11 Prof Bud : Antara Makan dan Berjalan

Oleh: Lita Widyo Hastuti,  Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan

Rasanya hampir tiap orang cenderung memiliki opini yang serius dan berat  saat  diminta   menakar Prof.Dr.Ir.Y.Budi Widianarko.  Rata-rata orang memandang pak Budi sebagai sosok hebat yang penuh kharisma dan  pujian, beliau  memang sangat  layak untuk  menerima atribut  itu. Saya memilih tak akan berbicara tentang yang berat-berat.  Hidup sudah cukup berat, kata seorang teman, lebih baik berpikir enteng-enteng yang menggembirakan. Jadi saya akan menakar beliau sebagai makhluk biasa, sisi sederhana sebagai manusia.

Saya punya dua catatan ringan tentang Pak Budi. Catatan pertama saya, pak Budi adalah  seorang  gastronomous, pecinta  kuliner yang canggih seleranya. Memiliki rektor dengan cita rasa yang bagus tentang makanan ada suka dukanya. Sebuah kisah terjadi menjelang Unika menjadi tuan rumah ASEACCU (Association of Southeast and East Asian Chatolic Colleges and Universities) tahun 2015. Barangkali karena jiwa leadership yang sudah mendarahdaging, dipadu dengan  keinginan untuk memberikan layanan terbaik bagi tamu-tamu internasional, maka mungkin baru kali itu dalam sebuah  penyelenggaraan acara sekelas ASEACCU  rektor sendiri langsung turun gunung ikut mengecek dan mengoreksi rencana jenis serta urutan sajian menu dinner yang sudah 99% fix bagi para tamu. Konon keinginan pak Budi untuk mengotak-atik ulang sajian kuliner ini sempat membuat ibu Wakil Rektor 2 langsung cemberut dan kalau tidak salah ingat sie konsumsi langsung stres  adem  panas  masuk angin. Untunglah akrobat  konsumsi tersebut pada akhirnya terbayar lunas dengan suksesnya acara keseluruhan dan menyisakan impresi kuat pada peserta.

Kuliner memang pada akhirnya menjadi salah satu selingan obrolan ringan di sela kepadatan tugas di rektorat.  Beliau paham makanan-makanan dan tempat-tempat  makan berselera  canggih yang membuat lidah tak mau berhenti bekerja. Canggih tak selalu diartikan mahal dan modern. Warung kaki limapun bisa bercitarasa canggih. Satu saat sambil menunggu rapat rektorat dimulai tiba-tiba saja saya kepingin cerita tentang ayam goreng di sebuah tempat di Boyolali yang penjualnya setia melayani ayah saya (alm.) seminggu sekali setiap kali beliau pulang ke Solo setelah dinas kantoran di Semarang. Saya yang ketika itu masih kanak-kanak mengenang ayam goreng yangsebenarnya rasa objektifnya adalah biasa-biasa saja menjadi luar biasa, semata-mata karena unsur kenangan masa kecil untuk mendapatkan jatah satu kepala ayam goreng favorit saya. Ayam goreng bu Harto namanya, menjadi sangat istimewa bagi saya karena nuansa emosional-nostalgis.

Kisah tentang ayam goreng kenangan ini baru 50% saya ceritakan di rapat rutin rektorat. Terputus karena rapat keburu dimulai. Rupanya profesor kita kecekatan berpikir dan analisanya yang luar biasa berlaku untuk semua bidang. Sebelum cerita saya tuntaskan beliau sudah duluan mengambil kesimpulan. Singkat cerita suatu hari beliau rupanya menuruti kata hati untuk berjuang mencari dan membeli. Dan bisa diduga kemudian : kecewa karena tak sesuai harapan. Kali  ini analisis cepat pak Budi hasilnya tak menguntungkan.

Catatan saya yang kedua tentang beliau adalah, beliau tak biasa berjalan kaki dengan santai. Sepele dan sah-sah saja sebenarnya. Namun dari sini muncul beberapa kisah menarik. Karena kami hampir tak pernah punya kesempatan untuk berjalan kaki bersama, maka kenangan-kenangan tentang jalan kaki hanya terpantau pada moment-moment khusus saja.

Pertama kali saya menyadari pada tahun pertama jabatan saya, tepatnya di hari pertama pasca libur natal dan tahun baru. Kami serombongan rektorat dan ketua lembaga bersafari keliling kampus untuk menyapa setiap dosen/ karyawan. Hufft…..betapa tidak mudah untuk menyamai langkah beliau. Jadilah aktivitas yang rutin  tahunan  ini mirip permainan  petak  umpet karena selalu muncul pertanyaan  “Pak Rektor sudah sampai di mana?”, dan berujung pada kesimpulan spontan, bahwa  semua aktivitas Pak Budi dilakukan secara  cepat. Berpikir cepat, bertindak cepat, berjalan cepat, semua-semua serba cepat.

Pengalaman lain di satu malam usai seharian mengikuti konferensi ASEACCU tahun 2014 di Manila, saya bersama Pak Budi dan bu Marcella (saat itu Wakil Rektor 4) menyempatkan diri cuci mata ke sebuah mall. Gaya berjalan profesor kita ini membuat bu Marcella tertinggal juauuh, sebelum kemudian muncul dengan wajah tak berdaya dan terengah-engah membawa tasnya. Kasihan sekali. Waktu itu saya jadi teringat pada fabel tentang lomba lari antara kancil dengan kura-kura. Kekawatiran saya agar kami bertiga tak terpisah dan kehilangan satu sama lain membuat saya merelakan diri berperan sebagai juru info di posisi tengah-tengah jarak antara si kancil dengan si kura-kura, agar keduanya saling aware di mana partner bertandingnya berada. Jadilah di tengah orang lalu lalang orang di mall itu  terselip  tiga orang Indonesia yang sibuk dengan konsentrasi masing-masing: person yang terdepan asyik mengekplorasi  isi mall, hinggap dari satu etalase  ke etalase  lain secara cepat. Person kedua di posisi tengah separuh energi untuk melihat- lihat barang yang dijual, seperempat energi untuk mengecek keberadaan bos-nya, dan seperempat energi terakhir untuk memberi kode posisi dan menyemangati kawan yang terseok-seok tertinggal di belakang. Sementara person terakhir konsentrasinya hanya terpusat pada bagaimana ia berjuang dengan sisa-sisa napasnya untuk mampu menyelesaikan perjalanannya.

Empat tahun bersama Prof.Dr. Ir. Y. Budi Widianarko tentu tak terhitung lagi pengalaman intelektual, manajerial, dan berpikir strategis. Saya belajar banyak dari situ, termasuk saat pengalaman menghadapi kasus-kasus sulit, Pak Budi memiliki perbendaharaan verbal luar biasa dan selalu berhasil mengkonstruksi bahasa cerdas yang adem dan bisa diterima secara sosial. Salah satu yang beliau sampaikan : “Seorang pemimpin harus siap menjadi seorang pelari maraton. Menempuh laku, berjuang sendirian sampai ke tujuan.” Kata-kata ini menguatkan saya setiap kali terpaksa harus membuat kebijakan yg tidak populer.

Matur nuwun Prof.Bud untuk seluruh pengalaman yang boleh kami dapatkan. Selamat jalan dan selamat melanjutkan karya baru.