Pendahuluan

MENGHADIRKAN NILAI DARI TEMA KARYA  KE REFLEKSI KARYA

Theodorus Sudimin (Editor) Ketua The Soegijapranata Institute

Tema Karya

Kegiatan pengolahan dalam bentuk sosialisasi, internalisasi, dan implementasi dari nilai-nilai Soegijaranata merupakan upaya membangun jati diri dan budaya Universitas. Beragam kegiatan untuk maksud   tersebut   telah   banyak   dilakukan baik dengan sasaran dosen, tenaga kependidikan maupun mahasiswa. Cantholan  dari semua kegiatan ini adalah rumusan Tema Karya yang disusun untuk setiap tahun akademik.[1]  Tema Karya merupakan rumusan nilai-nilai yang digali dari dokumen- dokumen yang ditulis oleh Mgr. Soegijapranata dan karya- karya selama hidupnya. The Soegijapranata Institute (TSI) yang melaksanakan tugas tersebut. Satu dari sekian banyak kegiatan yang merupakan implementasi dari Tema Karya adalah Refleksi Karya (RK). RK merupakan program rutin tahunan yang diselenggarakan Unika Soegijapranata yang diikuti oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan.

Tema Karya 2016/2017

Tema Karya tahun 2016/2017 adalah “Peduli, Aktif, dan Bermakna”.    Menurut    Kamus    Besar    Bahasa    Indonesia (KBBI) “peduli” berarti “mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan”. Sementara itu “aktif” berarti “berperan, bersungguh-sungguh, getol, berkobar, bergairah, antusias, dinamis,  membara,  beraksi,  tangkas,  tanggap”.  “Bermakna” berarti “mempunyai (mengandung) arti penting (mendalam)”. Peduli merupakan bentuk perhatian yang berawal dari hati.

Kepedulian menjadi bermakna apabila dapat diwujudkan dalam berbagai aktivitas sehingga dapat memberikan makna bagi dirinya, orang lain, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi tiga kata itu merupakan sebuah rangkaian yang berawal dari gerakan batin atau hati yang kemudian mendorong menjadi sebuah aktivitas atau kegiatan dan akhirnya memberikan makna atau arti bagi siapapun yang menjadi sasaran aktivitas itu.

Mgr. Soegijapranata melalui tulisan-tulisan dan tindakan- tindakannya sangat memperlihatan penghayatan dan perwujudan Tema Karya itu. Dalam sebuah kesempatan dia mengajak umat Katolik “Marilah di dalam lingkungan tempat tinggal/pekerjaan kita menjadi orang yang berarti, orang yang turut menentukan, berdasarkan prinsip-prinsip kita; jangan hanya  turut  gelombang,  amem…..mlempem.”  (Soegijapranata, 1960). Kita harus aktif dan tidak boleh diam berpangku tangan “tidak usah menonjol-nonjolkan, yang penting ialah bahwa kita tidak diam saja didalam segala hal”.

Selama menjadi imam dan Uskup dia peduli dan aktif berbuat demi  terjaganya  martabat  manusia.  Demi mencegah  korban perang yang semakin banyak, dia mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan    perundingan    gencatan    senjata    dalam perang Oktober 1945 di Semarang. Dia terlibat langsung dalam penanganan para korban perang dalam situasi keamanan kacau, tidak adanya bahan makanan dan fasilitas kesehatan.

Kepindahan tempat tinggal dan pusat pelayanan dari Semarang ke Yogyakarta 1947–1949 seiring dengan berpindahnya ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta, juga merupakan bukti kepeduliannya kepada Negara Republik Indonesia. Dan masih banyak hal yang dilakukan oleh Mgr. Soegijapranata baik dalam skala ekonomi keluarga, organisasi yang memperlihatkan sikap pedulinya.

Kepedulian  dan  keaktifan  Mgr.  Soegijapranata  dalam berbagai  persoalan  hidup  keseharian  masyarakat  dilandasi oleh keyakinannya bahwa manusia harus terus menerus berupaya untuk menyempurnakan diri, sehingga manusia yang bermartabat dan ciptaan yang serupa dengan Tuhan sungguh- sungguh dapat terwujud. Penanganan masalah kesehatan, kemiskinan, pendidikan bertujuan akhir pada terhormatnya manusia yang bermartabat.

Perhatiannya kepada manusia dilandasi oleh sebuah pandangan terhadap manusia. Manusia dipandang lebih dari sekedar subyek otonom melainkan sebagai ciptaan Tuhan yang sesuai dengan rupa dan gambarNya (Kej 1:26). Berkat penjilmaanNya menjadi manusia,  manusia  dipanggil  untuk  kembali  ke hariabanNya sebagai yang telah ditebus dosa-dosanya. Jadi perjuangan manusia untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraannya selama hidup di dunia ini berorientasi kepada kehidupan abadi. Janji kehidupan abadi tidak boleh digunakan sebagai kedok untuk tidak berjuang memperjuangkan kesejahteraan di dunia melainkan diberinya makna transenden eskatologis. Perjuangan meningkatkan kesejahteraan merupakan upaya memanusiakan manusia agar semakin manusiawi, yaitu sebagai makhluk yang bermartabat dan sesuai dengan rupa dan gambar Sang Pencipta. Dalam  gambaran  yang  kurang  lebih  sama,  Islam  menyebut manusia adalah wakil Tuhan di muka Bumi (Abu Hapsin, 2017).

Refleksi Karya 2016/2017

Dengan Tema Karya “Peduli, Aktif, dan Bermakna” kita diajak untuk mengimplementasikannya melalui kegiatan Refleksi Karya dan kegiatan-kegiatan lanjutannya. Refleksi Karya tahun 2016/2017 berlangsung di wilayah Kabupaten Wonosobo tanggal 24-25 Februari 2017. Kita dipanggil tidak untuk mengajarkan hal-hal yang transenden eskatologis melainkan hal-hal konkret keseharian duniawi demi peningkatan kesejahteraan melalui bidang-bidang keilmuan yang menjadi keahlian kita. Dengan Tema  Karya  tersebut,  Refleksi  Karya  ini  bertujuan  (1)  Para dosen dan tenaga kependidikan memiliki sikap peduli terhadap aneka persoalan masyarakat yang menghambat tercapainya kesejahteraan hidup masyarakat Wonosobo; (2) Para dosen dan tenaga kependidikan memiliki kesadaran perlunya bertindak untuk  ikut  serta menangani  berbagai  permasalahan  hidup masyarakat Wonosobo sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki Refleksi Karya diawali dengan peserta secara kelompok melakukan kunjungan ke suatu desa (ada 12 desa yang dikunjungi oleh 12 kelompok) untuk melakukan pengamatan terhadap kondisi umum desa secara singkat dan melakukan sarasehan dengan aparat desa dan perwakilan warga. Keduabelas desa itu adalah Reco, Ngadikusuman, Bojasari, dan Kapencar yang keempat desa itu termasuk Kecamatan Kertek, Desa  Tlogo  dan  Maron  masuk  wilayah  Kecamatan  Garung, Desa Wulungsari, Bumitirto, Kadipten, dan Kaliputih termasuk wilayah Kecamatan Selomerto, Desa Krasak dan Kalibeber Kecamatan   Mojotengah.   Masing-masing  kelompok   diajak untuk merumuskan hasil kunjungan dan sarasehan untuk mendapatkan gambaran umum kondisi desa dan potensi yang dimiliki.

Selanjutnya pada malam harinya diadakan pertemuan di pendopo kabupaten   seluruh peserta Refleksi Karya bersama aparat pemerintah kabupaten yang dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati diadakan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Universitas Katolik Soegijapranata dan pertunjukan aneka kesenian. Nota Kesepahaman itu merupakan legalisasi kerjasama antar dua institusi dan akan menjadi payung hukum aneka kegiatan lanjutan dari Refleksi Karya. Pertunjukan kesenian menampilkan aneka seni tradisional khas Wonosobo, yaitu musik Bundengan dan tari Lengger.

Kegiatan pada hari berikutnya adalah kekhasannya Refleksi Karya yaitu sesi pengolahan reflektif. Sesi ini diawali dengan pemaparan gambaran dan kondisi kabupaten Wonosobo oleh Wakil Bupati H. Agus Subagyo, M.Si dan Romo Alexius Dwi Aryanto Pr. Romo Dwi Aryanto yang merupakan Ketua Komisi Pengembangan   Sosial   Ekonomi   (PSE)   Keuskupan   Agung Semarang menyajikan landasan teologis keterlibatan social Gereja sebagaimana tertuang dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan  berbagi  pengalaman  Komisi  PSE  dalam  mendampingi dan memberdayakan perekonomian masyarakat. Keterlibatan Gereja dalam mengatasi persoalan-persoalan masyarakat ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama (bonum commune) dan keluhuran martabat manusia dengan mendasarkan pada prinsip subsidiaritas dan solidaritas.

Refleksi selanjutnya menyangkut hal-hal yang dapat dikerjakan oleh civitas akademika Unika Soegijapranata dan dapat ditawarkan kepada pemerintah Kabupaten Wonosobo di masa- masa yang akan datang sebagai realisasi kerjasama antar kedua institusi.

Pengalaman keikutsertaan sebagai peserta atau sebagai panitia oleh beberapa orang disajikan dalam sebuah tulisan. Buku ini menyajikan tulisan-tulisan tersebut dengan harapan dapat dibaca dan dilihat kembali di masa-masa mendatang.  Buku ini sekaligus memiliki fungsi sebagai media berbagi pengalaman beberapa peserta Refleksi Karya   melalui tulisannya masing-masing   sehingga   harapannya   peserta   yang   lain   maupun pembaca buku pada umumnya dapat diperkaya.

Selamat membaca…..Berkah Dalem

April 2017

Editor

 


  1. Perjalanan Tema Karya Unika Soegijapranata dari waktu ke waktu adalah: 2010/2011 Kasih akan Tanah Airku, 2011/2012 Keberagaman adalah Kurnia, 2012/2013 Sekolah Hati Pijari Negeri, 2013/2014 Integritas untuk Kemanusiaan (Integrity for Humanity), 2014/2015 Membangun Kemanusiaan (Nurturing Humanity), 2015/2016 Ugahari Mandiri, dan 2016/2017 Peduli, Aktif, dan Bermakna