16 Sumur yang Tak Pernah Kering

Oleh: Prof. Dr. F. Ridwan Sanjaya, Wakil Rektor periode 2013-2017 pada saat periode kedua Prof. Dr. Budi Widianarko sebagai Rektor dan Rektor terpilih periode 2017-2021 menggantikan Prof. Dr. Budi Widianarko

Meskipun telah melalui semua proses seleksi penerimaan dosen di program studi Ilmu Komputer, nama Pak Budi Widianarko justru mulai akrab terdengar pada saat pengukuhan Guru Besar pada tanggal 28 September 2002. Padahal dari sisi struktural, pembentukan program studi Ilmu Komputer merupakan bagian dari tugasnya sebagai Pembantu Rektor IV bidang Pengembangan dan Kerjasama. Sehingga pada saat Bu Etty (sekretaris program studi Ilmu Komputer saat itu) menceritakan sosok Pak Budi dan kiprahnya, bayangan yang muncul adalah seorang yang muda, visioner, luas jejaringnya, dan punya banyak karya.

Sayang sekali saya tidak berkesempatan untuk melihat acara pengukuhan tersebut. Selain saya mulai bergabung tanggal 1 Oktober 2002, saya tidak punya bayangan apapun tentang acara pengukuhan Guru Besar di universitas. Padahal saat ditanya soal cita-cita sebagai guru besar saat seleksi penerimaan dosen, saya jawab pasti dengan mantap. Seandainya diputar ulang, tentu saja pidato pengukuhan Guru Besar Pak Budi merupakan bagian yang saya ingin dengarkan. Pada saat acara Pra Jabatan bagi dosen-dosen baru, Pak Budi merupakan salah satu pembicara yang kami tunggu. Cerita tentang sosok beliau dari teman-teman Pra Jabatan menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar, apa yang ingin dibagikan saat sesinya.

Ternyata teman-teman dosen muda tidak salah. Pak Budi bukan hanya presentasi mengenai materi jabatan akademik tetapi juga memberikan motivasi dan contoh nyata. Sekian banyak karya buku dan tulisannya di media massa sudah dihasilkan sebelum empat puluh tahun. Saat itu rasanya baper melihat aktivitas beliau yang rasa-rasanya juga saya lakukan pada saat kuliah sampai dengan masuk ke Unika Soegijapranata, meskipun dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Sharing beliau meyakinkan saya bahwa pilihan menjadi dosen tidak salah. Bukan hanya soal menginspirasi dalam mengajar tetapi juga berbagi ide dalam bentuk tulisan. Ketika nama saya disebut sebagai contoh, makin baperlah saya ha ha ha ha…

Karena program studi Ilmu Komputer terletak di gedung Mikael yang satu gedung dengan Rektorat, saya sering bertemu dengan Pak Budi di lantai 2 atau di tangga. Obrolan singkat yang mencerahkan dan beberapa ide yang disampaikan beliau sangat menginspirasi saya. Situasi egaliter dalam bekerja, meskipun Pak Budi merupakan Pembantu Rektor dan saya seorang dosen muda usia 25 tahun, tidak pernah saya temukan sebelumnya. Apalagi ingatan beliau akan diskusi sebelumnya, membuat orang yang diajak bicara merasa pembicaraan singkat tersebut bukan hanya sekedar basa-basi.

Saya masih ingat saat beliau menyampaikan perlunya saya melakukan penelitian grafis mengenai perwajahan yang cocok sebagai calon presiden. Awalnya saya kira sebagai bahan bercandaan dan basa-basi, ternyata diskusi itu dilanjutkan pada saat pertemuan berikutnya. Bagi saya yang tidak pernah mengenal penelitian selain skripsi, diskusi saat itu bagai menebarkan benih di tanah keras dan berbatu… alias teringat, terinspirasi, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan he he he… Namun pembicaraan tersebut menjadi awal bagi aktivitas saya untuk melakukan penelitian saat menjadi dosen dengan topik yang lebih teknis. Bahkan beberapa tahun kemudian, penelitian multidisiplin seperti yang disampaikan Pak Budi menjadi pilihan saya sampai dengan saat ini.

Pada saat akan studi lanjut ke jenjang Magister, Pak Budi merupakan tempat berdiskusi yang mencerahkan. Rencana untuk studi ke luar negeri yang saat itu masih terasa mustahil, terasa dimudahkan karena adanya masukan, campur tangan, dan motivasi dari Pak Budi. Bagi saya yang tidak punya role model dalam studi lanjut di luar negeri, penjelasan dari Pak Budi membuat hati ini menjadi lebih siap dalam mengirimkan lamaran ke beberapa perguruan tinggi dan penyedia beasiswa. Butuh dorongan yang kuat untuk membuat “tanah bebatuan” ini bisa menumbuhkan benih yang telah disebarkan. Peran beliau sungguh menginspirasi dalam menjalani tugas di kelas maupun saat rekan-rekan dosen berencana melanjutkan studi lanjut.

Dalam berbagai kesempatan perjalanan tugas ke luar kota maupun luar negeri, sharing dari Pak Budi merupakan bagian yang saya tunggu. Apalagi jika perjalanan tersebut tidak cukup hanya satu atau dua jam saja. Ada saja hal baru yang saya dapat dari cerita Pak Budi. Berbagai cerita yang disampaikan dalam perjalanan seperti membuka langit-langit baru dalam kehidupan saya. Meskipun seringkali kantuk sudah tidak tertahankan karena jarum jam mulai berpindah ke angka dua digit yang lebih besar, cerita Pak Budi yang penuh semangat rasanya sayang jika dilewatkan.

Masih membekas dalam ingatan saya, pada saat tim Rektorat yang baru dilantik pergi ke Bandung dalam rangka hari Studi APTIK, saya dan Bu Marcella sepanjang jalan akhirnya bergantian mendengarkan Pak Budi yang masih semangat bercerita sementara kami sudah tidak kuat menahan kantuk. Kebutuhan untuk terus mendengarkan sebenarnya besar, tetapi apa daya kekuatan sudah tidak ada… ha ha ha…. Namun wawasan, inspirasi, dan motivasi dari Pak Budi bagai sumur yang tidak pernah kering. Meskipun terus keluar dan mengairi tanah di sekitarnya namun terus, selalu ada yang baru, dan tidak pernah habis memperluas pemahaman orang-orang di sekitarnya. Semangat dan daya tahan beliau yang selalu prima dalam bekerja sepenuh hati untuk Unika Soegijapranata dan orang-orang di dalamnya mengingatkan pada semangat yang dianjurkan dalam Kolese 3:23.

Dalam pidato pengukuhan Guru Besar saya pada 17 Juli 2017 yang lalu atau 15 tahun setelah Pak Budi dikukuhkan, saya menyampaikan bahwa kesempatan dan kepercayaan yang diberikan oleh Prof. Dr. Budi Widianarko selaku Rektor pada tahun 2013 bagi saya untuk terlibat sebagai Wakil Rektor telah memberikan keleluasaan untuk bisa secara langsung terlibat dan mencurahkan ide-ide bagi kampus ini. Bagai sumur yang tidak pernah kering, Pak Budi selalu memberikan inspirasi dan wawasan baru dalam empat tahun terakhir ini dalam bekerja bersamanya. Adalah kesempatan yang luar biasa untuk dapat belajar secara langsung dan dari dekat dari sosok yang saya anggap sebagai mentor, kakak, sekaligus pimpinan. Menjadi Guru Besar pada usia muda merupakan salah satu inspirasi yang berdampak dari beliau. Karena beliau menjadi sebagai salah satu Guru Besar di Unika Soegijapranata saat usianya menjelang 40 tahun.

Saat ini, ada satu lirik lagu dari Daniel Sahuleka dengan beberapa modifikasi, yang mungkin bisa menggambarkan perasaan saya, terutama saat serah terima Rektor pada tanggal 31 Agustus 2017.

Tomorrow’s near, never I’ve felt this way

Tomorrow, how challenging it’ll be that day

It seems hefty, ought to try what I have

At this moment I should say

I thanked you, oh proud of you

Oh yes I do

 

Don’t sleep away this night my mentor

Please stay with me at least ‘till dawn

It hurts to know another hour has gone by

And every minute is worthwhile

It makes me so anxious

 

Don’t sleep away this night my mentor

Please stay with me at least ‘till dawn

It hurts to know another hour has gone by

The reason

I am proud of you