15 Gesit dan Inspiratif

Oleh: Y. Gunawan, Pr, Campus Ministry 2014-2017

Mengenal, bergaul, bekerjasama dan bersahabat  dengan Prof. Dr. Ir. Yohanes Budi Widianarko,  M.Sc memberikan kebanggaan dan rasa syukur tersendiri  dalam  diri saya. Mengapa?  Ada  deretan  litani alasan. Ia pribadi yang gesit sekaligus inspiratif. Gesit dalam bertindak, tidak menunda-nunda. Ia juga inspiratif dalam berinovasi memajukan kampus dengan aneka kebijakannya. Ia sosok cendekiawan sekaligus budayawan. Ia sosok pemikir sekaligus tidak kikir. Ia pemimpin yang tidak jaim; pemimpin yang bersahaja; dan pemimpin yang enak diajak dialog ‘duduk bersama’ dari hati ke hati. Gaya hidupnya ugahari. Tutur katanya santun. Jauh dari arogansi intelektual dengan bahasa yang ‘ngawang-ngawang’.

Setiap kali saya mengirim pesan via SMS, email, atau WhatsApp (WA) langsung segera ditanggapi. Pernah suatu siang saya mau konsultasi terkait dengan kegiatan rohani Kampus via WA. Prof Budi menjawab,  “Silakan saja Romo. Maaf, Romo, saya baru bangun.” Lalu, saya tanggapi, “Oh ya, pak. Maaf, apa pak Budi baru gerah? Semoga lekas sembuh”. Beliau pun menjawab, “Tidak, Romo. Saya sedang di Belanda”. Memang waktu di Indonesia lebih cepat daripada di Belanda. Kurang lebih selisih 5 jam lebih cepat di Indonesia.

Atau kesempatan lain, beliau menjawab, “Maaf, Romo. Saya masih di Filipina”. Jawaban-jawaban itu bagi saya menunjukkan sikap yang bersahabat. Jarak tidak menghalangi dalam kami berkomunikasi.

Peduli dan Sadar akan Nilai-Nilai Soegijapranata

Sebagai pemimpin sebuah  Universitas yang menyandang nama Katolik, Prof Budi sadar  betul  akan ajaran  Gereja dalam mengelola Universitas Katolik dengan nilai-nilai Kristiani, sebagaimana diamanatkan dalam Ex Corde Ecclesiae (ECE), Konstitusi Apostolik tentang Universitas Katolik, yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1990. Ada empat (4) ciri hakiki Perguruan Tinggi Katolik menurut Ex Corde Ecclesiae (ECE. 13), yaitu:

Inspirasi Kristiani bukan hanya pada individu tetapi juga pada universitas sebagai komunitas.

Refleksi terus-menerus  dalam rangka terang iman Katolik atas khasanah pengetahuan manusia yang terus berkembang, yang terus disumbangkan oleh universitas melalui penelitian.

Kesetiaan terhadap pewartaan Kristiani yang disampaikan melalui Gereja.

Komitmen kelembagaan dalam melayani umat Allah dan keluarga manusia dalam peziarahan mereka menuju tujuan transenden  yang memberikan makna pada kehidupan.

Maka, pada masa kepemimpinannya sebagai rektor Unika Soegjapranata, ia menggagas dan mendirikan The Soegijapranata Institute (TSI) pada tahun 2009. TSI diharapkan bisa membantu rektor dalam menggali dan menjadi penjaga nilai-nilai patron kampus Unika, yaitu Mgr. Albertus Soegijapranata SJ.

Ketika  TSI  menerbitkan buku “Semangat dan  Perjuangan Mgr.  Albertus Soegijapranata SJ”  (Kanisius, 2015),  dalam kata pengantarnya  Prof Budi menegaskan:

“Didorong oleh kesadaran untuk terus menggali dan mengkaji nilai-nilai Soegijaparanata  yang relevan  –  baik dalam kerangka historis  maupun kekinian, dan  untuk meneguhkan tanggung jawab kelembagaan itu maka pada tahun 2009 UNIKA telah mendirikan the Soegijapranata Institute (TSI). Lembaga ini bertugas  untuk menggali, mengembangkan nilai-nilai Mgr. Soegijapranata, serta mendiseminasikan dan menginternalisasikannya kepada segenap civitas academica, umat Katolik  dan masyarakat umum. Penerbitan buku ini tentu saja memperkokoh kehadiran TSI di Universitas.

Katolik Soegijapranata sebagai lembaga yang secara khusus dibentuk untuk menjawab mandat  menjaga identitas kekatolikan seperti  diamanatkan dalam Ex Corde  Ecclesiae  (ECE), Konstitusi  Apostolik tentang Universitas Katolik. Dengan kata lain, TSI  memang memiliki tugas untuk senantiasa menuliskan pergumulan gagasan tentang Mgr. Soegijapranata, baik dalam bentuk buku, artikel jurnal ilmiah, tulisan ilmiah popular ataupun dalam bentuk lain – termasuk tulisan untuk media digital.” (p. 7-8)

Prof Budi pun menyadari pergumulannya dengan nilai-nilai Soegijapranata dari waktu ke waktu. Sampai tergoda untuk mengubah nama universitas. Karena  pengucapan  nama  “Soegijapranata” memang tidak mudah  bagi lidah orang luar Jawa, termasuk orang luar negeri. Tetapi  sebagaimana yang disharingkan dalam pertemuan APTIK di Malang pada Oktober 2014, ia sebagai narasumber di hadapan kami para peserta  APTIK menegaskan bahwa kemantapannya tetap menggunakan nama “Soegijapranata” sedikit banyak didukung kehadiran  film “SOEGIJA” (2012) yang  sukses,  karya sutradara kondang Mas Garin Nugroho. Dengan kehadiran film itu, nama UNIKA SOEGIJAPRANATA ikut mendapat berkah dan menjadi makin terkenal di dalam dan di luar negeri.

Motto  “Talenta  Pro Patria  et  Humanitate” (Bakat untuk Tanah  Air  dan Kemanusiaan) terlahirkan-terumuskan karena tulisan di patung Mgr. Soegijapranata di depan Gedung Albertus, di mana hampir setiap hari Prof Budi melewati patung itu karena kantornya di gedung Albertus. Prof Budi mengawali karya di Unika sejak tahun 1994, sebagai staf pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).  Pada tahun  1995,  Prof Budi dipercaya untuk memimpin FTP, fakultas baru ke-7 di Unika, sebagai Dekan. Tulisan di patung itu  merupakan kutipan  langsung dari  pernyataan  Mgr.  Soegijapranata: “Bakat pemberian  Allah jangan hanya kau sembunyikan, persembahkan seluruhnya kepada nusa, bangsa, dan negara”.

Kesadaran  akan  pilihan sikap tertentu  itu  sangat  penting untuk terus diwariskan dari generasi ke generasi. Ini pula yang saya lihat dalam diri Prof Budi. Hal ini tampak dalam setiap kali rapat dalam mengambil kebijakan tertentu. Setiap pilihan sikap (option) tertentu pasti ada konsekwensinya. Juga ada kelompok yang pro dan kontra. Tentu saja hal ini sangat wajar di instansi mana pun. Tinggal bagaimana komitmen dan konsistensi pemimpin dalam mengawal terlaksananya kebijakan atau keputusan itu. Ia pun pernah menegaskan:

“Sosok Mgr. Soegijapranata memang menarik untuk dan diungkap secara lebih mendalam dari  berbagai  sudut pandang. Salah satu  pandangan, misalnya, menempatkan Mgr.  Soegijapranata seperti  tokoh atau  “orang besar” lain, yang lahir dalam ruang dan saat yang tepat – meskipun tidak semua orang yang hadir di ruang dan saat yang sama menjadi tokoh. Hanya mereka yang mampu membaca situasi dan mengambil sikap-tindakan yang menonjol akan menjadi tokoh. Prakarsa adalah persoalan pilihan. Pilihan itulah yang disebut  sebagai kepeloporan atau  leadership. Soegija lahir menjadi tokoh karena prakarsanya, berani menentukan pilihan.”

Creative Fidelity

Prof Budi sudah memimpin ‘KAPAL’ yang bernama Unika Soegijapranata ini selama dua periode (2009-2017). Tentu ada banyak warisan berharga yang telah diberikan Prof Budi dan terpatri dalam diri setiap civitas akademika Unika dan masyarakat, yang tidak bisa disebutkan satu  per  satu.  Saya bersyukur kepada  Tuhan  dan  berterimakasih  kepada  Bapa Uskup atas perutusan yang diberikan kepada saya untuk memberikan pelayanan rohani di Universitas Katolik Soegijapranata  sebagai  kepala  Campus Ministry (Januari 2014 s/d. Juni 2017). Saya bertugas di Unika pada masa kepemimpinan Prof Budi. Rasa  syukur saya ini menjadi SEMAKIN  BERMAKNA  ketika saya boleh menjadi BAGIAN dan SAKSI perjuangan Unika Soegijapranata di bawah kepemimpinan Prof. Budi mendapat  Akreditasi  A   sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Tengah pada tahun 2017 ini.

Unika Soegijapranata pasca Prof Budi pantas bersyukur karena mendapat warisan yang luar biasa. Unika terus-menerus  harus Percaya  Diri ke luar dan Mawas  Diri ke dalam, agar tidak minder sekaligus tidak sombong di tengah persaingan kualitas perguruan tinggi sekarang ini dan ke depan. Menurut  hemat  saya, Unika Soegijapranata perlu  terus  mengupayakan semangat creative fidelity, yakni setia pada ajaran iman Katolik, setia pada Gereja dan Uskup Agung Semarang, sekaligus kreatif dalam bereksperimen dan berpromosi menghadapi tantangan zaman masa kini. Selain itu, juga perlu terus mengasah ketrampilan keterhubungan (connectedness) yang mencakup aspek teknologi, komunikasi, tata kelola relasi, dan tata kelola identitas dalam konteks komunikasi global.

Saya  optimis,  dengan  modal  warisan  Prof  Budi sekaligus komitmen- keahlian-kreatifitas yang hebat dari Prof Frederick Ridwan Sanjaya selaku rektor  Unika berikutnya,  Unika Seoegijapranata  akan  makin  mantap mengepakkan sayapnya di dunia pendidikan tinggi. Paus Yohanes Paulus II sendiri menyadari pentingnya peranan kaum awam dalam melaksanakan peran  kerasulan  di bidang pendidikan tinggi. “Masa  depan  Universitas Katolik  tergantung sebagian besar pada pelayanan kaum awam Katolik yang kompeten dan berdedikasi. Gereja melihat kehadiran yang terus berkembang di dalam lembaga pendidikan, baik sebagai harapan maupun sebagai penguatan panggilan kaum awam yang tak tergantikan di dalam Gereja dan di dalam dunia” (ECE. 25).

Terimakasih Prof Budi atas  kesempatan boleh mengenal, bergaul, bekerjasama, dan bersahabat denganmu. Terimakasih pula atas kegesitan dan inspirasi yang boleh saya timba dari pribadimu. Teruslah berkarya untuk Unika, Gereja, Keluarga, dan Bangsa Indonesia yang engkau cintai sampai mati.

Roma, 7 Juli 2017