8 WHATSAPP PEDULI, AKTIF DAN BERMAKNA

Ignatius Dadut Setiadi – Ka. Sekretariat Universitas dan Anggota TSI

Perkembangan    teknologi    komunikasi    semakin    pesat ini  terbukti  dengan  manusia  semakin  cepat menerima informasi  yang  banyak  digunakan  baik  perorangan  maupun kelompok untuk saling memberikan informasi. Whatsapp atau orang sering menyebut WA akhir-akhir ini sering dipergunakan banyak  orang  bahkan  sekarang  mengalahkan  BBM  (Black Berry Massanger) dalam menyampaikan dan menerima baik komunikasi antar pribadi dan komunikasi antar kelompok serta komunikasi pribadi kepada kelompok.

Penulis  ternyata  merasakan  manfaatnya  dalam  penggunaan WA tersebut terutama saat Panitia Refleksi Karya 2017 untuk seluruh pegawai Unika Soegijapranata yang dilaksanakan pada 24 –25 Februari 2017 bertempat di Wonosobo. Panitia dengan segala  aktivitasnya  mempersiapkan  kegiatan  tersebut  hanya satu bulan, ini terbukti dengan gerak cepat seluruh panitia untuk segera bekerja sesuai dengan tugasnya. Ketika selesai rapat perdana, ketua panitia (Ibu Berta) segera membuat WA Group Panitia Refleksi Karya. Maka sejak WA group tersebut aktif, informasi yang berisi pertanyaan, ungkapan dan pendapat tentang  persiapan  Refleksi Karya  semakin  tidak  terbendung. Bahkan  suatu  hari  penulis  mencoba  membuka  WA  tersebut pada sore hari di layar HP sudah tertulis 126 pesan yang masuk.

Malam hari menjelang tidur, penulis mencoba melihat satu persatu informasi yang tertulis ternyata sungguh diluar dugaan, para  panitia  yang  terlibat  hampir  semuanya  menyampaikan informasi  bahkan  penulis  membayangkan  terjadi  rapat  di dunia maya. Setelah membaca pesan yang berada di WA group tersebut walaupun tidak selesai, ada seorang panitia yang penulis amati dia selalu menulis kalimat-kalimat yang intinya memberikan motivasi dan solusi kepada teman-teman panitia yang lain bila mengalami kesulitan atau ketidaktahuan baik tugas maupun tindakan apa yang harus dilakukan. Tetapi ada juga  beberapa  teman  yang  sering  menulis  kejadian-kejadian lucu yang kadang tidak ada hubungannya dengan tugas sebagai panitia. Bahkan ada juga yang menyatakan ketidakpuasan terhadap kerja teman panitia lain. Dari pesan yang tersampaikan dalam WA penulis mencoba mengamati bahwa hampir semua teman-teman yang duduk dalam kepanitiaan mempunyai sikap kepedulian terhadap seluruh kegiatan dan pergerakan panitia dalam mempersiapkan Refleksi Karya tersebut.

Sikap peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif perhatian keadaan sekitar. Sebuah sikap yang selalu melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi disekitar kita. Orang yang peduli adalah orang orang yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan disekitarnya. Ketika sikap peduli muncul dalam diri manusia tersebut niscaya dalam diri manusia tersebut dipenuhi oleh empati dan bela rasa terhadap orang lain dengan aktif berbagi dan memberi, serta menunjukkan solidaritas dan kerjasama positif dengan membantu dan mendukung. Dengan membangun kepedulian kita akan mampu mendengarkan,  mengerti  jika seseorang membutuhkan bantuan dan memberikan dukungan bagi sebuah komunikasi tanpa mengharapkan imbalan atau harapan.

Nampaknya sikap ini menjadi “wabah” di dalam diri panitia, ini dibuktikan dengan masing-masing bidang dalam kepanitian meskipun mempunyai tugas masing-masing masih memberi dan membagikan usulan-usulan kepada bidang lain jika mengalami kesulitan bahkan sampai memberikan solusi atau jalan keluarnya. Ternyata diawali dengan sebuah kepedulian ini kerja panitia menjadi semakin proaktif dan menjadikan seluruh kerja panitia dari persiapan sampai pelaksanaan semakin bermakna bagi para peserta Refleksi Karya. Semoga tema karya tahun 2017 ini “Peduli, Aktif dan Bermakna” tidak hanya sebuah kalimat yang hanya diucapkan oleh warga Unika Soegijapranata tetapi benar-benar diwujudkan dalam sebuah tindakan bagi sesama baik itu mahasiswa, teman sekerja, keluarga dan masyarakat yang membutuhkan uluran bantuan dengan membantu-berbagi-memberi-terlibat.

Marilah di lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan berusahalah menjadi orang berarti, orang yang turut menentukan, berdasarkan prinsip-prinsip keimanan dan nasionalisme. Jangan hanya turut gelombang amem…mlempem. Kita tidak boleh diam, thengak-thenguk, duduk berpangku tangan membiarkan orang lain mengurus kehidupan bangsa dan negara. Berbuat itu bukan nanti atau besok melainkan sekarang. Iman itu harus diwujudkan dalam tindakan…….(Mgr. Alb. Soegijapranta, SJ)