna nasehat atau petuah agar kita selalu ingat pada Tuhan Yang Maha Esa, berbuat baik kepada sesama mahlukNya dan menjaga semua yang ada dialam ini. Sejatinya Tari Lengger ini mengajak, memberikan nasehat dan pesan kepada semua orang untuk membela kebenaran dan menyingkirkan kebatilan.

Menurut sejarahnya, Tari Lengger lahir di desa Giyanti. Tari Lengger ini dirintis oleh Adipati Mertoloyo, seorang senopati pada zaman perang Diponegoro. Pada saat mengungsi Adipati Mertoloyo  merasa  krasan  tinggal  di  desa  Giyanti  tersebut. Lalu bangsawan Mataram yang menyukai kesenian itu pun menularkan kesenian, ilmu pertanian dan kebudayaan kepada masyarakat desa Giyanti sekitar tahun 1832 M, pasca perang Diponegoro. Kemahiran sang Adipati di bidang kesenian dengan cepat diserap oleh penduduk setempat, sehingga secara trun-temurun kesenian di desa itu pun tumbuh subur.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya pada tahun 1910 kesenian Tari Lengger disempurnakan lagi oleh seorang tokoh seniman ternama  Ki  Gondowinangun.  Seiring  terus  dilestarikannya tradisi budaya dan kesenian tradisional, ditunjang sikap dan masyarakatnya  yang  ramah-tamah,  maka  pada  tahun  1999 desa Giyanti resmi dinobatkan sebagai desa wisata budaya di kabupaten Wonosobo.

Tari Lengger biasanya dipentaskan oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. Penari laki-laki menggunakan pakaian adat jawa dan memakai topeng, sedangan penari perempuan juga mengenakan pakaian tradisional seperti zaman kerajaan yang dilengkapi dengan selendang. Mereka menari selama 8-10 menit setiap babak, dengan diiringi alunan musik gamelan gambang, saron, kendang, bonang dan gong. Tari lengger disebut pula tari tayub topeng, karena kedua jenis tarian ini hampir mirip.

Tari Lengger merupakan turunan dari tari tayub, yang berkembang pesat dan tersebar diseluruh tanah Jawa. Namun ada perbedaan antara Tari Lengger dan Tari Tayub. Untuk menarikan Tari Tayub, penari perempuan diharuskan masih perawan, sedangkan Tari Lengger tidak mengharuskan itu dan bisa ditarikan oleh laki-laki dan perempuan.

Srawung untuk Peduli

Dengan mengadakan kunjungan dan sarasehan dengan para perangkat desa dan warga desa, Unika Soegijapranata sebenarnya mau apa? Tema Refleksi Karya 2017 Unika Soegijapranata: “PEDULI, AKTIF, DAN BERMAKNA”. Dengan mengadakan Refleksi Karya di desa-desa Wonosobo, saya menangkap ROH yang mau dihidupi dan dikembangkan civitas akademika Unika Soegijapranata. Satu kata yaitu “SRAWUNG”. Saya diajak untuk menghayati roh srawung itu bersama dengan warga desa Kadipaten.

Srawung adalah sebuah istilah Jawa yang mengandung arti kumpul atau pertemuan yang dilakukan lebih dari satu orang atau  kelompok.  Dalam  tradisi  masyarakat  pedesaan,  istilah ‘srawung’ sudah akrab di telinga, karena hal itu merupakan media untuk saling bercerita tentang realitas kehidupan.

Srawung mengandung filosofi yang mendalam. Srawung tidak hanya dimaknai sebuah perjumpaan. Dari srawung itulah ada sebentuk rasa yang muncul, yakni belajar, menimba inspirasi (ngangsu kawruh). Dengan demikian, srawung merupakan bagian dari tatanan nilai yang melekat secara khas dalam khazanah kesadaran di kalangan masyarakat. Dalam srawung, masyarakat bisa saling ngudoroso atau menyampaikan realitas yang terjadi di sekitarnya. Tidak hanya apa yang ada dalam pikiran, tetapi apa yang ada dalam perasaan mereka pun semua bisa diungkapkan.

Srawung juga merupakan pengalaman-pengalaman batin yang kadang sulit dibahasakan, tetapi terasa di hati. Maka, dengan adanya srawung inilah banyak permasalahan dalam realitas kehidupan ini bisa dibicarakan, dicarikan solusi secara bersama.

Unika Soegijapranata sebagai lembaga pendidikan perguruan tinggi,   komunitas   akademik,  mengemban tanggung jawab sejarah untuk terus menggali dan menginternalisasikan nilai- nilai Soegijapranata. Dengan motto “Talenta pro Patria et Humanitate” menjadi jelas dan nyata tanggung jawab sejarah itu. Civitas akademika diajak untuk peduli dan aktif dalam srawung dengan warga masyarakat agar kehadiran Unika Soegijapranata semakin bermakna. Peduli merupakan bentuk perhatian yang berawal   dari   hati.   Kepedulian   menjadi   bermakna   apabila dapat diwujudkan dalam berbagai aktivitas sehingga dapat memberikan makna bagi orang lain, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam  Aksi  Kemasjarakatan  Katolik,  Aksi  Pantjasila,  pada  8 Mei 1960 Mgr Soegijapranata menegaskan, “Marilah di dalam Iingkungan tempat tinggal/pekerjaan kita menjadi orang yang berarti, orang yang turut menentukan, berdasarkan prinsip- prinsip kita; jangan hanya turut gelombang, amem mlempem”.

Wejangan Mgr Soegija itu menjadi tantangan bagi Unika masa kini. Kehadiran Unika Soegijapranata di daerah Kabupaten Wonosobo dan MoU yang telah ditanda tangani antara Rektor Unika dengan Bupati Wonosobo dalam rangkaian acara Refleksi Karya 2017 tersebut, menjadi upaya pengejawantahan kepedulian Unika. Unika peduli terhadap masyarakat Wonosobo yang kaya pontensi (alam, hasil bumi, kesenian, budaya dan wisata), tetapi dinyatakan sebagai kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Ini menjadi tantangan tersendiri bagaimana penanganan masalah kesehatan, kemiskinan, pendidikan bisa mengantar masyarakat pada tujuan akhir pada terhormatnya manusia yang bermartabat dan beriman. Mengutip Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035, semoga Refleksi Karya 2017 ini ditindak lanjuti dengan program Universitas yang nyata untuk mewujudkan peradaban kasih yang membawa masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman. #