BAB I PENDAHULUAN

Organisasi pendidikan dan pola pendidikan adalah satu mata uang dengan dua sisi yang saling inheren-melekat. Di dalam suatu organisasi pendidikan tergambar dengan jelas pola pendidikannya; demikian pula di dalam pola pendidikan terkandung dengan jelas organisasi pendidikannya. Organisasi pendidikan Indonesia, contohnya, membagi secara kelembagaan pendidikan seperti dinyatakan dalam Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ke dalam pembedaan antara jalur,  jenjang, jenis  dan satuan pendidikan. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Sementara itu, yang dimaksudkan dengan jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang  dikembangkan, pada pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Ada pun jenis pendidikan didefinisikan sebagai kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan; dan satuan pendidikan itu sendiri maknanya ialah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal. Uraian dalam buku ini berusaha menelusuri organisasi pendidikan (di mana pun) sertamerta mencoba juga membandingkan pola-pola pendidikan (di Negara mana pun).  Rujukan referensi merangkum buku-buku lama maupun  baru sebagai upaya “penelusuran sejarah.”

Ada saatnya dulu, kelompok masyarakat sederhana belum mengenal lembaga-lembaga resmi yang mengatur atau mengorganisasi serta meenyalurkan berbagai kebutuhan dan kepentingan hidup mereka. Contohnya masyarakat Indian waktu itu tidak perlu meminta bantuan lembaga sekolah untuk mengajarkan kepandaian memanah kepada generasi penerusnya. Bagi mereka, cukup dengan uluran tangan dari para ayah dan saudara tuanya maka bisa dipastikan hampir seluruh remaja mampu menguasai teknik memanah dari tingkat dasar sampai kategori mahir (Horton dan Hunt, 1999: 333).

Seiring dengan bergulirnya roda sejarah kehidupan, maka prestasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh manusia menjadi sedemikian kompleks, sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan-kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan di masa datang. Beberapa faktor telah melatarbelakangi terbentuknya lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola alokasi pemenuhan kebutuhan di antaranya (i) Pertumbuhan jumlah populasi manusia yang mempengaruhi tingkat penguasaan dan ketersediaan sumber daya alam; (ii) Kompleksnya pranata kebudayaan dan mekanisme pengetahuan beserta teknologi terapan; dan (iii) Implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manusia yang kian rasional Horton dan Hunt, 1993).

Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang perangkat-perangkat pengetahuan dan keterampilan tidak memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para generasi muda agar terjamin kelestariannya merupakan cetak biru kekuatan yang melatarbelakangi berdirinya sekolah sebagai lembaga pendidikan. Walaupun wujudnya berbeda-beda dalam tiap-tiap negara, keberadaan sekolah merupakan salah satu indikasi terwujudnya masyarakat modern.

Dalam hal ini para sosiolog telah melakukan ikhtiar ilmiah untuk menentukan taraf evolusi perkembangan masyarakat manusia. Dimulai dari August Comte (1798-1857) dengan karyanya yang berjudul Course de Philosophie Positive (1844). Comte menekankan hukum perkembangan masyarakat yang terdiri dari tiga jenjang, yaitu jenjang teologi di mana manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu pada hal yang bersifat adikodrati. Taraf perkembangan selanjutnya disusul pencapaian manifestasi kemampuan manusia untuk menangkap fenomena lingkungan dengan menyandarkan pada kekuatan-kekuatan metafisik atau abstrak. Hingga pada level tertinggi, taraf positif. Iklim kehidupan demikian ditandai dengan prestasi kemampuan manusia untuk menjelaskan gejala alam maupun sosial berdasar pada deskripsi ilmiah melalui pemahaman kekuasaan hukum objektif (dalam Sunarto, 2000:3).

Dari pengertian tersebut, perwujudan manusia positives hanya mampu ditopang oleh orientasi pendidikan yang sudah ter-lembaga-kan  secara mantap melalui aplikasi fungsi sekolah-sekolah modern. Di lain pihak, tak kalah pentingnya buah pikiran Emile Durkheim (1858-1912) berupa buku yang berjudul The Division of Labour in Society (1968) juga menganalisis kecenderungan masyarakat maju yang di dalamnya terdapat pembagian kerja dalam pemetaan bidang-bidang ekonomi, hukum, politik pendidikan, kesenian dan bahkan keluarga. Gejala tersebut merupakan dampak dari penerapan sistem ekonomi industri yang di dalamnya memerlukan spesialisasi peran untuk mengusung keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya (Johnson, 1986 : 181-184). Ilustrasi di atas hanya dapat tercermin pada konteks organisasi lembaga pendidikan yang telah mampu memproduksi manusia profesional dengan spesifikasi keahlian. Sedangkan untuk mewujudkan figur-figur manusia itu hanya mampu dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan modern.

Dari analisis ilmiah Comte dan Emile Durkheim di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sekolah yang mewarnai dunia kehidupan manusia saat ini merupakan sebuah keniscayaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi mutakhir. Sementara melihat konteks sosial yang terbentuk dapat dijawab pula bahwa sekolah juga masuk dalam kategori organisasi pada umumnya yang mengemban konsekuensi organisatoris. Oleh karena itu keberadaan sekolah patut dimasukkan sebagai salah satu organisasi yang memanfaatkan mekanisme birokratis dalam mengelola kerja-kerja institusinya. Beberapa prinsip penerapan birokrasi juga terdapat dalam lembaga sekolah antara lain:

  • 1) Aturan dan prosedur yang ketat melalui birokrasi,
  • 2) Memiliki hierarki jabatan dengan struktur pimpinan yang mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda,
  • 3) Pelaksanaan administrasi secara professional,
  • 4) Mekanisme perekrutan staf dan pembinaan secara bertanggung jawab,
  • 5) Struktur karier yang dapat diidentifikasikan, dan
  • 6) Pengembangan hubungan yang bersifat formal dan impersonal (Robinson, 1981: 241)

Merujuk analisis Robinson (1981) keberadaan organisasi merupakan hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Ini dikarenakan organisasi merupakan suatu wadah bagi masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang sebelumnya tidak dapat dicapai secara perorangan. Tujuan menjadi penting dalam organisasi karena turut menentukan arah dan jenis organisasi, misalnya suatu organisasi digolongkan organisasi pendidikan bila tujuan yang ingin dicapai berorientasi pada bidang pendidikan. Pada dasarnya organisasi ini bertujuan untuk mendidik dan melatih sumber daya manusia yang ada di dalamnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki. Keberhasilan suatu organisasi pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dapat dilihat dari efektifitas organisasi tersebut. Namun, dalam mencapai tujuan pendidikan tidaklah mudah dan masalah seringkali muncul dalam proses pencapaian. Ada masalah yang akhirnya dapat diselesaikan dengan baik tapi tidak sedikit juga masalah yang dibiarkan terkatung-katung tanpa solusi yang tepat. Jika hal seperti ini tidak segera dicari jalan keluarnya maka dapat mempengaruhi kinerja organisasi pendidikan. Disinilah, letak pentingnya analisis organisasi pendidikan untuk menganalisa aspek-aspek penting dalam organisasi. Adanya analisis organisasi pendidikan diharapkan dapat memperbaiki dan mengembangkan organisasi pendidikan sehingga sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirancang dan ditetapkan bersama. Selain itu diharapkan dengan adanya analisis organisasi pendidikan dapat menciptakan organisasi pendidikan yang efektif dan efisien.

Organisasi pendidikan adalah lembaga penyelenggara pendidikan yang sangat mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan. Dalam  proses penyelenggaraan  program pendidikan, para pihak dalam organisasi pendidikan terkait langsung dengan pelayanan pendidikan yang pasti selalu menghadapi permasalahan. Perlbagai permasalahan timbul karena masyarakat membutuhkan pelayanan pendidikan yang bermanfaat dan aplikatif sesuai tuntutan zaman. Oleh karena itu, organisasi pendidikan harus efektif dan dinamis dalam pelayanannya demi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan.

Organisasi adalah institusi atau wadah tempat orang berinteraksi dan bekerjasama sebagai suatu unit terkoordinasi yang terdiri dari setidaknya dua orang atau lebih yang berfungsi mencapai sasaran (Sagala, 2009: 13). Sedang  Siagian (1989) mendefinisikan organisasi sebagai setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama serta secara formal terlibat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan, dimana terdapat orang yang disebut atasan dan bawahan. Organisasi secara umum memiliki sumber – sumber  daya sebagai unsur dasar pembangunannya, seperti bahan mentah, tenaga kerja, modal,dan lain – lain yang berasal dari lingkungan organisasi tersebut.

Organisasi merupakan suatu entitas yang terus berubah. Perubahan – perubahan dalam pola organisasi dapat timbul sebagai reaksi atas tuntutan perkembangan jaman maupun perubahan yang berupa umpan balik atau koreksi  terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam organisasi tersebut sebelumnya. Oleh karena itu, organisasi pendidikan, baik pada tingkat pusat sampai kabupaten/kota dan satuan pendidikan, menggunakan tim kerja yang menangani tugas mengantarkan pendidikan kepada masyarakat luas.

Buku Analisis Organisasi Pendidikan  dan Pola Pendidikan,  ini mencoba menganalisis organisasi pendidikan dan pola pendidikannya. Maksudnya, setelah melakukan analisis organisasi pendidikannya, diperlukan pula melihat pola pendidikannya: Apakah ada pengaruh langsung antara organisasi pendidikan dengan polanya. Dalam melihat pola pendidikan ini, dirujuk contoh pola pendidikan di sejumlah negara lengkap dengan latarbelakang sejarah masing-masing negara.

Itulah mengapa pada Bab II dan III uraian lebih fokus ke organisasi dan organisasi pendidikan; sedangkan pada Bab IV fokus utamanya ialah pola-pola pendidikan yang dapat dirujuk sebagai contoh bila perlu. Pada Bab V uraian lebih kepada organisasi pendidikan dan pola alternatif yang perkembangannya dewasa ini bisa diteliti lebih lanjut.