8 Camar Diantara Dua Generasi Dosen

Oleh: Djoko Suwarno, Dekan Fakultas Tehnik

Perjalanan  karier penulis  di Unika dimulai tahun  1988 hingga saat ini hampir tiga puluh tahun. Selama itu, perjalanan Universitas Katolik Soegijapranata berulangkali dipimpin oleh  biarawan  dan tiga menjelang memasuki periode ke-empat oleh awam. Kedua pimpinan tersebut memiliki ciri masing-masing bagi dosen-dosen  yaitu sebagian besar dosen telah menjalankan ketiga darma. Namun sebagian besar dosen condong hanya menjalankan darma satu dan darma tiga sedangkan darma dua yaitu pengajaran dan pengabdian belum digeluti secara total. Mungkin dan bahkan boleh dikatakan benar, karena penulis sendiri menjalankan kebiasaan tersebut. Darma yang kedua meliputi penelitian dan pembawa materi di seminar adalah hal yang sangat berat dan melelahkan buat penulis mengerjakannya. Hal itu, tercermin dalam perjalanan jabatan fungsional penulis selama 18 tahun (di tahun 2006) baru sampai Lektor Kepala. Dalam perjalanan tersebut masih minim terhadap penelitian yang perlu dilakukan sebagai dosen.

Penulis tidak terlalu dekat dengan pak Budi Widianarko, sehingga perjalanan beliau dari dosen universitas tetangga walaupun sangat dekat dengan tempat tinggal penulis. Kami berhubungan diawali saat sang Camar (SC)  mengadakan  Focus  Group  Disccussion (FGD)  tentang  pencemaran sungai yang terkait dengan studi S3 tentang Cetul di Indonesia dan terus berlanjut hingga beliau menyelesaikan studinya hingga SC  berhasil juga meraih gelar Guru Besar (GB).  SC menempuh pendidikan lanjut pasca S1 di  negara  Belanda, dimana  SC memiliki keunggulan dalam  berjejaring selama studi. Hal itu ditunjukkan melalui relasi atau hubungan dengan GB dari universitas-universitas di Belanda yang luar biasa. Penulis menerima tawaran studi lanjut ke Belanda dua kali, yaitu pertama saat menjabat Ka Prodi Teknik Sipil. Tawaran tersebut  dialihkan kepada alumni teknik sipil Unika Soegijapranata. Kemudian tawaran kedua pada akhir tahun 2009 yang nyaris ditolak juga karena beberapa pertimbangan antara lain faktor usia dan bahasa. Kelebihan SC nampak dalam meyakinkan kepada penulis untuk menerima studi lanjut di Belanda. Selain itu, SC mau membantu memberikan pertimbangan dan masukkan yang luar biasa dalam melobikan penambahan dana biaya hidup di Belanda hingga penulis bersedia menerima studi lanjut tersebut walaupun tanpa persiapan matang.

Rencana studi lanjut tersebut dilakukan dalam waktu yang sangat pendek yaitu sekitar tiga bulan tepatnya Oktober  2009 hingga disepakati Januari 2010 dan penulis sudah harus berangkat studi ke Open Universiteit (OU) di Herleen, Belanda. Luar biasa sekali untuk SC menjadi salah satu promotornya, dimana dalam proses studi penulis sangat dibantu oleh semua pembimbing yaitu 2 dari Open Universiteit dan 1  Unika Soegijapranata. Selama studi, dukungan dan bantuan terus mengalir hingga setahun sebelum lulus penulis harus menerima jabatan kaprodi teknik sipil di tahun 2014-2015. Selanjutnya, selama studi penulis dibantuan SC mulai dari yang cara membuat makalah hingga termuatnya makalah di dalam jurnal internasional. Tiga pembimbing penulis sangat luar biasa dan kompak serta solid dalam membimbing dan membantu penulis dalam menempuh dan menyelesaikan studi di OU.

Selain itu, persoalan  yang dihadapi adalah  OU  belum disetarakan  oleh Dikti sebagai perguruan tinggi asing yang disarankan untuk ditempuh oleh warga Indonesia. Permasalahan itu, SC  mengadakan pertemuan  dengan pihak Indonesia (Dikti) dengan Belanda (OU) untuk membicarakan status OU Belanda yang belum terdaftar dan diakui sebagai perguruan tingggi asing kedalam perguruan tinggi Indonesia.

Secara umum keberadaan  dan kepemimpinan SC  di Unika perlu dicatat beberapa hal yang dirasakan oleh warga unika, meliputi beberapa hal telah dilakukan SC untuk peningkatan karyawan Unika adalah:

  • Peningkatan kesejahteraan karyawan unika
  • Perubahan pandang dosen dalam darma kedua
  • Peningkatan status universitas

Sebaliknya juga terdapat perbedaan pandang dalam:

  • Pemberian penghargaan bagi penulis makalah di jurnal internasional

Itulah kehidupan lumprah manusia dalam bermasyarakat di unika yaitu adanya kesesuaian dan kecocokan namun sekaligus juga terdapat perbedaan pandangan dalam satu persoalan.