15 SADAR LINGKUNGAN: BELAJAR DARI MASYARAKAT NGADIKUSUMAN

Theodorus Sudimin – Ketua The Soegijapranata Institute

Dari Wakil Bupati Wonosobo H. Agus Subagyo, M.Si, saya beberapa kali mendengar pernyataan bahwa Kabupaten Wonosobo merupakan kabupaten paling miskin di Jawa Tengah dan katanya sering disinggung (dan juga disindir) oleh gubernur setiap kali ada pertemuan. Mengamati kondisi fisik wilayah Kabupaten Wonosobo secara umum memang sulit mempercayai pernyataan tersebut, mengingat pengamatan fisik tidak memperlihatkan sebagai daerah miskin. Peringkat itu dipengaruhi oleh 2 variabel yang kondisinya sangat parah. Variabel pertama adalah pendidikan yang menunjukkan bahwa rata-rata lama belajar warga Wonosobo hanya 6,5 tahun. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan wajib belajar nasional selama 12 tahun. Variable kedua adalah kesehatan, yaitu 70% warga tidak memiliki fasilitas jamban permanen. Mereka memiliki kebiasaan BABS (buang air besar sembarangan) khususnya di atas aliran air. Air berlimpah yang selalu mengalir sepanjang tahun di sungai-sungai dan salurang-saluran kecil maupun besar. Mereka memanfaatkan aliran air melimpah itu dengan kebiasaan plung lap. Itulah informasi awal yang diterima dari Wakil Bupati Wonosobo saat pertemuan pada awal Januari 2017  untuk  mengawali pembicaraan  rencana  Refleksi  Karya Unika Soegijapranata.

Dalam tulisan ini penulis menyajikan pengalaman kunjungan ke sebuah desa dalam Refleksi Karya dengan melihat sisi lain dari kenyataan di atas. Dalam hal kesehatan lingkungan, masyarakat mengupayakan penciptaan lingkungan yang sehat dengan cara lain. Sumber tulisan ini adalah pengamatan singkat kunjungan bersama,  informasi  sepintas  dari  pertemuan  dengan  warga, dan informasi lengkap yang kami peroleh dengan melakukan kunjungan tersendiri beberapa waktu setelah pelaksanaan Refleksi Karya.

Kunjungan singkat

Beberapa menit berjalan setelah menikmati makan siang di sebuah  rumah  makan  di  jalan Temanggung – Wonosobo, bis rombongan kelompok saya peserta Refleksi Karya 2017 berbelok kanan. Nah….kami telah memasuki wilayah Desa Ngadikusuman, Kecamatan   Kertek,   Kabupaten   Wonosobo. Desa yang menjadi tempat kunjungan kami untuk melakukan sarasehan dengan warga desa dan pengamatan sesaat atas situasi desa guna menggali permasalahan dan potensi desa. Kunjungan itu merupakan awal dari rangkaian kegiatan Refleksi Karya yang bertemakan “Unika Soegijapranata peduli, aktif, dan bermakna bagi masyarakat”. Desa Ngadikusuman meliputi 5 dusun, yaitu Kabutuh, Kusuma Baru, Semampir, Ngadireso, dan Capar dan terkelompok dalam 21 RT.

Sampai di depan kantor Desa Ngadikusuman, kami turun dari bis dan menunggu waktu pertemuan dengan warga seusai mereka selesai shalat Jumat. Sementara sambil menunggu, saya jalan-jalan  di sekitar desa.  Lingkungan  bersih  dan  berjalan-jalan di sekitar saluran air terdengar arus air yang cukup deras dan  warga  bilang  bahwa  arus  air  itu  tidak  pernah  berhenti meskipun musim kemarau. Pengalaman ini membuktikan bahwa Wonosobo dilimpahi air yang sangat berlimpah seperti yang juga diceritakan Wakil Bupati.  Gambar-gambar di bawah ini memperlihatkan pengamatan kami.

Gambar kondisi saluran air dan lingkungan yang bersih (Dokumen pribadi, April 2017)

Kondisi lingkungan dan air yang bersih itu tidak terlepas dari kebijakan dan perlakukan khusus. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah bahwa di atas saluran air itu terdapat beberapa papan nama yang tertulis “DILARANG MEMBUANG SAMPAH DI ALIRAN SUNGAI INI” dan “BUANG SAMPAH KE SUNGAI DENDA RP 50.000”.

Gambar larangan membuang sampah di sungai dan aliran air (Dokumen pribadi, April 2017)

Berarti tulisan-tulisan itu merupakan kampanye sadar lingkungan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, terutama di sungai.

Perdes tentang lingkungan

Berawal dari keprihatinan warga Desa Ngadikusuman terhadap lingkungan yang kotor, kumuh, dan tidak sehat mereka berpikir untuk mengatasinya. Sebagaimana ciri wilayah kabupaten Wonosobo pada umumnya, desa Ngadikusuman juga dilewati beberapa sungai dan saluran alir dengan arus yang kencang sepanjang tahun. Namun sungai yang secara alamiah terbentuk dan saluran air yang sengaja dibuat itu selalu penuh dengan sampah sehingga air bisa meluap ke jalan atau tanah pertanian dan akibatnya juga sampah dari sungai berserakan di sembarang tempat. Selain di sungai dan saluran air, sampah juga berserakan nyaris di hampir semua tempat.

Kondisi  lingkungan  lainnya  adalah  ternak  unggas  warga, yaitu ayam, entok, bebek yang diternak secara liar sehingga pergi kemana-mana dan juga meninggalkan kotoran dimana- mana termasuk teras dan halaman rumah. Warga yang tidak memelihara unggas pun ikut mendapatkan bagian kotorannya. Unggas yang berkeliaran juga memakan aneka tanaman sayuran baik yang ditanam di sekitar pekarangan rumah maupun kebun- kebun milik warga.

Permasalahan itu dibahas warga di lingkunga RT, dusun hingga dibawa ke tingkat desa dan aneka pertemuan lainnya seperti pengajian. Tujuan dari pembahasan atas masalah tersebut adalah terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat. Untuk mencapai tujuan tersebut dan menindaklanjuti pembicaraan, perwakilan warga melakukan studi banding ke beberapa desa yang telah berhasil menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Muara dari pembahasan itu adalah warga ingin adanya regulasi yang bisa mengikat semua warga demi mencapai tujuan.

Regulasi yang berkenaan dengan kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah dibuat pada lingkup dusun dan Kepala Desa  ikut  menandatangani  sebagai  pihak  yang  mengetahui. Semua   dusun   memiliki Peraturan   Kepala   Dusun   tentangKebersihan Lingkungan Masyarakat dan Pengelolaan Sampahdan yang berbeda adalah pada tingkat implementasi yang disesuaikan dengan situasi dan kemampuan warga dusun. Contoh: Peraturan Kepala Dusun Capar Nomor 1 Tahun 2016 tentang Kebersihan Lingkungan Masyarakat dan PengelolaanSampah ditetapkan tanggal 1 Desember 2016.

Peraturan Kepala Dusun (Perkadus) ini menetapkan: petugas pengelolaan sampah dan besarnya iuran warga setiap RT; petugas pengangkut  sampah  setiap  RT  mengambil  sampah  rumah tangga ke TPS 2 kali per minggu; biaya pengangkutan sampah ditanggung  setiap  RT;  setiap  rumah  tangga  dipungut iuran sebesar Rp 7.000 yang digunakan untuk biaya pengangkutan sampah Rp 5.000 dan kas RT Rp 2.000.

Pemerintah desa bertanggung jawab untuk menyediakan lahan dan membangun fasilitas Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Lahan yang disediakan untuk membangun TPS adalah tanah desa. Setiap desa disediakan satu TPS, berarti pemerintah desa menyediakan 5 TPS.   Di samping itu pemerintah desa juga menyediakan gerobak sampah untuk setiap RT (ada 21 RT) guna mengangkut sampah dari rumah tangga sampai TPS.

Gambar gerobak sampah milik setiap RT (Dokumen pribadi, April 2017)

Biaya yang dikeluarkan untuk membayar petugas angkut sampah berkisar Rp 60.000 – 70.000 per RT. Dan petugas mengambil sampah dari rumah tangga untuk ditaruh di TPS sebanyak 2 kali seminggu. Namun masalah sampah belum selesai kalau hanya sampai di TPS. Masalah utama pengelolaan sampah adalah setelah sampah sampai TPS dusun terus dikemanakan. Sementara untuk mengangkut sampah dari TPS dusun ke TPA harus bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Wonosobo dan untuk mengangkut sampah setiap dusun harus membayar Rp 350.000 kepada petugas DPU setiap kali angkut.

Dengan biaya angkut sebesar itu, maka baru ada 2 dusun yang mampu bekerjasama dengan DPU, yaitu dusun Kabutuh dan Kusuma  Baru.  Petugas  dari  DPU  mengambil  sampah  dari  2

TPS kedua dusun itu masing-masing sebanyak 2 kali sebulan. Kedua dusun itu memiliki warga dan RT-nya cukup banyak yang memungkinkan dana yang terkumpul cukup banyak sehingga mampu membiayai pengangkutan sampah ke TPA. Kemampuan dusun membiayai pengakutan sampah dari TPS ke TPA yang tergantung dengan jumlah rumah tangga di masing- masing desa dengan iuran rumah tangga yang seluruh dusun sama besarnya.

Sementara  dusun-dusun  yang  lain  belum  mampu  mengikuti dusun Kabutuh dan Kusuma Baru sehingga pengatasan masalahsampah adalah dengan cara sampah daun dan bekas sayurandiambil warga atau petugas sampah untuk dijadikan pupuk disawah dan sampah lainnya dibakar. Sampah yang bisa menjadipupuk didaur ulang dibawa ke sawah dan yang lainnya dibakarsehingga dapat terhindarkan terjadinya penumpukan sampahdi TPS.

Pengaturan ternak unggas

Masalah  lain  soal  lingkungan  adalah  kotoran  ternak  unggas dimana-mana  dan  aneka  tanaman sayuran  di  sekitar  rumah mengalami   kerusakan.   Untuk   mengatasi   masalah   ini   dan berdasarkan aspirasi   yang   hidup   dari   warga   masyarakat, pemerintah desa mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 06 Tahun 2016 tentang Aturan Pemeliharaan Unggas tertanggal 27 Desember 2016. Peraturan itu menetapkan bahwa (1) masyarakat yang memelihara unggas harus membuat kandang dan mengandangkan unggas peliharaannya; (2) masyarakat yang dengan sengaja melepas/meliarkan peliharaannya (unggas) akan dikenakan sanksi/denda; (3) sanksi bagi masyarakat yang melepaskan peliharaannya terdiri dari (a) masyarakat yang peliharaannya lepas dengan tidak sengaja akan diberi teguran/ peringatan; (b) masyarakat yang dengan sengaja melepaskan peliharaannya (unggas) akan dikenakan denda sesuai harga unggas tersebut/maksimal Rp 100.000 (seratus ribu rupiah); dan (4) hasil denda sesuai aturan masuk ke dalam kas RT setempat.

Gambar kandang ternak unggas milik warga (Dokumen pribadi, April 2017)

Dengan terjadinya proses pengandangan ternak unggas milik warga, maka tidak ada ternak unggas yang berkeliaran. Kotoran unggas tidak tercecer kemana-mana dan demikian juga tanaman warga dapat terawat dan tumbuh dengan baik. Dampak positif lain adalah tumbuhnya kesadaran warga untuk semakin rajin menanam tanaman sayuran baik di lahan pekarangan maupun dalam  pot  atau  polibag.  Warga  yang  pekarangannya  tidak ada ruang kosong menanam tanaman sayuran dalam pot atau polibag.

Sosialisasi yang panjang

Meskipun persoalan lingkungan yang kotor dan tidak rapi dirasakan dan dibicarakan oleh warga masyarakat dari tingkat RT, namun untuk membuat pengaturan dan Perkadus atau Perdes ditetapkan dan diberlakukan memerlukan waktu lama untuk melakukan proses sosialisasi secara terus menerus. Sosialisasi dilakukan melalui banyak forum, yaitu pertemuan RT dan RW hingga pertemuan di tingkat desa, pertemuan ibu- ibu dasa wisma dan PKK, kelompok tani, kelompok ibu-ibu UMKM, dan pengajian-pengajian.

Selama   memproses   draft   peraturan,   sosialisasi   dilakukan selama lebih dari 6 bulan efektif. Ketika kami berkunjung di desa Ngadikusuman pada tanggal 24 Februari 2017 Perkadus tentang Kebersihan Lingkungan Masyarakat dan Pengelolaan Sampah dan Perdes tentang Aturan Pemeliharaan Unggas sudah diberlakukan. Sosialisasi itu perlu dilakukan secara konsisten dan memerlukan waktu relative panjang guna membangun kesadaran warga perlu menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih dan membentuk perilaku menaruh sampah di tempat yang disediakan dan memelihara ternak secara lebih tertata. Dan sebagaimana diabadikan dengan foto-foto di atas, masyarakat desa Ngadikusuman berhasil menciptakan lingkungan yang bersih. Perilaku mereka semakin terbiasa untuk tidak membuang sampah di sungai dan saluran air dan memelihara ternak unggas di kandang.

 

Akhirnya……..

Warga desa Ngadikusuman yang termasuk wilayah kabupaten yang berpredikat daerah termiskin di Jawa Tengah, mempunyai kearifan dan kecerdasan tersendiri. Mereka dengan caranya sendiri menumbuhkan kesadaran dan perilaku menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat serta produktif. Memecahkan suatu masalah tidak harus ditempuh dengan cara yang seragam. Segala sesuatu dapat tumbuh dari kesadaran warga setempat.

Dengan kearifannya warga desa itu telah memberikan pelajaran yang sangat bermakna dalam hal menciptakan  kebersihan dan kesehatan lingkungan melalui pengelolaan sampah dan pemeliharaan ternak. Belajar hidup mengelola masyarakat tidak hanya kepada cerdik cendekia. Kepada siapapun kita bisa belajar karena setiap orang pada dasarnya memiliki kecerdasan dan kearifan tersendiri. Menghargai keunikan pribadi dan kearifan lokal serta menghindari penyeragaman secara kaku formalistik merupakan kearifan tersendiri dalam mengembangkan masyarakat mencapai kesejahteraannya.

Kita bisa belajar dari warga desa Ngadikusuman………dan selamat belajar………

 Gambar Kantor Desa Ngadikusuman, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo