3 Terbang Bersama Sang Camar

Oleh: Angelika Riyandari, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni

Burung Camar merupakan simbol yang tepat  untuk menggambarkan Prof Budi dan Unika Soegijapranata di kurun kepemimpinannya. Ketika di acara pelantikan Prof Budi sebagai Rektor Unika untuk keduakalinya saya mendengarkan pemaparan  Prof Budi tentang  Jonathan Livingston Seagull, burung camar yang menginspirasinya dalam berkarya, saya seketika bisa mencari kesamaan antara Prof Budi dan Jonathan Livingston, si burung Camar. Kesamaan yang saya lihat tentu saja bukan kesamaan fisik namun kesamaan kualitas dalam berkarya. Sama dengan burung camar Jonathan Livingston, saya melihat Prof Budi sebagai seorang yang berani mengikuti mimpinya untuk mendapat pencapaian yang tinggi. Kualitas  lain burung camar yang saya lihat ada pada Prof Budi adalah kegesitan, kefleksibelan dan keindahannya dalam melakukan maneuver ketika terbang.

Sebagai pengelola fakultas yang bekerja di bawah kepemimpinan Prof Budi, saya tentu harus sedikit banyak menyesuaikan diri dengan kualitas si burung camar Jonathan Livingston.  Penyesuaian yang tidak mudah untuk saya karena kegesitan dan kecepatan terbang Prof Budi sering membuat saya glagepan, struggle for air. Prof Budi banyak membukakan kesempatan bagi fakultas untuk berkembang. Salah satunya, yang mengesankan adalah ketika Prof Budi memberi dorongan untuk membuka program Englishpreneurship. Meskipun kami sudah lama menawarkan Business English di Sastra Inggris, kami belum pernah  mencoba  untuk mengembangkan Business English menjadi sesuatu yang lebih besar.

Jika dilihat dari kenyataan bahwa mata kuliah yang berhubungan dengan business lebih diminati mahasiswa dibandingkan mata  kuliah teaching English,  maka seharusnya mudah  bagi  fakultas  untuk  lepas  landas dengan Englishpreneurship. Namun ternyata  tidak  semudah  itu. Kami gagap dalam menterjemahkan  arah Englishpreneurship. Kami  awalnya merancang sebagai entrepreneurship yang bergerak di bidang jasa bahasa Inggris namun kemudian karena beberapa hal bergeser  ke English dan entrepreneurship yang lebih condong ke bisnis dan mirip FEB. Di tengah kebingungan itu, dalam salah satu perbincangan informal kami, Prof Budi mengatakan bahwa kalau memang publik menerima Englishpreneurship sebagai gabungan antara English dan entrepreneurship, so be it. Pernyataan dari Prof Budi itu memantapkan langkah fakultas mengembangkan Englishpreneurship dan mendorong pemikiran ke banyak hal kreatif dan “beda’. Supaya jiwa bahasa Inggrisnya lebih kental dari nuansa bisnisnya, kami mencoba bongkar pasangkan berbagai kemungkinan sehingga pada akhirnya kami mengembangkan pengajaran entrepreneurship dengan bahasa Inggris sebagai selling point. Saat ini program Englishpreneurship semakin berkembang baik dari jumlah mahasiswa maupun dari sisi kualitas pengajaran.

Tanpa adanya “paksaan” dari Prof Budi, saya kira fakultas tidak akan berani melompat dan terbang mengembangkan program Englishpreneurship seperti sekarang ini. Dan, tanpa adanya dukungan dari Prof Budi, saya kira juga program ini akan layu sebelum berkembang.  Program Englishpreneurship ini juga memberi pelajaran lain pada fakultas yaitu bahwa suatu ilmu itu dapat lebih berkembang jika di kolaborasikan dengan ilmu lain. Program Englishpreneurship ini menguatkan Fakultas Bahasa dan Seni untuk terbang bersama sang Camar.

Di samping Englishpreneurship, Prof Budi juga menguatkan ide pembukaan program studi yang berhubungan dengan seni. Prof Budi bercerita bahwa di Korea Selatan, banyak orang yang naik kereta sambil mendengarkan musik klasik, bahwa seni terutama  yang berasal  dari Barat, tampaknya menjadi penanda  prestige  seseorang  di Korea  Selatan. Prof Budi juga menyinggung bahwa pertunjukan drama seperti musical drama seharusnya bisa  diselenggarakan oleh  Fakultas. Bahwa seni  itu  penting dan  ada banyak peluang pengembangan di sana memberi dorongan bagi Fakultas untuk membuka program studi yang berhubungan dengan seni.  Fakultas sudah mengawali dengan pergantian nama dari Fakultas Sastra ke Fakultas Bahasa dan Seni, dengan mimpi untuk mengembangkan program studi yang berhubungan dengan, awalnya seni musik. Namun kemudian pilihan jatuh ke program studi Performing Arts yang lebih menyeluruh dan sesuai dengan kemampuan lulusan  sekolah  menengah  di  Jawa Tengah.  Di  sepanjang perencanaan   ini,  Prof  Budi membantu  dengan  mencarikan  peluang- peluang yang ada, termasuk melakukan pendekatan untuk kemungkinan mempekerjakan pengajar asing di bidang seni musik. Pembukaan program studi ini merupakan “hutang” yang belum terbayar.

Demikianlah kesan  saya  sebagai  pengelola  Fakultas  selama “terbang” bersama Prof Budi. Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, mungkin ada satu lagi kesan saya terhadap Prof Budi. Saya mungkin salah, juga mungkin tidak tepat dalam memberi istilah, namun saya melihat Prof Budi seorang yang “gumunan”. Ketika bercerita tentang hal-hal yang dilihat Prof Budi ketika kunjungan ke kota atau negara lain seperti tentang orang-orang Korea yang mendengarkan musik klasik di kereta atau ketika bercerita tentang artikel yang dibaca, Prof Budi sering mengekpresikan ceritanya dengan  nada “gumun”. Ke-gumunan Prof Budi ini bukan dalam arti “ndeso”, memakai istilah yang dipopulerkan Kaesang akhir akhir ini, namun dari kesan yang saya tangkap, gumun dalam arti kritis. Sama seperti  si camar Jonathan Livingston yang “gumun” dengan kenyataan bahwa camar yang lain yang dengan rutin, tanpa  berpikir,  terbang  ribuan kali hanya dengan alasan mencari makan, Prof Budi mampu “gumun” sehingga sesuatu yang biasa untuk orang lain dijadikan bahan yang menjadi tidak biasa. “Gumun” buat saya menjadi tidak biasa karena saat ini begitu banyak informasi yang saya lihat, saya baca, dan saya dengar setiap hari sehingga otak saya menjadi bebal. Banyak hal yang lewat begitu saja tanpa saya “gumuni”, banyak hal yang lewat begitu saja tanpa saya maknai. Karena itu saya kagum pada kemampuan Prof Budi untuk “gumun”, untuk memaknai sesuai yang dilihat, dibaca, dan didengar. Sebagai rektor, pasti lebih banyak hal yang buzzing di dalam pikiran Prof Budi, namun hal-hal yang banyak itu dijadikan dasar untuk merefleksikan sesuatu.

Akhir kata, terima kasih Prof Budi karena dalam saya dan fakultas Bahasa dan Seni diberi kesempatan untuk “terbang” bersama untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi.