7 WONOSOBO, KEBERAGAMAN DAN TOLERANSI

Hironimus Leong, S.Kom., M.Kom – Korlap Refleksi Karya Unika Soegijapranata 2017

Berbicara tentang nilai-nilai toleransi, Wonosobo adalah salah satu tempat dimana nilai itu dapat dinarasikan dengan sangat indah. Dalam beberapa kunjungan sebelum dan selama pelaksanaan acara, saya sebagai bagian dari tim dan kepanitiaan acara Refleksi Karya Unika tahun 2017, menemukan semua itu dalam bentuk simbolis yang sangat berkesan.

Kunjungan pertama tanggal 31 Januari 2017, tim Unika Soegijapranata bertandang ke kantor BAPPEDA di pusat kota Wonosobo, tepatnya daerah alun-alun. Sejumlah kepala desa dan camat hadir dalam pertemuan tersebut guna membahas tentang pelaksanaan  acara  Refleksi Karya  Unika,  hal-hal  yang  harus dipersiapkan dan dikoordinasikan sebelum pelaksanaan acara dimulai. Tentunya kunjungan tersebut harus berlanjut dengan acara survey langsung ke beberapa wilayah di Wonosobo; ada 2 desa  utama yang saya kunjungi di wilayah Kecamatan Kertek: Reco dan Ngadikusuman.

Saya  diantar  oleh  bapak  Karyanto  dan  bapak  Suparji,  dua orang pengurus wilayah desa Reco, kecamatan Kertek. Selama perjalanan dari pusat kota menuju tempat yang akan disurvey, keduanya menyampaikan berbagai hal tentang wilayah Wonosobo mulai dari kehidupan sosial masyarakat, budaya dan agama, dan tentunya keindahan alam yang dimiliki Wonosobo. Salah satu “pengumuman” yang disampaikan oleh kedua pengurus wilayah tersebut adalah tingkat pendidikan warga yang hanya mengenyam pendidikan rata-rata 6 tahun saja.

Salah  satu  cerita  menarik  disampaikan  oleh  bapak  Suparji ketika melintasi kilometer 17 jalan raya Wonosobo; ketika itu posisi yang dilewati adalah taman doa Taroanggro. Bapak ini menceritakan tentang awal pendirian taman doa dan gua Maria Taroanggro tahun 2011 di wilayahnya. Sebagai tempat wisata religius bagi umat Katolik, ternyata gua Maria Taroanggro berada  di  wilayah  penduduk  dengan mayoritas Islam. Gua Maria tersebut diresmikan sekitar tahun 2013, ditandai dengan kegiatan penghijauan bersama seluruh tokoh masyarakat lintas agama sebagai simbol kerukunan masyarakat di sana.

     

Taman Doa dan Gua Maria Taroanggro

Acara makan siang saya berlangsung di rumah bapak Karyanto dengan jamuan yang sangat sederhana. Di rumah bapak Karyanto, terdapat beberapa ornamen Islam bernafaskan ayat Al’Quran yang sangat kental di bagian depan rumah. Namun ketika masuk lebih dalam, saya melihat kitab suci dan buku nyanyian rohani di sebuah lemari. Bapak Karyanto mengatakan bahwa keluarganya adalah Indonesia kecil; mereka lahir dan dibesarkan dalam perbedaan. Keluarga dari ayahnya adalah pemeluk Islam yang sangat taat, namun keluarga dari ibunya pemeluk agama Kristen sejati yang banyak terlibat dalam kepengurusan gereja di beberapa wilayah. Sebagian lagi dari keluarganya adalah pengurus komunitas Hindu Wonosobo.

Sebelum beranjak untuk survey ke desa Ngadikusuman yang tidak jauh dari wilayah Reco, bapak Karyanto berpesan kepada saya bahwa kegiatan Refleksi Karya yang diselenggarakan oleh Unika hanya berlangsung selama beberapa jam saja di wilayah Wonosobo, kemudian acaranya akan berakhir bahkan mungkin akan dilupakan selamanya; namun bagian yang paling penting adalah  mendapatkan  “sedulur”  baru  dalam  persaudaraan. Pesan sederhana namun penuh makna.

Kunjungan saya ke desa Ngadikusuman bertemu dengan kepala desa, bapak Safuan. Dalam pembicaraan dan koordinasi, bapak Safuan memaparkan laporan statistik terkait warga masyarakatnya. Tahun 2015, Wonosobo diberi predikat sebagai daerah yang paling miskin di Jawa Tengah karena angka kemiskinan mencapai 22,08 persen. Bahkan bapak Safuan menjelaskan bahwa kemiskinan Wonosobo jauh lebih buruk lagi karena berada di bawah angka kemiskinan seluruh Jawa Tengah sebesar 11,44 persen.

Dari 3470 jiwa penduduk desa Ngadikusuman, hanya 18 penganut agama Kristen dan 2 penganut Budha, selebihnya beragama Islam; namun kehidupan bersama mampu dikelola dengan baik di wilayah ini terlebih untuk mengentaskan kemiskinan. Hal yang kemudian saya buktikan sendiri ketika Unika bertemu warga dalam acara sarasehan di kantor desa, dimana warga yang hadir dari latar belakang yang berbeda tersebut, duduk bersama untuk menuangkan gagasan membangun wilayahnya menjadi lebih baik.

Kunjungan  saya  yang  kedua  berlangsung  pada  tanggal  21 Februari 2017. Saya mengunjungi sejumlah wilayah di kecamatan Wulungsari. Sebuah simbol eratnya persaudaraan warga, saya temukan di desa Selomerto. Terdapat dua bangunan tempat ibadah; masjid yang sangat besar dan gereja kecil yang hanya berjarak beberapa langkah kaki. Di antara kedua bangunan tempat ibadah, berdiri kantor desa Selomerto, seakan memberi pesan bahwa negara hadir dan memberikan jaminan serta melindungi kemerdekaan beragama bagi warganya.

 

Masjid dan Gereja yang hanya berjarak beberapa meter di daerah
Selomerto, Wulungsari – Wonosobo

Tanggal 24-25 Februari, pelaksanaan Refleksi Karya Unika berlangsung di 12 desa di Kabupaten Wonosobo. Acara pertemuan antara peserta Refleksi Karya dengan aparat pemerintah Kabupaten Wonosobo di malam hari berlangsung di pendopo alun-alun, acara malam budaya dengan suguhan tarian khas dan musik daerah. Alat musik khas Bundengan, alat tradisional yang terbuat dari ijuk mampu menghasilkan harmoni lagu yang khas, mengiringi tarian Lengger yang menjadi Warisan budaya luhur.

   

Alat musik Bundengan dan Tarian Lengger

Tarian Lengger adalah hasil akulturasi budaya Hindu, Budha dan Islam yang mengandung arti “elinga ngger”, ingatlah pada Sang Pencipta dengan berbuat baiklah kepada sesama. Makna kemanusiaan yang terkandung di dalam tarian ini seakan mengingatkan kembali kepada semua warga Unika yang hadir pada pesan dari Mgr. Soegijapranata bahwa “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar”

Tanggal 25 Februari, selesai sudah acara Refleksi Karya Unika. Saat perjalanan pulang ke Semarang, Wonosobo diguyur hujan yang sangat deras dengan limpahan air dan udara yang sangat sejuk. Saya merasa bahwa ketika Tuhan menciptakan tanah ini, Dia mengalirkan air dan udara sebagai sumber kehidupan di tengah masyarakatnya yang sangat majemuk. Tuhan sedang berpesan kepada masyarakat Wonosobo untuk tetap menjaga keberagaman dan toleransi sebagai bagian dari cara menjaga air dan udara yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri.

Sesungguhnya kemiskinan hanyalah masalah peringkat, kuantitas dan pengukuran semata yang tidak menggambarkan identitas diri. Kualitas dan kekayaan daerah ini tercermin dari cara hidup, tingkat toleransi masyarakat terhadap keberagaman, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sesuatu yang lebih agung daripada sekedar peringkat di laporan tahunan pemerintah yang dipublikasikan di media masa.

Wonosobo, 25 Februari 2017