9 Mata Burung Camar, Kemampuan Melihat Ke Depan Meskipun Kondisi Berkabut

Oleh: Erdhi Widyarto N., Dekan Fakultas Ilmu Komputer

Penglihatan merupakan panca indra yang paling penting untuk burung, karena penglihatan sangat diperlukan bagi burung agar dapat terbang dengan aman. Mata burung mirip dengan mata reptil, memiliki otot siliaris yang dapat mengubah bentuk lensa mata secara lebih cepat dan lebih luas daripada mata mamalia. Pada Burung camar, mempunyai keistimewaan lain di dalam matanya, yaitu di dalam matanya terdapat  tetesan  minyak merah pada sel-sel kerucut retina. Organ ini berfungsi untuk meningkatkan kontras dan ketajaman penglihatan pada jarak jauh, terutama dalam kondisi yang berkabut[1]. Sehingga pada kondisi yang berkabutpun, burung camar mampu melihat lebih baik daripada burung lain.

Seperti burung camar yang mampu melihat dengan jelas ke depan meskipun kondisi berkabut, begitu juga dengan Prof Budi mempunyai kemampuan melihat jauh ke depan meskipun kondisi sekitar sedang “berkabut”. Hal ini terlihat pada kemampuan Prof Budi melihat jauh ke depan masalah terjadi yang pada waktu itu melihat kondisi Teknik Elektro Unika Soegijapranata Semarang.

Sekitar tahun  2009,  pada  masa  awal Prof Budi menjadi rektor  Unika Soegijapranata.  Teknik  Elektro  Unika mengalami masalah  yaitu  trend penurunan mahasiswa baru. Teknik Elektro pernah mengalami mahasiswa baru yang masuk sekitar 120 pada tahun 2001 mengalami penurunan dari tahun ke tahun menjadi sekitar 20. Pada waktu itu dosen tetap di Teknik elektro adalah 9 orang dosen. Sehingga dilihat dari ratio dosen mahasiswa akan semakin tidak baik.

Langkah awal untuk menyelesaikan masalah ini dengan dikumpulkannya 3 program studi  yang memiliki masalah yang sama yaitu penerimaan mahasiswa yang semakin menurun. Ke tiga program studi tersebut dikumpulkan di Bandungan dengan diberikan motivasi oleh narasumber dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tujuan acara tersebut adalah mengindentifikasi masalah yang terjadi beserta solusi bagi ketiga program studi tersebut. Sehingga dampaknya yang diharapkan adalah penerimaan mahasiswa baru semakin naik.

Setelah acara tersebut, Teknik elektro mempersiapkan akreditasi program studi. Semua dosen  terlibat  dalam persiapan  akreditasi  program studi tersebut. Tiba-tiba kami tidak menyangka dari universitas dibentuk suatu satgas untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Teknik elektro. Sepertinya progdi Teknik elektro sedang  mengalami masalah yang luar biasa, sampai-sampai dibentuk satgas dari universitas untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebenarnya konflik yang terjadi di dalam tidak begitu sepanas yang dikira orang. Kami semua masih sering ngobrol dan bersendau gurang bersama, bahkan melakukan penelitian dan pengabdian bersama. Dan bersama-sama  menyelesaikan akreditasi program studi. Inilah yang membedakan penglihatan Prof Budi dengan yang lain. Prof Budi mampu melihat masalah yang terjadi di Teknik elektro adalah masalah yang tidak sepele dan harus diselesaikan dengan bantuan universitas. Masalah ini jika dibiarkan akan menghambat perkembangan Teknik elektro beserta dosen- dosennya sehingga berakibat pada semakin menurunnya mahasiswa baru yang masuk di Teknik elektro.

Seperti diketahui oleh semua orang kalau keputusan diambil Prof Budi pada waktu itu, setelah mendengar pertimbangan dari satgas adalah  ada pemisahan Teknik elektro menjadi dua. Di  mana 3 dosen masih berada dalam Teknik elektro dibawah Fakultas Teknik, sedangkan ketujuh dosen lain mendirikan program studi baru yaitu program studi sistem informasi di bawah fakultas Ilmu Komputer. Sedangkan Fakultas  Teknologi Industri dihilangkan. Biasanya seorang pemimpin akan berusaha untuk membuat kelompok yang bertikai menjadi satu bukan menjadikan kedua kelompok ini terpisah.  Apalagi pada  saat  tersebut  program studi  teknik elektro sedang mempersiapkan akreditasi. Resiko untuk kelompok yang satu tidak mendukung akreditasi program studi elektro atau cenderung menghambat akan bisa dimungkinkan, syukurnya hal itu tidak terjadi. Akreditasi program studi elektro tetap  berjalan dengan baik dan mendapatkan akreditasi B. Resiko lain adalah semakin menurunnya mahasiswa baru progdi Teknik elektro. Hal ini bisa karena suara di luar menyatakan progdi Teknik Elektro pecah dikarenakan adanya konflik antar dosen. Selain itu tingkat kepercayaan terhadap Teknik elektro akan semakin menurun. Resiko berikutnya adalah kelompok yang mendirikan program studi baru tidak diterima oleh Fakultas Ilmu Komputer dan dosen- dosen akan tidak bisa berkembang, karena tidak linear dengan  ilmu yang ditekuninya. Selain itu  kemungkinan program studi sistem informasi yang di bangun tidak laku, karena dibangun bukan karena kebutuhan tetapi karena kecelakaan dan nantinya menjadi beban universitas.

Inilah kelebihan Prof Budi, dengan mata yang tajam seperti burung camar, bisa melihat ke jauh ke depan meskipun kondisi “berkabut”. Prof Budi berani menanggung resiko-resiko dengan  keputusan  yang tidak populer  yaitu seolah-olah membuat program studi Teknik Elektro menjadi pecah terpisah menjadi dua. Langkah berikutnya yang menentukan kedua kelompok tidak menjadi semakin hancur tetapi  dipisahkan untuk semakin berkembang. Progdi Teknik elektro masuk ke dalam fakultas Teknik, membuat program studi ini dibantu fakultas Teknik, yang pada waktu itu hanya ada program studi Teknik sipil, dimana mahasiswa baru yang masuk semakin meningkat. Dengan trend mahasiswa baru yang meningkat ini diharapkan bisa menular ke Teknik elektro. Sedangkan kelompok lain yang membuat program studi baru ditambahkan Prof Ridwan Sanjaya yang pada waktu itu baru pulang dari S3. Hal ini bisa menambahkan tingkat kepercayaan kepada program studi baru yang dibangun bukan karena kecelakaan tetapi menjadi jawaban dari kebutuhan yang ada. Selain itu kehadiran Prof. Ridwan untuk menjadi solusi bagi kelompok tersebut.

Setelah sekian waktu, dampak dari dipisahkan kedua kelompok tersebut semakin terlihat. Dipisahkan bukan menjadi semakin hancur tetapi untuk menjadi semakin berkembang. Program studi sistem informasi semain eksis sampai sekarang. Terlihat dari terpilihnya T.Brenda.,C menjadi kaprogdi berprestasi  nomer  tiga  di  tingkat Kopertis  Jawa Tengah  dan  semakin meningkatnya tingkat kepercayaan mahasiswa baru. Selain itu beberapa dosen yang pada awalnya tidak ingin berkembang untuk sekolah S3 saat ini sudah 3 orang dari mereka untuk melanjutkan sekolah S3 seperti B. Harnadi di Assumption University Thailand selesai dalam waktu hanya 2 tahun. (sekarang menjabat ketua program studi sistem informasi), Yulianto Tejo di ITS Surabaya, dan T.Brenda  C.,  di Universitas Indonesia Jakarta. Sedangkan program studi  Teknik  Elektro  juga semakin eksis    dengan prestasi mahasiswanya di bidang robotika dan prestasi dosennya di bidang penelitian selain itu Leonardus HP telah menyelesaikan S3 di UGM Yogyakarta dan Slamet Riyadi sebentar lagi mendapatkan gelar Guru Besar.

Pada akhirnya meskipun resiko-resiko yang dihadapi sangat besar dengan resiko kedua kelompok menjadi hancur. tetapi yang terjadi adalah kedua kelompok semakin eksis  dan berkembang sehingga dipisahkan bukan menjadi hancur tetapi  dipisahkan menjadi semakin berkembang. Hal ini tak lain karena Prof Budi mempunyai kemampuan melihat jauh ke depan meskipun kondisi waktu itu “berkabut” seperti kemampuan burung camar.

Referensi:

Hart, NS; Partridge, J.C.; Bennett, A.T.D.; Cuthill,  I.C. (2000).  “Visual  pigments, cone oil droplets  and  ocular media in four species  of estrildid  finch” (PDF). Journal of Comparative Physiology A 186 (7–8): 681–694.  doi:10.1007/ s003590000121