14 Alumni dan Almamater

*       Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 30 Desember 2013

Di penghujung tahun 2013 Universitas Diponegoro memiliki Ketua Umum Ikatan Alumni yang baru. Drs. Maryono, MM. – Dirut Bank Tabungan Negara – secara aklamasi terpilih menggantikan Dr. (HC). Hendarman Supandji, SH., CN.  Sebelumnya, dalam Musyawarah Nasional ke VIII Ikatan Alumni (IKA) Undip Hendarman Supandji berharap Alumni Undip bisa jadi menteri atau presiden,  bukan hanya satu atau dua tetapi harus lebih banyak (Suara Merdeka, 7/12/2013).

Harapan Hendarman bukan hanya sah tetapi memang itulah yang keniscayaan yang dirindukan oleh semua almamater   – mampu turut mengantarkan alumninya meraih keberhasilan tertinggi di berbagai bidang kehidupan. Keberhasilan para alumni sebuah almamater sungguh membenarkan ungkapan Benjamin Franklin – salah satu tokoh pendiri Amerika Serikat – bahwa “Investment in knowledge pays the best interest”. Sebagai sebuah investasi, pendidikan (universitas) memang nyaris selalu menghasilkan “buah” sosial-ekonomi yang lebat. Tidak ayal banyak pihak yang menganggap pendidikan universitas sebagai tangga untuk naik kelas sosial-ekonomi.

Menyaksikan keberhasilan para alumninya tentu saja sah ketika almamater mengharapkan adanya sumbangan balik. Semakin banyak alumni yang berkedudukan tinggi dalam pemerintahan dan dunia usaha tentu sang almamater semakin berpeluang untuk mendapatkan banyak sumbangan sebagai ungkapan terimakasih. Lantas, digelarlah kegiatan-kegiatan seperti “Temu Alumni”, “Pulang Kandang” dan “Turnamen Golf” – yang bukan hanya ajang “kangen-kangenan” belaka melainkan lebih demi penggalangan dana.

Relasi almamater dan alumni tidak selalu sekedar penyaluran sebagian “buah” investasi pengetahuan yang diungkapkan Benjamin Franklin itu. Tetapi seringkali universitas, sebagai almamater, sering terjebak untuk membangun relasi dengan alumninya  dalam  kerangka  pragmatis  –  kontribusi  finansial – belaka. Dimensi nir-benda (intangible) dari alumni juga selayaknya diperhitungkan. Kisah Muhammad Hatta dan almamaternya mungkin mewakili sisi nir-benda ini.

Di minggu ketiga bulan November 2013 di sela-sela upacara pengukuhan salah seorang sahabat sebagai Guru Besar di Erasmus University, Rotterdam, Negeri Belanda, saya sempat membaca majalah  kampus  itu,  Erasmus  Magazine  (edisi  Nov.  2013).  Di sana, saya menemukan suatu hal yang sungguh membanggakan. Ternyata di kampus itu, ada satu bangunan – flat untuk mahasiswa internasional – dengan nama Hatta Building. Nama “Hatta” itu diambil dari Mohammad Hatta (1902-1980) – salah satu Dwi- Tunggal Proklamator kemerdekaan negeri kita tercinta, Indonesia.

Yang menarik untuk dipertanyakan adalah mengapa nama Hatta yang dipilih untuk gedung itu? Dari puluhan ribu alumni Erasmus University Rotterdam tentu saja Hatta bukan satu satunya tokoh besar. Memang Mohammad Hatta “hanyalah” satu dari sekian banyak notable alumni universitas itu. Dalam bidang politik setidaknya ada alumni yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri – termasuk Hatta sendiri. Bahkan di bidang studi Hatta, yaitu Ilmu Ekonomi, banyak alumni Rotterdam yang menjadi tokoh internasional – termasuk pemenang Hadiah Nobel Jan Tinbergen. Belum lagi sejumlah Menteri, CEO Korporasi Internasional   dan Guru Besar Ilmu Ekonomi ternama di dunia turut melengkapi pelangi alumni Rotterdam.

Tentu saja pihak Erasmus University tidak gegabah dalam memilih nama untuk bangunan (wisma mahasiswa internasional) yang begitu stratejik. Hatta memang tidak berhasil merampungkan studi doktornya di sana – karena aktivitasnya di kancah politik – beliau menyelesaikan semua tugas perkuliahan – dan bahkan mempelajari secara intensif berbagai cabang ilmu ekonomi – kecuali disertasi. Sehingga beliau “hanya” menyandang gelar doktorandus (Drs. – calon doktor). Segera setelah merampungkan studi HBS di Batavia pada tahun 1921, Hatta berangkat ke Belanda untuk belajar di Netherlands School of Commerce (Nederlandsche Handels-Hoogeschool)– cikal bakal Fakultas Ekonomi Erasmus University, Rotterdam. Beliau belajar di sana selama 11 tahun sebelum mendapatkan gelar Drs-nya itu. Jika dinilai dari pencapaian akademiknya mungkin banyak orang yang akan menilai beliau sebagai sosok biasa-biasa saja. Tetapi jika kita cermati sepak terjang beliau di kancah politik pra-kemerdekaan maka keputusan Erasmus University untuk menghargai beliau tidak dapat diragukan.

Belum lagi setahun belajar di Belanda, Hatta telah menjadi tokoh Perhimpunan Indonesia (PI) – sebuah perkumpulan kebangsaan di sana. Hatta selama 4 tahun (1922-1925) berperan sebagai Bendahara, dan 5 tahun selanjutnya sebagai Ketua hingga tahun 1930. Hatta juga aktif dalam Liga Mahasiswa Anti Imperialisme – yang mempertemukannya dengan tokoh-tokoh seperti Nehru dan Ho Chi Minh. Seruan kemedekaan untuk Indonesia diungkapkan

Hatta secara lantang dan terbuka dalam berbagai kesempatan, terutama melalui majalah PI, “Indonesia Merdeka”. Pada tahun 1927, Hatta sempat dipenjarakan oleh Pemerintah Belanda selama hampir 6 bulan. Pembelaannya yang bertajuk “Indonesia Vrij” dalam sidang di pengadilan saat itu sempat menggetarkan banyak pihak – dan bahkan menarik simpati dari banyak kalangan terdidik di Belanda.

Sekembalinya ke Indonesia jejak perjuangan Hatta tidak tertahankan lagi, hingga berpundak pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bersama Sukarno. Dalam kurun waktu 1932-1945 serangkaian pemenjaraan dialami oleh Hatta. Bahkan di tahun 1948 pun Hatta sempat ditahan di Pulau Bangka selama enam bulan – pasca serangan Belanda ke Yogyakarta Desember 1948. Selanjutnya dari 23 Agustus 1949 – 2 November 1949 Hatta memimpin delegasi Republik Indonesia di Konferensi Meja Bundar – yang berujung pada penyeraham kekuasaan sepenuhnya oleh Belanda ke Indonesia. Sejak itu relasi Hatta dengan Sukarno dan Republik mengalami pasang surut  sampai akhirnya beliau mengundurkan diri dari Jabatan Wakil Presiden pada tanggal 1 Desember 1956 – karena kecewa pada Demokrasi Terpimpin yang diusung oleh Sukarno.

Meskipun prestasi politik dan intelektualnya sama sekali tidak sederhana, Hatta adalah sosok yang bergaya hidup sangat sederhana. Sungguh sebuah “ironi” yang ketika seorang Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden pertama Republik ini tidak mampu membeli sepatu “Bally” yang diidamkannya karena dirasa terlalu mahal.  Tetapi justru sosok sederhana inilah yang mendapatkan tempat terhormat di almamaternya, sebuah universitas dengan reputasi yang serba hebat. Marilah kita belajar dari kesederhanaan hidup dan ketidaksederhanaan karya seorang Mohammad Hatta.