14 Kepak Sayap Lintas Negara Bersama Sang Camar

Oleh: Victoria Kristina Ananingsih, Dekan FTP

Perkenalan pertama dengan Prof. Budi Widianarko (BW) terjadi di awal karya saya sebagai dosen  baru  Fakultas Teknologi  Pertanian  (FTP) Program Studi Teknologi Pangan pada tahun 1998. Kebetulan saya belum mengetahui informasi tentang adanya FTP  Unika sampai saya membaca tulisan beliau yang sangat  menarik tentang  keamanan pangan di surat kabar. Dituliskan pula, Prof  BW adalah staf pengajar Teknologi Pangan Unika. Setelah membaca tulisan tersebut, saya menjadi tertarik untuk melamar sebagai dosen di Unika dan ingin bertemu dengan beliau, yang saat itu juga menjabat sebagai Dekan FTP.  Saya merasa lebih mantap menjadi dosen FTP, setelah bertemu dan mengetahui Prof. BW adalah sosok yang sangat inspiratif, visioner, penuh semangat dan pekerja keras. Walaupun, pada saat itu FTP baru berusia 3 tahun dengan jumlah mahasiswa yang belum banyak dan belum terakreditasi. Beliau adalah pimpinan yang dapat berdiskusi dan menyemangati siapa saja baik dosen baru maupun dosen senior, juga sangat akrab dengan semua karyawan dan laboran. Beliau selalu memberi semangat yang luar biasa untuk terus mengembangkan FTP. Sejak  awal berdiri, beliau selalu menanamkan bahwa FTP  adalah   progdi teknologi pangan swasta terbaik di Indonesia. Hal ini menjadikan semangat semua civitas akademika untuk  berusaha  menjadi yang terbaik,  hingga harapan  tesebut  dapat tercapai saat ini. Berbagai arah program internasionalisasi diawali oleh Prof BW untuk pengembangan fakultas yang dapat saya sharingkan berikut ini. Semoga tulisan ini dapat memberi inspirasi bagi seluruh civitas akademika Unika terutama dosen muda dalam pengembangan karya di Unika.

Mentoring dosen muda lintas negara

Prof BW merampungkan studi S3 di Vrije Universiteit Belanda, dan beliau memiliki kerjasama  erat  dengan  kampus  almamater  tersebut.  Beliau mengundang beberapa  pengajar  dan mahasiswa dari  kampus tersebut untuk melakukan kegiatan kerjasama dalam bidang pengajaran dan penelitian di Unika. Salah satu program Prof BW yang sangat mengesankan saya  adalah  memberi  pendamping  (mentoring) dosen  muda dengan “visiting lecturer”. Pada tahun  2000, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan kuliah pemodelan matematika  di  bidang biologi dan pangan. Saat itu beliau mengundang Dr. Paul Doucet dari Vrije Universitiet yang ahli dalam pemodelan matematika. Saya diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam mengajar dengan didampingi langsung oleh Dr. Paul Doucet. Pengalaman berharga juga saya dapatkan, karena saya dapat  menulis buku pertama saya tentang pemodelan matematika bidang biologi dan pangan bersama Dr. Paul Doucet. Hal ini saya rasakan sebagai prestasi  membanggakan yang dapat  saya raih karena dukungan dari Prof. BW. Mendapatkan mentor dosen asing membuka wawasan saya selain mengembangkan ilmu juga untuk membuka wawasan saya terhadap pengetahuan global. Saya pun mendapat kesempatan menjadi ketua panitia workshop pemodelan matematika dengan pembicara utama Dr. Paul Doucet dan Prof BW.  Walaupun selain sebagai ketua workshop, saya merangkap sebagai  sekretaris,  sie  publikasi dan  sie  acara,  karena  jumlah dosen pada saat  itu masih terbatas, namun saya sangat senang mendapatkan kesempatan ini untuk pengembangan keilmuan saya.

Pesan untuk melanjutkan studi lintas negara

Prof BW selalu berpesan kepada dosen FTP untuk mempelajari perkembangan teknologi pangan  secara  global. Dosen yang akan studi  lanjut  S2 dan S3 beliau tekankan untuk melanjutkan studi di luar negeri. Pesan beliau, dengan belajar di luar negeri, akan membuka wawasan kita tentang standar pendidikan internasional dan membuka cara pandang kita bahwa kita harus selalu mengikuti perkembangan global untuk mengembangkan fakultas. Awalnya, saya ragu-ragu untuk melanjutkan studi di luar negeri karena masalah biaya (belum tahu dapat beasiswa darimana dan pertimbangan keluarga). Namun Prof BW selalu menceritakan hal-hal yang sangat menarik dan mengesankan tentang  pengalaman studinya di luar negeri. Dengan semangat beliau untuk selalu berpikiran ke arah global, akhirnya saya bisa melanjutkan studi S2 di Australia dan S3 di Singapura. Sungguh, dorongan semangat dari Prof BW membuat semangat saya ikut membara. Saya pikir, hal yang utama dalam melanjutkan studi adalah semangat dari dalam diri kita dan kepercayaan diri bahwa harapan yang baik dari kita dengan penuh upaya dan dengan doa tentunya, akan dapat kita raih. Yang tidak terduga, saya dikunjungi saat  studi S3 di National University of Singapore (NUS), dimana beliau berkempatan menjadi keynote speaker di NUS. Sungguh saya sangat senang sekali ketika dikunjungi dan disemangati Prof BW, bahkan sempat jalan-jalan bareng ke Orchad Road dan naik Singapore Flyer, sambil berbincang banyak hal tentang Unika yang membuat saya menjadi kangen Unika.

Semangat untuk melanjutkan studi di tingkat global ini juga menular ke seluruh dosen FTP yang lain, dengan studi di beberapa kampus terkemuka di Malaysia, Australia, Belanda dan Amerika. Seluruh ilmu yang didapatkan dari kampus-kampus tersebut selanjutnya ditransferkan kepada mahasiswa, dengan harapan kurikulum  FTP mempunyai ciri khas khusus dan kualitas mahasiswa menjadi lebih baik.

Jaringan kerjasama  lintas negara

Salah satu hal yang membuat saya teringat adalah ketika saya menjabat pertama kali sebagai Dekan  FTP tahun 2004 di usia yang dikatakan masih belum punya pengalaman yang mumpuni. Saya sangat senang sekali bisa mendapatkan dukungan dan menimba ilmu dari Prof  BW yang  saat tersebut menjabat sebagai Wakil Rektor IV. Yang saya ingin pelajari dari beliau adalah perluasan jaringan kerjasama antar negara.

Prof BW  selalu berpesan  bahwa pengembangan kerjasama internasional harus dilandasi dengan kesetaraan  program yang saling ditawarkan dan tertuang dalam MoU (Memorandum  of Understanding). Menurut  saya, ini merupakan pemikiran yang sangat bagus untuk pengembangan institusi kedua belah pihak.

Di tahun 2007, bersama Prof BW dan wakil Dekanat FTP, kami mengunjungi Assumption University,  untuk  penggalian jalinan  kerjasama.  Mendapat tanggapan yang positif dari Dekan Biotechnology Faculty, kami melanjutkan dengan kerjasama yang tertuang dalam MoU dalam bentuk visiting lecturer, student insternship, penulisan bersama jurnal dan saling sharing tentang pengembangan fakultas. Terealisasinya MoU ini menjadi role model kerjasama dengan universitas luar negeri, yang sekarang telah berkembang dengan terjalinnya kerjama dengan kampus di Taiwan, Vietnam dan Filipina dengan model kesetaraan untuk pengembangan kedua belah pihak. Bahkan, sekarang telah berkembang menjadi kerjasama 4 (empat) kampus (Fu Jen Catholic University,  Assumption University,  Saigon Technology  University dan  Unika Soegijapranata) untuk mengadakan international conference setiap 2 tahun sekali di setiap negara secara bergiliran.

Suasana  internasional  selalu  ditumbuhkan Prof BW  di FTP. Sejak awal berdirinya FTP, beliau seringkali mengundang mahasiswa penelitian dari Belanda untuk melakukan penelitian  di FTP  Unika. Begitu pula dengan dosen-dosen dari Belanda yang diundang untuk memberikan kuliah tamu. Program tersebut, hingga saat ini masih berlanjut dengan adanya mahasiswa internship dari Belanda dan Asia untuk melakukan penelitian di FTP dan adanya visiting lecturer minimal setahun sekali di FTP Unika.

Ajakan terlibat dalam aktivitas lintas negara

Prof BW  selalu mengajak seluruh dosen  FTP  untuk terlibat  di kegiatan internasional  baik dalam  konferensi internasional,  program pertukaran dosen ataupun berpartisipasi dalam berbagai program yang ditawarkan oleh United Board. Sejauh pandangan saya, seluruh dosen FTP telah mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas di kegiatan internasional tersebut.  Atas bimbingan Prof BW,  pada  tahun 2013  saya lolos seleksi sebagai  junior lecturer untuk menulis dan  mempresentasikan  makalah saya dengan judul “New Evangelization  through Research and Knowledge Transfer for the Welfare of Traditional Tropical Fruit Farmers in Central Java” pada saat ASSEACU ke-21 di Seoul, Korea Selatan. Saya sangat senang sekali dapat terpilih untuk menghadiri pertemuan tingkat internasional tersebut. Didampingi Prof BW,   saya  dikenalkan oleh  pimpinan  dan  perwakilan negara-negara  anggota ASSEACU.  Sungguh sangat menyenangkan dapat berpartisipasi dalam kegiatan lintas negara seperti ini. Pada saat itu, Prof BW sebagai Rektor mempunyai misi untuk mengenalkan Unika secara global dengan menjadi tuan rumah ASSEACU ke-23. Saya dan beberapa mahasiswa Student of the Year (SOTY)  mendapat mandat dari Prof BW  untuk selalu aktif dalam diskusi dan presentasi di pertemuan ASSEACU ke-21 tersebut sehingga Unika dapat dikenal oleh seluruh peserta ASSEACU. Saya berusaha membawakan materi seminar sebaik mungkin dan semua mahasiswa Unika pun aktif menjadi pimpinan kelompok diskusi dengan mendominasi sebagai presenter  di mimbar utama. Akhirnya, saat yang ditunggu tiba, ketika di penutupan  ASSEACU, Fr.  Calmano mengumumkan bahwa Unika terpilih menjadi tuan rumah ASSEACU yang ke-23 di Tahun 2015. Rasanya senang sekali, kampus Unika Soegijapranata menjadi lebih dikenal lintas negara oleh semua universitas peserta ASSEACU.

Ajakan untuk secara rutin mempresentasikan hasil penelitian di konferensi internasional ditekankan oleh Prof  BW. Pada tahun 2004, bersama Prof Budi dan beberapa rekan dosen, saya diajak untuk pertama kalinya menjadi oral presenter di Asean Food Conference. Diseminasi di tingkat internasional pun akhirnya rutin saya ikuti dan minimal 2 tahun sekali saya mengikuti seminar internasional lintas negara. Saya merasa senang dapat berdiskusi dengan dosen dan peneliti ahli yang hadir untuk pengembangan keilmuan saya. Semangat Prof Budi untuk terlibat di kegiatan internasional menginspirasi saya dan memberi saya semangat untuk terus  berperan  di ranah lintas negara.

Penutup

Saya sangat  berterimakasih  kepada  Prof BW   yang telah memberikan inspirasi dan semangat untuk selalu mengembangkan karya di Unika dan berpartisipasi di berbagai kegiatan lintas negara. Terimakasih pula Prof BW telah banyak memajukan Unika dalam dua periode masa kepemimpinan sebagai Rektor. Sebagai penutup, ijinkan saya menyampaikan deretan kata tentang ungkapan hati bersama Sang Camar.

 

“Bersama Sang Camar”

Berkenalan dengan Sang Camar

Membawa inspirasi terus bermunculan

Berpijak di bumi bersama Sang Camar

Mengingatkan perhatian untuk lingkungan

Bersama awali terbang dengan Sang Camar

Menilik indahnya karya dari atas awan

Bersama ikuti kepak tinggi Sang Camar

Memacu semangat terus ke depan

Bersama Sang Camar

Memberi arti sejuta kesan

Catatan sore hari, Juli 2017