6 PEDULI, AKTIF DAN BERMAKNA ALA PEREMPUAN DESA WULUNGSARI: TAK HARUS “SOPHISTICATED”

M. Westri Kekalih Susilowati, SE,.ME. – FEB Unika Soegijapranata Semarang

Ada   pepatah   mengatakan   bahwa   penampakan   fisik seorang  perempuan  yang  lemah  justru menandakan kalau ia memiliki kekuatan di bidang yang lain. Yups…..tak dapat diingkari bahwa perempuan memiliki beberapa keterbatasan, antara lain keterbatasan fisik, psikologis maupun sosiologi. Secara  fisik,  perempuan  tidak  sekuat  dan  tidak  seperkasa laki-laki. Kultur dan lingkungan juga telah menciptakan keterbatasan pada perempuan secara psikologi, yakni prinsip bahwa perempuan harus tunduk pada laki-laki. Sementara itu, secara sosiologi, ada kelompok masyarakat tertentu yang sulit menerima kehadiran perempuan sebagai pemimpin. Perempuan seolah-olah menjadi warga “kelas dua”. Jadi perempuan rasanya tak bisa bergerak……Ahhh…itu dulu….

RA Kartini, pejuang emansipasi wanita, semangat juangnya telah mewarnai kiprah perempuan saat ini. Peran perempuan dalam berbagai bidang, bukan lagi hal yang tabu. Bagaimana peranan perempuan dalam bidang politik, pendidikan dan ekonomi telah kita rasakan. Kesetaraan gender, yaitu suatu keadaan dimana antara laki-laki dan perempan setara dalam hak (hukum) dan kondisi  (kualitas hidup) telah menjadi salah satu sasaran dalam pembangunan milenium. Namun, masih saja  sering  ditemukan adanya  ketidakpercayaan  diri  pada perempuan itu sendiri dengan berbagai ungkapan yang intinya “Aku hanya perempuan…….”.  Mengapa?

Ketidakpercayaan diri pada perempuan untuk semakin berperan dalam kehidupan, dalam pembangunan mungkin secara tidak sadar perempuan berpikir bahwa untuk dapat berperan dalam kehidupan ia harus “menjadi sophisticated” atau “berbuat sesuatu   yang   sophisticated”.   Bahwa   untuk   dapat   berperan perempuan harus seperti “Sri Mulyani” atau “Hilary Clinton” dan sebagainya. Refleksi Karya 2017, memberi pelajaran bagi perempuan bahwa untuk dapat berperan, seorang perempuan tidak harus “sophisticated”. Tanpa mengabaikan peran lain yang sungguh luar biasa, peran sederdaha namun strategis bagi perempuan salah satu diantaranya adalah peningkatan status ekonomi rumah tangga. Perempuan dapat berperan dalam peningkatan pendapatan rumah tangga tanpa meninggalkan peran mulianya dalam keluarga seperti sebagai ibu, dan sebagai istri.

Tepatnya di dusun Kemranggen Desa Wulungsari Kecamatan Selomerta, desa yang kami kunjungi dalam rangka Refleksi Karya 2017 dengan tema “Unika Soegijapranata Aktif, Peduli dan Bermakna bagi Masyarakat”. Pertama kali sampai lokasi, sudah timbul kesan bahwa desa yang kami kunjungi adalah desa yang sudah “tidak biasa”, sudah maju. Kesan tersebut muncul karena desa tersebut tampak telah tertata rapi, bersih dan indah. Mata  disuguhi  dengan  pemandangan  tanaman  bunga,  hijau dan banyak pula yang sedang berbunga. Tanaman hias daun maupun bunga ada pada setiap rumah dan disusun sedemikian rupa sehingga enak dan nyaman dilihat.

 Gambar 1 : Lingkungan Jalan Memasuki Dusun Kemranggen Wulungsari

Kemranggen merupakan salah satu dusun kecil yang berada di Desa Wulungsari Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo. Dalam kunjungan dan interaksi dengan warga, khususnya perempuan  dusun  Kemranggen  terlihat  bahwa  aktif,  peduli dan bermakna dapat dilakukan dengan cara yang sederhana oleh para perempuan, oleh para ibu. Melalui Kelompok Wanita Tani  (KWT)  dengan  nama  KWT  Legowo, para  perempuan Kemranggen  Wulungsari  berkiprah  secara  bermakna  pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Tangan para perempuan desa mampu menciptakan Kampung Tani  yang  tidak  saja  membuat  lingkungan  menjadi  lebih indah, tertata dan asri, namun juga mampu meningkatkan kesejahteraan warga. Bukan gebrakan yang luar biasa, tapi memberikan  dampak yang  luar  biasa.  Tindakan sederhana, namun   sangat   bermakna.  Kiprah   para   perempuan   dusun Kemranggen Wulungsari adalah contoh kongkret tema Refleksi Karya “Aktif, peduli dan bermakna” .

Gambar 2 : Aneka tanaman Hias

Peduli, aktif dan bermakna  ala perempuan Desa Wulungsari. Hal  yang  dapat  dicatat  dari  kunjungan  Refleksi Karya  2017 tersebut adalah adanya kepedulian terhadap lingkungan maupun terhadap warga yang lain. Dalam pengelolaan hasil budidaya  pertanian  modern,  hasil  penjualan  tanaman  hias, maupun bibit serta hasil-hasil lainnya, KWT mempertimbangkan pemerataan pendapatan antar warga. Saling membantu juga sudah merupakan salah satu budaya hidup. Secara nyata mereka berperan serta dalam penataan dan pelestarian lingkungan. Meskipun bukan kategori wanita karir, tapi para ibu di dusun Kemranggen tidak hanya berpangku tangan menunggu jatah dari suami. Mereka bergerak, berkatifitas tanpa mengabaikan urusan-urusan rumah tangga. Sebab, waktu yang digunakan untuk beraktifitas sangat fleksibel. Dalam wadah KWT Legowo, warga mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan mengembangkan pertanian modern. Aneka jenis tanaman hias, biofarmaka dan sayur mayur dikembangkan dengan media pot dan polybag, disusun secara rapi di halaman atau pekarangan sekitar rumah. Keaktifan ibu-ibu melalui KWT Legowo pada ahhirnya membuahkan hasil. Selain dalam bentuk lingkungan yang  asri,  aktifitas para  ibu  juga  meningkatkan  pendapatan keluarga. Dengan langkah sederhana, memanfaatkan waktu luang, memanfaatkan lahan kosong, bersinergi dengan pihak- pihak lain, para perempuan di desa Wulungsari adalah langkah yang bermakna. Belajar dari gerakan para ibu dalam wadah KWT Legowo, untuk peduli, aktif dan bermakna…tidak perlu yang “dakik-dakik”, tidak perlu “sophisticated”, yang diperlukan hanya kemauan yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, dimulai dari lingkup kecil dalam keluarga, dalam kampus.