6 Sang Camar Berkelindan dengan Zakeus

Oleh: Benny D Setianto, Dekan Fakultas Hukum dan Komunikasi, Mantan Wakil Rektor IV 2009-2013

Pertama kali melihat ketika ada pertemuan Institute of Applied Research (IAR) for Eco-Settlement, dikenalkan oleh Romo P. Wirjono, SJ sebagai dosen  yang  baru  bergabung  ke  Unika SOEGIJAPRANATA.   Saat  itu kebetulan memang banyak dosen dari Universitas tetangga (agak jauh dikit) yang sedang eksodus. “Oh, dia salah satunya”. Itu yang ada dalam pikiranku saat  itu.  Ternyata  tidak  sesederhana   itu  alasannya.  Seingatku ketika diperkenalkan, disebutkan juga bahwa dia adalah calon Dekan Fakultas baru. Setelah itu hampir tidak pernah ketemu lagi karena kebetulan tugas ke Australia.

Merengkuh Lingkungan

Sepulang dari Australia, perjumpaan kami berlanjut ketika bersama sama membuat Agenda 21 untuk Semarang. Ini “proyek” pertama yang membuat kita berpeluh bersama sama hampir setiap hari untuk berdiskusi, menulis, saling mencerca dan sekaligus menemukan kesamaan minat dan perhatian dengan mahluk yang namanya lingkungan.

Gairah sepulang  studi  dari  Australia,  berbicara  tentang  hal-hal  yang mengubah  lingkungan internasional  tiba-tiba  harus diperosotan  untuk memahami realita  lingkungan di  kota kelahiranku sendiri. Aku  belajar banyak untuk melakukan interaksi dengan Bank Dunia, Pemerintah Kota dan ilmuwan-ilmuwan lingkungan di kotaku. Bagaimana realitas yang terjadi dengan aparatur  negara, yang tetap  menjadi sahabatku sampai saat  ini belajar bersama  bagaimana menyelesaikan sebuah  proyek tanpa  harus terlibat dalam urusan suap dan korupsi yang cukup kental saat itu, menjadi bagian yang menarik kutemui.

Tampaknya proyek ini menjadi awal dari keterlibatan yang lebih mendalam. Bersama dengan pak Tjahjono Rahardjo  (TR), pak Budi Widianarko (BW) mengajak untuk “melanjutkan proyek Agenda 21”.  Perbincangan tentang lingkungan hidup khususnya untuk masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan menjadi hal yang layak untuk terus direngkuh dan dihidupi. Kebetulan juga pada saat itu IAR mulai meredup bintangnya.

Akhirnya dengan mengajak beberapa kawan lagi, mulailah diskusi-diskusi tentang masalah-masalah lingkungan hidup dan perkotaan mulai semakin dilembagakan. Digagaslah pendirian Magister Manajemen Lingkungan dan Perkotaan. Dari kebiasaan berbulan-bulan menyelesaikan agenda 21, kami mengalihkannya dengan menyusun proposal pendirian program studi.

Setelah proposal berhasil kami susun dan kami kirimkan, ada kabar yang kurang menyenangkan karena ternyata penggunaan kata Manajemen membuat  kami harus bergabung  dengan  Fakultas  Ekonomi  dan  lebih parahnya lagi ada Sembilan mata kuliah pokok di Magister Manajemen yang harus diajarkan. Padahal yang dimaksudkan dengan manajemen lingkungan bukan sekedar tata kelola di sebagaimana dimaknai di Fakultas Ekonomi. Akhirnya kami menanggalkan kata manajemen.

Sejak itu pertemuan dan kegiatan untuk merengkuh lingkungan semakin terstruktur dan terprogram dalam relasi yang lebih jelas. Konferensi internasional pertama yang diselenggarakan setelah sekian lama vacuum dari Kampus Bendan terselenggara. Ada peristiwa yang menegangkan karena BW kaget dengan persiapan yang “biasa-biasa’ saja sementara sang camar mau segera melejit untuk mengepakkan sayap dengan segera. Namun, aku yang dipercaya sebagai ketua OC menyakinkan bahwa ini akan indah pada waktunya. Gaya mesin 2 tak dengan stroke pendek dan cepat dipadu dengan gaya mesin diesel boxer yang panasnya  lambat mengawali ketegangan satu demi satu peserta yang mendaftar maupun pembicara utama. Ketika akhirnya terselenggara dengan baik, akhirnya menjadi benchmarking tersendiri. Tentu saja konferensi internasional yang sesudahnya di kampus ini menjadi jauh lebih baik. Unika mulai dilihat lagi oleh masyarakat untuk urusan lingkungan. Sang camar mencari kawanan lain untuk lebih melejit dan berkelindan dengan ilmu-ilmu lainnya.

Profesor yang meresahkan

Ketika BW akan dikukuhkan sebagai Guru Besar, teman-teman PMLP secara khusus mempersiapkan beberapa poster dan leaflet untuk di tempelkan di sekitar acara dengan tulisan “tetaplah terus meresahkan kami ” atau “jangan berhenti tetap membuat resah”. Sempat terjadi polemik di antara teman- teman PMLP jika poster atau leaflet dibaca tamu yang tidak tahu konteksnya maka akan memunculkan pengertian yang salah bahwa kami tidak rela BW jadi professor. Tetapi akhirnya wacana yang menang adalah, biarkan orang lain menafsirkan apa, BW pasti tahu maksudnya.

Sebagai teman diskusi dan kerja, BW selalu muncul dengan gagasan-gagasan yang meresahkan pemikiran-pemikiran, tidak selalu bagus, seringkali wagu sehingga dikeroyok dan diejek bareng-bareng sehingga tidak dilakukan apa yang digagasnya. Tetapi  justru pikiran-pikiran yang “meresahkan” itulah yang membuat daya kreatifnya tidak pernah padam. Maka dengan segala ketulusan yang ada pada diri kami, teman dan mahasiswanya membuat poster dan menempelkannya seperti itu. Orisinalitas dan kewaguan yang ditularkan membuat kami yakin, poster itu sekalipun bisa ditafsirkan lain, tidak akan menggoyahkan pertemanan.

Sang Camar dan Zakeus

Daya kepak sang camar sempat terhenti  sejenak ketika beberapa  orang bermain-main dengan sangkar-sangkar perangkap bahkan sampai naik ke atap wuwungan gereja. Sang camar merendahkan hati, rela terbang lebih rendah untuk sementara, sambil menanti semua akan indah pada waktunya. Meski ternyata  pada saat  akan mendapatkan tongkat estafetpun,  masih dinistai dengan kisah Esau dan Yakub.  Untung sang Camar punya kisah Zakeus.

Dianggap sebagai seorang pendosa, apalagi secara fisik kecil, maka Zakeus tidak akan pernah melihat Yesus apalagi mendapatkan perhatiannya kalau tidak melakukan sesuatu secara lebih cepat  dan lebih tinggi. Dorongan camar yang ingin terbang tinggi dibarengi dengan sikap Zakeus yang ingin melihat Yesus, telah menjadi semangat yang pas ketika tongkat estafet itu diterima.

Tantangan kondisi finansial organisasi, tuntutan untuk segera menambah kesejahteraan dan memperkuat pondasi dengan merekrut sebanyak mungkin mahasiswa dengan segala keterbatasannya, bagaikan kondisi Zakeus yang dianggap bersalah, kecil dan pendek sehingga diremehkan. Inspirasi dari langkah yang dilakukan Zakeuslah, langkah kepemimpinan ini diwujudkan… berlari lebih cepat dari kawanan yang ada di sekitar Yesus, mencari pohon agar bisa lebih tinggi daripada orang-orang yang mengerumuni Yesus dan mudah-mudahan dengan itu Yesus akan tertarik.

Civitas Akademika diajak berlari lebih cepat, mendahului kawanan perguruan tinggi lainnya, mencari pohon dengan ketinggian yang tepat (jangan terlalu tinggi nanti susah dipanjat, tetapi juga jangan terlalu rendah nanti tidak terlihat), BW tidak sekedar memerintahkan agar kawanan berlari, tetapi dia sendiri yang memimpin di depan untuk berlari, menemukan pohon yang tepat untuk dipanjat.

Belajar cepat, melihat semua koneksi dan organisasi yang telah  diikuti Unika SOEGIJAPRANATA. Setelah itu mulai aktif untuk hadir dalam rapat dan pertemuan yang strategis, padahal kondisi finansial belum memungkinkan. Maka, sempat terjadi, dalam sebuah pertemuan dengan universitas katolik lainnya, dibutuhkan jumlah pemain yang cukup agar semua rapat  bisa dihadiri, namun biaya tak mendukung. Alhasil, kita minta ekstra bed agar bisa tidur bertiga. Padahal kita tahu, banyak rektor lain tidur sekamar sendirian. Agar tidak malu, cara kita masuk bergantian, tidak langsung berombongan bertiga. Selanjutnya bisa dipastikan konser music Rock dalam kamar sempit untuk tiga orang mengalun dengan dahsyat. Semangat untuk mau bersusah payah memanjat pohon, terbukti bahwa, posisi Unika SOEGIJAPRANATA, di APTIK, ASSEACU dan ACUCA segera mencuri perhatian dan akhirnya berperan penting. Jaket/Jas Ungu yang tadinya ragu kita kenakan ketika semua peserta lainnya berjaket hitam, coklat tua atau biru, sekarang menjadi penanda kebanggaan.

Zakeus tidak hanya telah  berhasil mencuri perhatian  Yesus, tetapi  juga menjamu Yesus.  Unika SOEGIJAPRANATA   juga semakin erat  dengan  Ibu Gereja Katolik tanpa harus kehilangan sikapnya untuk mendukung pluralitas masyarakat Indonesia. Penegasan semangat yang berasal dari Rahim gereja melalui Mgr Soegijapranata telah menjadi tagline dan garis hidup kampus ini di bawah BW.

Transformasi Sang Camar dengan Zakeus Way-nya

Tugas terberat seorang pemimpin yang paling penting adalah menyerahkan tongkat estafet kepada orang yang dipercayanya tanpa harus menafikkan kepercayaan public akan orang tersebut. BW sudah memilih orang untuk menemaninya terbang bersama berkelindan di antara awan. Tanggungjawab untuk mengajak dan  memberi contoh  mengepakkan sayap  lebih cepat sudah dijalankan. Saatnya menemukan ladang baru, BW pasti melakukan itu. Bukan kehendaknya membayangi pembawa tongkat estafet baru yang pasti menemukan tantangan  yang berbeda,  dunia yang semakin penuh dengan disrupsi (disruption), yang menjadi jembatan penghubung. Terima kasih Sang Camar, terima kasih sudah mau berlari cepat dan menemukan pohon yang tepat untuk dipanjat, ladang pengabdian dan pelayanan baru membutuhkanmu. Pasti kisah suksesmu menyemangati kami. Kumpulan awan dan pohon barumu siap diterbangi dan dipanjati. Namun jangan lupa kita tetap terhubung, dalam satu koneksi lewat kampus ungu. UnikaCONNECT