2 Prof Budi itu Mentor dan Pemimpin Hebat

Oleh: Andreas Lako, Guru Besar Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat.

Tanpa disadari, tanggal 31 Agustus 2017 ternyata merupakan hari terakhir Prof. Dr. Ir. Yohanes  Budi Widianarko,   M.Sc (selanjutnya disingkat: Prof Budi) memimpin Unika Soegijapranata sebagai Rektor. Setelah memimpin Unika Soegijapranata   (selanjutnya disingkat Unika) selama dua periode, Ia akan menyerahkan tampuk kepemimpinan sebagai Rektor kepada Prof. Dr. F. Ridwan  Sanjaya.

Mengapa masa kepemimpinan Prof Budi sebagai Rektor dirasakan begitu cepat berlalu? Jawabannya, karena selama 8 tahun memimpin Unika, Prof Budi memimpin dengn penuh semangat, dedikasi dan determinasi tinggi. Ia telah melakukan banyak terobosan baru dan menghasilkan banyak kemajuan yang signifikan. Unika di  bawah  kepemimpinan Prof Budi mengalami transformasi dan lompatan kemajuan yang besar dalam sejumlah aspek. Berbagai apresiasi dan pengakuan dari berbagai pihak terhadap sejumlah pencapaian  Unika dalam beberapa  tahun  terakhir menunjukkan bahwa Prof Budi telah berhasil memimpin dan membawa Kampus Ungu ini ke level yang lebih tinggi. Bahkan, menjelang bulan-bulan terakhir masa jabatannya sebagai  Rektor, Prof Budi terlihat  justru kian bersemangat. Ia masih memikirkan dan menyiapkan skenario untuk memajukan Unika ke depan.

Singkatnya, dibenak saya, figur Prof Budi sebagai Rektor Unika seolah tidak tergantikan. Sangat mungkin pikiran bawah sadar itu muncul karena selama tujuh tahun terakhir, saya menjadi bagian dari anak buahnya. Baik dalam kapasitas sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (2008-2012) maupun sebagai Kepala LPPM (2013-2017),  saya sering berinteraksi dan berdiskusi serius dengan Prof Budi. Selama interaksi tersebut, ada banyak kenangan menarik yang sulit terlupakan. Kesan bahwa Prof Budi itu pemimpin yang hebat sangat kuat melekat dalam benak saya. Selain itu, pikiran bawah sadar itu mungkin juga karena Prof Budi itu sesungguhnya juga adalah mentor terbaik saya sejak 1996. Beliau banyak berperan  dalam perjalanan karir akademik saya. Hal inilah yang mungkin juga membuat saya tak menyadari bahwa masa kepemimpinan Prof Budi sebagai Rektor akan segera berakhir.

Tulisan singkat ini mengisahkan proses interaksi saya dengan Prof Budi dan kesimpulan saya tentang gaya kepemimpinan Prof Budi sebagai Rektor maupun sebagai kolega.

Kenangan menjadi “anak buah” Prof Budi

Proses interaksi pertama saya sebagai “anak buahnya” Prof Budi terjadi ketika saya dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) periode  2008-2012.  Selama menjadi Dekan, saya sering berdiskusi dan bahkan  berdebat  serius dengan  Prof Budi sebagai  Rektor  (2009-2013) menyangkut ide-ide pengembangan FEB dan Unika Soegijapranata.

Hal yang masih sangat membekas dalam ingatan saya adalah pada awal kepemimpinan sebagai Rektor, beliau menyampaikan rencana untuk menaikan UPP, UKP dan uang SKS bagi mahasiswa baru Prodi Akuntansi dan Prodi Manajemen dengan besaran  kenaikan yang signifikan. Permintaan itu disertai  dengan sejumlah janji manis akan membenahi sarana  dan prasarana di FEB. Sebagai dekan, tentu saja saya menolak permintaan itu karena mayoritas dosen  FEB  menolaknya. Kami takut kenaikan itu bisa menjadi bumerang.

Namun Prof Budi tak pantang menyerah. Beliau terus  gigih meyakinkan saya dengan berbagai alasan yang rasional yaitu kenaikan itu sangat perlu dan mendesak demi membawa FEB dan Unika ke arah yang lebih baik. Saya akhirnya menyetujuinya. Saya berusaha  menyakinkan anggota FEB untuk mendukung permintaan Rektor tersebut. Selama menjadi dekan FEB, mungkin lebih dari 2 kali Prof Budi “memprovokasi ” saya untuk menyetujui skema kenaikan UPP dan UKP mahasiswa baru yang dirancang Universitas. Karena alasannya logis dan disertai dengan komitmen untuk pembenahan sarana  dan  prasarana  perkuliahan serta mendukung pendanaan  untuk program-program pengembangan FEB, saya selalu mendukungnya.

Ternyata, keputusan Prof Budi menaikan UPP, UKP dan SPP mahasiswa sangat tepat dan efektif hasilnya. Keputusan tersebut  ternyata tidak berdampak negatif  pada  penurunan jumlah  mahasiswa  baru  seperti  dikuatirkan banyak teman saya, tapi malah justru sebaliknya. Prof Budi juga memenuhi janjinya untuk membenahi sarana dan prasarana perkuliahan dan lainnya. Semua ruangan perkuliahan akhirnya dilengkapi dengan AC, LCD, komputer, internet dan lainnya sehingga perkuliahan mulai nyaman. Fasilitas-fasilitas lain untuk dosen dan mahasiswa juga disediakan. Beliau juga selalu mendukung program-program pengembangan FEB yang kami usulkan dalam upaya memperkuat Triple Co (commitment, cohesiveness, competence) dan memasarkan FEB.

Hasilnya, sungguh luar biasa. Jumlah mahasiswa baru FEB yang pada  2008 masih sekitar 470 orang, mulai 2009 meningkat menjadi 510an orang. Selama tahun  2010-2012, jumlah mahasiswa baru terus  meningkat pesat  hingga mencapai 670-an orang pada 2012. Secara keseluruhan, jumlah mahasiswa FEB meningkat dari 1.800an orang (2009) menjadi 2.600an orang (2012) atau 41% dari mahasiswa Unika. Selain itu, ada banyak kemajuan  yang dicapai FEB selama periode 2009-2012 berkat perhatian, dukungan dan pendampingan Prof Budi sebagai Rektor. Beliau juga tak segan-segan mengundang saya berdiskusi terkait sejumlah ide pengembangan untuk FEB dan Unika sebelum dilontarkan dalam forum rapat. Saya merasa terbantu dan terarahkan oleh Prof Budi selama memimpin  FEB.

Proses interaksi kedua terjadi ketika saya diminta menjadi Kepala LPPM (2013-2017).  Karena merasa cocok dengan gaya kepemimpinan Prof Budi sebagai Rektor, maka pada September 2013 saya pun menerima tawaran beliau untuk menjadi Kepala LPPM. Padahal, sebelumnya saya berniat untuk istirahat dari jabatan struktural agar bisa memulihkan kesehatan. Ketika itu, harapan Prof Budi kepada saya sebagai Kepala LPPM baru sebenarnya tidak muluk-muluk. Beliau hanya ingin saya membenahi LPPM dan menjadikan LPPM sebagai ujung tombak untuk mewujudkan Visi, Misi, Tujuan dan tagline Unika yaitu talenta pro patria et humanitate.

Dalam rapat perdana dengan Rektor dan pawa wakil Rektor pada Februari 2014, Prof Budi melontarkan gagasan futuristik tentang “Universitas Generasi III” yang kuat keterlibatannya dalam mengatasi persoalan-persoalan regional atau daerah setempat. Menurut Prof Budi, kalau Unika bisa berperan aktif dalam isu-isu pembangunan daerah dan persoalan-persoalan masyarakat setempat maka hal tersebut justru akan menjadi nilai unggul bagi Unika.

Meskipun  beliau  tidak  secara  eksplisit meminta saya  untuk merealisir gagasan itu, namun saya justru terinspirasi. Gagasan tersebut mendorong saya memperbarui lagi Rencana Induk Penelitian (RIP) LPPM periode 2012-2017 dengan Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (RIPPM) LPPM 2015-2019  dengan fokus pada isu “Pengentasan Kemiskinan dan Peningkatan Kualitas Hidup” di Jawa Tengah. Saya pun mulai membenahi tatakelola  LPPM,  termasuk membenahi tatakelola  program Kuliah Kerja Nyata (KKN)  mahasiswa agar bisa berperan sebagai ujung tombak untuk mewujudkan  Unika sebagai Universitas Generasi III seperti dibayangkan Prof Budi.

Berbagai rintisan kerjasama dengan berbagai pihak eksternal, terutama dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten/Kota di Jateng, juga dilakukan dan selalu saya komunikasikan dengan Rektor. Prof Budi selalu mendukung dan sekaligus mengarahkan apabila ada  rintisan kerjasama baru. Beliau selalu bersedia menerima pihak-pihak eksternal mitra LPPM dan melakukan MOU dengan Gubernur, Bupati dan Walikota, serta sejumlah pihak apabila ada permohonan khusus dari saya. Apabila ada ide-ide baru untuk pengembangan penelitian dan pengabdian masyarakat, Prof Budi akan segera mengundang saya untuk makan siang bersama atau mendatangi saya ke LPPM untuk mendiskusikannya. Singkatnya, selama menjadi Kepala LPPM saya selalu berusaha untuk menerjemahkan dan mengeksekusi apa yang menjadi harapan Prof Budi meski tidak semuanya bisa terlaksana dengan baik.

Hasilnya, juga luar biasa! Berkat arahan dan dukungan yang terus-menerus dari Prof Budi, kinerja LPPM  semakin bagus. Pada tahun  2014,  Kluster Kinerja Penelitian  Unika Soegijapranata meningkat dari  Kluster Madya menjadi Kluster Utama nasional. Peringkat tersebut  terus dipertahankan pada 2016.  LPPM yang sebelumnya dikenal sebagai unit costs center dan unit defisit yang menggerus dana Unika, selama tiga terakhir telah menjadi revenue center dan unit surplus. Berkat pembenahan tatakelola KKN dan kerjasama yang baik dengan Pemerintahan Provinsi Jateng dan sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah yang diawali dengan MOU antara Rektor dengan Gubernur dan sejumlah bupati/walikota, selama 4 tahun terakhir tagline talenta pro patria et humanitate bagi Jawa Tengah semakin nyata dan  dirasakan  masyarakat. Pemerintah  daerah  dan  masyarakat Jateng, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Kendal dan Wonosobo mulai merasakan manfaat dari kehadiran Unika. Area penelitian dan pengabdian masyarakat Unika juga semakin luas.

Berbagai pembenahan dan pencapaian hasil oleh LPPM tersebut juga telah turut berkontribusi pada sejumlah pencapaian prestasi Unika dalam tiga tahun terakhir. Pengelolaan LPPM yang semakin baik berdampak positif pada peningkatan akreditasi program studi dan akreditasi institusi, kluster kinerja penelitian dan pengabdian, jabatan fungsional akademik dosen, sumber pendanaan untuk riset dan pengabdian masyarakat, pembentukan reputasi Unika sebagai universitas yang peduli pada masyarakat miskin dan lemah, serta semakin nyatanya tagline Unika “talenta pro patria et humanitate”… Harus diakui, Prof Budi sebagai Rektor Unika merupakan “dalang” dibalik berbagai pencapaian tersebut.

Prof Budi itu Mentor dan Pemimpin Hebat

Apa yang ingin saya sarikan dari cerita singkat di atas? Intisarinya adalah, di benak saya, Prof Budi itu adalah seorang mentor dan pemimpin yang hebat. Ia adalah seorang pemimpin strategis dan transformatif. Mengapa?

Dalam perspektif corporate leadership, Prof Budi itu memenuhi ciri-ciri khusus sebagai seorang pemimpin strategis   (Olson dan Simerson, 2015) karena: 1)  visioner (memiliki visi kepemimpinan yang jelas dan kuat untuk membawa pembaruan, perubahan dan kemajuan organisasi Unika); 2) direktif (mampu memberi arah yang jelas dan mengarahkan para bawahannya untuk mencapai suatu tujuan/sasaran organisasi); 3) inkubatif (memberi perhatian yang besar kepada peran anggota organisasi yang potensial dan bertalenta untuk berkembang dan berprestasi); dan 4) kolaboratif (selalu terlibat dan berpartisipasi aktif mendukung para bawahannya dalam mewujudkan suatu tujuan yang telah disepakati). Selama 7 tahun menjadi bawahannya, saya merasakan empat ciri utama kepemimpinan strategis (strategic leadership) tersebut melekat dalam diri Prof Budi.

Selain itu, gaya kepemimpinan Prof Budi juga memenuhi ciri kepemimpinan situasional  (conditional  leadership).  Apabila memiliki ide  bagus  yang bermanfaat  dan  akan  dampak positifnya bagi  Unika, Prof Budi akan mendatangi atau mencari bawahannya untuk mendengarnya bercerita (telling) dan meyakinkan bahwa gagasannya itu bagus dan layak diterima (selling). Setelah itu, biasanya beliau akan meminta bawahan yang dianggapnya sebagai sahabat untuk berpartisipasi aktif dalam mewujudkan gagasannya (participating). Ia juga akan mendelegasikan kewenangan pelaksanaannya kepada orang-orang yang dipercayanya (delegating) namun tetap  memonitor pelaksanaannya dan memastikan pencapaian hasilnya.

Beliau akan royal pujian terhadap bawahannya apabila hasil yang dicapai sesuai atau melampaui harapannya.

Saya juga  mencermati,  kepemimpinan Prof Budi itu  juga memenuhi empat unsur kunci kepemimpinan transformasional (transformational leadership). Keempat unsur tersebut  adalah: 1) management of meaning (mampu mengelola dan mewujudkan nilai-nilai dan  makna organisasi), 2) management of attention  (mampu mengelola curahan perhatian  dari atasan, bawahan dan kolega), 3) management of trust (mampu mengelola dan mewujudkan kepercayaan yang diberikan atasan atau kolega), dan 4) management of self (mampu mengelola diri sendiri sehingga bisa menjadi pemimpin yang baik dan berhasil). Selama memimpin  Unika, saya menilai Prof Budi telah  berhasil  mengelola empat  unsur kunci kepemimpinan tersebut.  Karena  itu,  Prof Budi layak disebut  pemimpin transformatif (transformative leader).

Apa ciri unik dari kepempinan Prof Budi? Selama berinteraksi dengan Prof Budi baik sebagai kolega maupun sebagai bawahannya selama 23 tahun terakhir, saya mencermati Prof Budi itu memiliki ciri-ciri kepemimpinan bawaan yang komplit. Ia supel dan mudah beradaptasi, memiliki banyak ambisi yang rasional, lembut tapi tegas, teguh dalam pendirian dan prinsip hidup namun toleran, memiliki kegigihan untuk mewujudkan sesuatu yang dianggapkan baik dan bermanfaat, percaya diri, dan bisa bekerjasama dengan siapapun yang ingin berkembang dan maju. Ia juga penuh perhatian kepada kolega, bawahan atau orang lain yang telah dikenalnya.

Prof Budi juga sesungguhnya seorang pemimpin yang religius yang memegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai kekatolikan dalam memimpin Unika maupun dalam berelasi dengan sesama. Hal itu bisa terlihat dari upaya beliau menggali kembali nilai-nilai kekatolikan dan nilai-nilai Soegijapranata pada awal kepemimpinan sebagai Rektor, dan kemudian mentransformasikannya menjadi nilai-nilai dasar dan utama organisasi Unika. Nilai-nilai tersebut kemudian diinternalisasikan ke dalam tatakelola dan budaya organisasi Unika Soegijapranata. Prinsip-prinsip kasih kepada sesama  juga seringkali mewarnai kebijakan dan keputusan kontinjen yang diambil Prof Budi sebagai Rektor dalam menghadapi kondisi-kondisi pelik.

Catatan penutup

Sebagai catatan penutup,  saya ingin menyimpulkan Prof Budi itu adalah mentor  dan  pemimpin yang hebat.  Civitas Unika Soegijapranata patut bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Prof Budi untuk bergabung dengan Unika sejak Juli 1994 hingga saat ini. Selama  23 tahun bersama Unika, Prof Budi telah banyak berbuat dan berjasa membangun dan membesarkan Unika. Selama menjadi Rektor  Unika periode 2009-2017,  Prof Budi telah berhasil  mentransformasikan  Unika dalam  sejumlah  aspek  kehidupan organisasi. Unika bertumbuh dan berkembang menjadi universitas besar yang bermakna dan relevan bagi Tanah Air, serta diakui banyak pihak. Saya berharap tren positif ini akan terus berlanjut pada masa kepemimpinan Prof Ridwan Sanjaya.

Saya juga berharap, setelah tidak menjadi Rektor dan kembali menjadi dosen bisa, Prof Budi tidak meninggalkan Unika dan pindah ke perguruan lainnya seperti yang terjadi pada sejumlah mantan rektor di perguruan tinggi lain. Saya percaya, Prof Budi tidak akan tergiur oleh tawaran-tawaran insentif yang menarik dari institusi lain. Sesungguhnya masih tersedia “lahan yang luas dan menantang” di Unika ini yang perlu digarap oleh Prof Budi pasca tidak lagi menjadi Rektor. Civitas Unika akan selalu mendukungmu, Prof Budi.

Terima kasih Prof Budi atas persahabatan dan mentoringnya selama menjadi Rektor Unika! Semoga Tuhan selalu memberkatimu.