4 Guru Pelampau Batas

Oleh: Augustina Sulastri, Wakil Rektor I Bidang Akademik

……that nothing in life happens by chance” (Paulo Coelho)

Bahwa tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup yang terjadi secara kebetulan  menjadi nyata  saat  mengingat kembali perjalanan  karir sebagai  dosen  di  UNIKA  Soegijapranata  terutama  pada  satu  titik perjumpaan dengan Prof Budi Widianarko di dalamnya. Titik perjumpaan tersebut  terjadi pada tahun  2005 saat  saya baru dua tahun  bergabung sebagai  dosen  di  UNIKA   Soegijapranata.  Bersama  dengan salah satu dosen senior dari Fakultas Psikologi, Dr. Margaretha Sih Setija Utami, saya beruntung berada di pusaran energi dua dosen senior yang memiliki tipe cerdas, idealis, pekerja keras dan memiliki integritas. Titik temu pertama itu adalah untuk menyelesaikan sebuah proyek penelitian dan penulisan buku bersama.

Bagi saya – yang saat  itu masih menapaki karir sebagai dosen muda – terlibat dalam proyek penelitian dan pembuatan buku tersebut  menjadi terasa sangat luar biasa. Mengimbangi kekuatan pribadi dan pola kerja dua dosen senior tersebut membuat saya seperti harus berlari dalam mengejar ketertinggalan kualitas kognitif saat  melakukan penelitian, menganalisis hasil penelitian dan bahkan harus menuliskannya menjadi sebuah buku. Sungguh sebuah loncatan karya yang sangat membekas hingga hari ini, tidak hanya dari sisi kompleksitas proyek yang sedang dikerjakan tetapi waktu yang dibutuhkan dari memulai penelitian hingga menerbitkan karya tersebut menjadi sebuah buku yang membutuhkan waktu hingga 5 tahun. Lamanya waktu pengerjaan proyek tersebut sempat membuat satu titik jenuh yang nyaris meruntuhkan semua usaha, dan sebagai Ketua Tim Peneliti, Prof. Budi tampil sebagai seorang senior pembimbing yang menunjukkan integritas untuk menuntaskan komitmen. Beliau menyampaikan pesan: buku wajib jadi. Semangat itulah yang menulari anggota tim yang lain dan kembali membulatkan tekad bahwa sesuatu yang sudah dimulai wajib dituntaskan dengan sebaik-baiknya. Buku itu pun akhirnya terbit persis setelah 5 tahun sejak awal proses dilakukannya penelitian. Tuntas.

…dan ketika bekerja… engkau adalah seruling yang menjadikan bisikan- bisikan waktu menjadi nyanyian..” (Kahlil Gibran)

Bekerja bersama  dengan  Prof Budi Widianarko seperti sedang  melatih kelenturan proses berpikir. Dalam bekerja itulah akan terjadi diskusi yang dapat berlangsung hingga berjam-jam.  Topik diskusi berlompatan mulai dari kehidupan keseharian yang ringan, lagu-lagu populer Indonesia dan film-film Korea, hingga diskusi yang sangat serius tentang masalah politik dan pendidikan tinggi; dari mulai topik tentang pangan, lalu lari ke topik psikologi, kesehatan,  teknik hingga ekonomi pemasaran.  Semua cerita berbaur dan berpindah menjadi flight of ideas yang membutuhkan energi dan intensitas konsentrasi yang tinggi. Jika sedang kehabisan ide akan sesuatu hal atau ketika terasa buntu untuk menyelesaikan sesuatu persoalan maka Prof Budi menjadi partner diskusi terbaik untuk memulihkan ide-ide yang sempat terhenti atau untuk menyelesaikan persoalan yang terasa rumit. Di tengah kesibukannya yang luar biasa, beliau tetap meluangkan waktu dan mencurahkan pikiran untuk selalu dapat membantu.

Suatu ketika saya bertanya secara serius kepada Ibu Budi tentang bagaimana pola tidur dan resep makanan hingga Prof Budi memiliki begitu banyak kekayaan informasi mulai dari film, lagu, buku, dan berbagai informasi berita hangat baik di televisi dan surat kabar. Nampaknya tidak ada yang istimewa. Beliau manusia  biasa  seperti  kita  tetapi  telah  menempa diri dengan cara yang luar biasa hingga hasilnya jauh melampaui batas  pencapaian kebanyakan orang seperti kita. Seringkali dengan duduk diam, menyimak dan meresapi cerita-cerita beliau seperti halnya menikmati alunan sebuah nyanyian indah tentang kekayaan pribadi, kekayaan karya dan kinerja – yang akhirnya membangkitkan semangat dan memicu inspirasi.

Talent begins with brief, powerful encounters that spark motivation by linking your identity to a high performing person…” (Daniel Coyle).

Dalam  bukunya “The Little Book of  Talent”  Daniel  Coyle menyatakan bahwa talenta  – bakat – seseorang dapat terus bertumbuh dengan cara memekarkan sebuah keinginan yang berasal dari penemuan identitas diri dengan seseorang yang menjadi panutan. Michael  J. Loshier  menyebutnya sebagai “Hukum Ketertarikan” (Law of Attraction) – bahwa sesungguhnya sesuatu energi akan menarik energi yang sejenis dengannya – bahwa semua pikiran akan menjelma menjadi nyata sesuai dengan intensitasnya. Bertemu dengan panutan – patron – yang tepat akan seperti menjadikannya sebuah medan magnet. Dia dapat mendatangkan situasi dan kondisi yang selaras dengannya.

Prof Budi Widianarko merupakan  pribadi  yang terbuka  dan ekspresif. Kata  kunci “beyond mediocrity” menjadi mantra pertama  yang pernah saya dengar. Dengan mantra ini Prof Budi selalu mengajak para “kolega muda” untuk mengatasi diri dan menjadi pribadi di atas  ambang batas rata-rata. Beberapa cerita beliau ulang untuk dibagikan – bukan sebagai sebuah  pameran  kesombongan tetapi  justru  menjadi pengingat bahwa kita semua pada awalnya pernah pada titik nol. Yang membedakan satu dengan yang lain adalah cara kita meninggalkan titik nol tersebut.  Dan salah satu mantra penyemangat untuk bergerak dari titik nol itu adalah keinginan mengembangkan talenta dengan cara luar biasa. Hasil merupakan konsekuensi akhir, penentu utama adalah usaha kita. Dengan mengatasi diri kita maka kita dapat melampaui batasan yang kita miliki.

Kata kunci kedua yang saat ini sangat gencar beliau bagikan adalah “beyond compliance” – jika orang lain menuntutmu satu, maka berikanlah kepadanya dua atau  bahkan lebih dari itu. Mantra kedua ini membuat saya – kita yang dekat dan bekerja bersama dengan Prof Budi – seperti harus terus menggandakan diri. Namun jika telah terbiasa dengan ritme kerja melampaui seperti yang diharuskan atau kepatuhan maka bekerja itu membuat kita dapat menetapkan tujuan berdasarkan keinginan atau tujuan kita sendiri.

Sosok panutan ini sangat menjiwai motto Universitas “Talenta pro patria et humanitate” – bahkan jauh sebelum motto itu sendiri ditemukan. Hingga hari ini, beliau  menyediakan dirinya untuk terus  berbagi dengan  para generasi muda – menyediakan diri menjadi pusat energi agar para generasi muda di UNIKA  Soegijapranata menemukan energi untuk mengatasi diri dan mencapai sesuatu melampaui batas kepatuhan. Itulah menjadikannya pantas disebut sebagai seorang “guru pelampau batas”. Dan barisan kata yang tepat untuk menunjukkan semua usaha Prof Budi itu adalah bahwa “…bekerja adalah  suatu usaha mewujudkan mimpi terindah milik dunia.. (Kahlil Gibran)