2 REFLEKSI MENARA GADING

H. Sri Sulistyanto – Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Saya rasanya selalu mengikuti Refleksi Karya sejak pertama kali diselenggarakan. Meski tidak penuh. Atau dari awal sampai akhir acara. Atau sebaliknya, hanya terlibat dihari terakhir. Karena berbagai alasan. Seperti tahun 2016 kemarin. Ketika Refleksi Karya diselenggarakan sekitar seminggu setelah ibu mertua wafat. Meski cukup “sregep”, harus diakui, motivasi saya relatif sederhana. Tidak ada idealisme tertentu. Kecuali saya ingin bertemu, berkumpul, dan bercanda dengan rekan-rekan dosen, administrasi, dan rumah tangga dari unit lain. Karena saya memang relatif jarang bergaul dengan kolega diluar FEB.

Selfie dan Sosmed

Sesederhana motivasi di atas, ternyata saya juga acap menemukan hal-hal yang relatif “sederhana” di Refleksi Karya. Betapa tidak, kegatan itu seperti mengukuhkan bahwa kita memang sedang berada di menara gading. Yang indah namun tinggi menjulang.

Lihat saja, sebagai contoh, ketika pelaksanaan curah gagas, diskusi, dan sejenisnya. Masyarakat ingin agar candi yang ada di desanya bisa menjadi obyek wisata. Meski masih belum dieksplorasi dengan sempurna. Dan  masih berupa lingga. Atau ketika masyarakat mengungkapkan potensi wisata air yang belum tergarap dengan optimal.

Mereka tentu punya harapan bahwa kita akan memberikan ide dan gagasan sebagai usulan atau solusi ketika mengungkapkan itu. Yang mestinya sederhana. Membumi. Dan mudah dikerjakan dari, oleh, dan untuk masyarakat sendiri. Sesuai dengan kemampuannya.

Tapi kita ini memang akademisi. Yang biasa bergelut dengan segudang teori. Dan seribu satu idealisme sehingga kurang afdol rasanya kalau hanya menawarkan sesuatu yang sederhana. Karenanya semuanya harus tampak rumit. Dan bisa membuat masyarakat mengangguk-anggukkan kepala, entah kagum atau bingung dengan apa yang didengarnya.

Meskipun  yang  kita  ungkapkan  bisa  jadi  sebenarnya  solusi kelas mahasiswa KKN. Bagaimana tidak, mari kita cermati, untuk membangun candi agar menjadi obyek wisata, kita mengusulkan mesti melibatkan arkeolog, melakukan koordinasi dengan Pemkab, maupun jawaban-jawaban normatif lainnya.

Demikian juga untuk potensi wisata air. Mulai dengan mencari investor. Membangun waterboom. Dan usulan lain diluar jangkauan kemampuan dan kapasitas masyarakat setempat. Dan mungkin juga diluar kemampuan dan kapasitas kita untuk merealisasikannya.

Padahal, kalau kita mau sedikit saja membumi, ada jawaban yang lebih simpel. Ambil contoh, untuk mengembangkan obyek wisata. Apa sih yang tengah digemari masyarakat? Foto selfie.

Saat ini masyarakat berbondong-bondong mendatangi sebuah lokasi untuk sekedar ingin melihat dan menikmati pemandangan atau bangunan tertenu. Tapi berfoto.

Maka bisa dilihat, sebuah lokasi yang sebelumnya biasa-biasa saja. Tiba-tiba bisa berubah sangat ramai ketika ditemukan spot yang bagus untuk diambil gambarnya. Seperti hutan pinus Mangunan Imogiri di Bantul. Hutan pinus Kragilan di Magelang. Atau wisata air Umbul Ponggok Klaten.

Contoh lain adalah taman bunga amarillys di Patuk Gunungkidul Jogja. Yang habis diinjak-injak pengunjung yang ingin berfoto. Bukan untuk mengagumi keindahannya. Itu sebabnya pengelola Umbul Ponggok tidak sekedar menawarkan kesegaran airnya untuk berenang. Tapi juga memberi kesempatan bagi pengunjung untuk berfoto di dalam air. Sambil naik sepeda, nonton TV, dan sebagainya.

Maka tidak perlu heran jika masyarakat rela mendatangi hutan pinus Mangunan dan Kragilan. Padahal cukup jauh dari pusat kota. Tentu bukan karena ingin berjalan-jalan di tengah hutan. Tapi lebih karena ingin berfoto-foto dengan latar belakang pohon pinus yang menjulang tinggi.

Ide-ide semacam itulah yang mestinya ditawarkan. Sehingga, misalkan, tidak perlu mengundang antropolog atau pihak lain yang membutuhkan biaya mahal. Masyarakat cukup didampingi untuk mengidentifikasi titik-titik “photogenic” di sekitar area candi. Diambil fotonya dengan beberapa model anak muda yang eye catching. Di-upload di Facebook. Atau sosmed lainnya. Dan menunggu orang penasaran mengunjungi situs candi tersebut.

Karenanya memang tidak perlu sampai membangun waterboom untuk wisata airnya. Karena investasi yang dibutuhkan bisa ratusan juta. Bahkan milyaran rupiah. Belum lagi jika harus membenahi infrastruktur transportasi menuju obyek tersebut. Karena berada di tengah perkampungan yang jalannya relatif sempit.

Itu pula yang mestinya ditawarkan ketika seorang remaja nguda rasa karena merasa suaranya tidak didengar oleh orang-orang tua. Mestinya kita perlu menanggapi dengan kalimat berbunga- bunga. Yang indah tapi sering tidak harum. Sehingga sekedar menghibur bagi yang mendengarnya. Tapi tidak menyelesaikan masalah.

Kita bisa menyarankan seperti apa yang yang dilakukan Afi Nihaya Faradisa. Seorang remaja Banyuwangi. Yang tulisannya di Facebook sangat dinantikan oleh masyarakat. Termasuk orang yang usianya jauh diatasnya. Karena tidak sekedar curhat. Tapi sangat menginspirasi.

Catatan Penutup

Tulisan ini tentu bukan bermaksud menghakimi diri sendiri. Atau siapapun yang pernah mengungkapkan ide dan gagasan yang menjadi contoh di atas. Tapi lebih sebagai refleksi bagi kita semua. Bahwa kita memang harus bisa lebih membumi. Mau melihat fenomena yang tengah terjadi. Dan berfikir sedikit sederhana. Agar karya kita bisa lebih bermakna bagi masyarakat. Setuju?