24 Ekologi Nurani

 

Dalam Sarasehan “Perempuan Membaca Amdal” di kampus Unika Soegijapranata, Semarang 21 April 2016 yang lalu, hadirin terpukau mendengar tutur kata lugas nan runtut dua perempuan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah yang menolak kehadiran pabrik semen di kampung mereka. Dengan menggunakan bahasa Jawa sederhana, Gunarti (Pati) dan Sukinah (Rembang) menyampaikan dengan jelas dan masuk akal dampak kehadiran pabrik semen terhadap perikehidupan mereka selaku petani. Pandangan mereka menarik untuk disandingkan dengan isi dokumen AMDAL yang disusun oleh para pakar.

Bagi kedua perempuan itu bumi Kendeng – yang mereka sebut sebagai Ibu Bumi –  adalah Sang Ibu Pemberi kehidupan bagi petani, peternak, anak-anak, pepohonan dan burung. Oleh karenanya, manusia harus membalas budi Ibu Bumi dengan merawatnya   dan   mensedekahinya   –   bukan   merusaknya dengan penambangan bahan semen. Kedua perempuan itu menyuarakan kekhawatiran akan musnahnya sumber-sumber air oleh operasi pabrik semen yang akan membuat mereka tidak bisa bertani lagi.

 

 

 

*        Dimuat di Harian KOMPAS 7 Mei 2016

 

Begitu sederhana, namun gamblang, kearifan lokal yang  mereka pegang dengan penuh keyakinan itu. Mereka yang mempelajari keberadaan dan pemanfaatan ekosistem karst menurut cara kerja ilmu pengetahuan modern yang sarat kaidah ilmiah – seperti para pakar penyusun dokumen AMDAL – sangat boleh jadi memandang sebelah mata pemahaman kedua perempuan itu. Dalam perkembangan pengetahuan ilmiah yang kompleks dan terstruktur ketat, pemahaman Gunarti dan Sukinah terkesan dangkal. Bukankah terlalu naif jika penolakan eksploitasi ekosistem karst oleh industri semen hanya didasarkan pada prinsip balas budi kepada Ibu Bumi, Ibu sang Pemberi?

 

Ketegangan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bukan hanya kisah di pegunungan Kendeng. Kisah serupa juga pernah terjadi di Hong Kong pada tahun 1965, seperti dicatat oleh Anderson – anthropolog Universitas California Riverside. Ketika itu berlangsung pembangunan rumah sakit di lereng curam yang menghadap ke teluk Castle Peak.   Atas pembangunan di lokasi ekstrim itu warga setempat spontan berkomentar “Ini sungguh berbahaya, fondasi rumah sakit itu memotong urat nadi sang Naga”. Peringatan itu mewakili keyakinan warga setempat tentang keberadaan mahluk Naga yang hidup dalam tanah di lereng perbukitan itu. Tanpa memerlukan waktu lama, peringatan itu terbukti. Fondasi rumah sakit yang baru selesai ditanam, roboh diterjang longsoran tanah dari atasnya. Fondasi itu tumbang setelah Hong Kong dihajar typhoon yang disusul hujan lebat selama beberapa hari. Atas peristiwa itu, warga setempat berujar: “Lihat! ini pasti terjadi karena   nadi sang Naga telah dipotong”. Mungkin sebagian orang menganggap apa yang dipahami warga teluk Castle Peak itu sebagai takhyul belaka. Tetapi sebagai sebuah sistem pengetahuan kearifan lokal itu terbukti mampu bekerja dengan baik dengan memberikan ramalan yang tepat.

 

Saling Melengkapi

 

Dalam perkembangannya – seperti diungkapkan oleh Monica Hernandez-Morcillo dkk   dalam Journal Environment (Januari- Februari 2014) – pengetahuan ekologi tradisional semakin diperhitungkan dalam pengembangan ilmu, kebijakan dan manajemen lingkungan. Meskipun berbeda pengetahuan ilmiah (PI) dan pengetahuan ekologi tradisional (PET) dianggap saling melengkapi dan memperkaya dalam upaya memperbaiki proses pengambilan keputusan lingkungan dan pemahaman tentang keberadaan serta dinamika ekosistem.

 

PET tidak hanya diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya saja. Karena melekat erat pada perilaku sehari-hari warga maka transmisi PET bisa terus menerus dan meluas. Terlebih lagi, PET juga terdokumentasi sebagai naskah tertulis dan berbagai media baru. Lebih jauh warga lokal juga telah mampu secara dinamik mengkombinasikan PET secara tradisional dan oral dengan pegetahuan ekologi popular serta ilmiah – sebagai exogenous knowledge. Kemampuan untuk mengombinasikan dua sistem pengetahuan itu juga terbaca dari paparan Gunarti dan Sakinah tentang dampak pabrik semen. Mereka menggabungkan ajaran untuk setia kepada Ibu Bumi, sebagai Sang Ibu Pemberi, dengan elemen-elemen pengetahuan ilmiah seperti daya dukung ekosistem, cekungan air tanah, dan rencana tata ruang dan wilayah – yang mereka peroleh dari pertukaran wacana dengan para pelaku pengetahuan ilmiah.

 

Kesenjangan pemahaman dan keyakinan antara para pakar penyusun AMDAL dan warga setempat – yang diwakili oleh dua perempuan itu – menunjukkan tiada pihak yang bisa memonopoli kebenaran. Apalagi dua pihak yang “bersitegang” menghidupi dua sistem pengetahuan yang berbeda, yaitu PI dan PET. Dalam hal ini, kebenaran tidak tunggal melainkan beragam. Sudah selayaknya, pelaku PI tidak terlalu menganggap remeh PET.

 

Dalam persoalan lingkungan, sebenarnya kedua jenis pengetahuan ini justru perlu diselaraskan – namun sayangnya kesadaran untuk itu sering terlambat. Sebagai “adik”, PI sering tidak memperhitungkan muatan kebenaran dalam PET, sang “kakak”. Anderson (1996) menyarankan cara kerja PI hendaknya diubah untuk mengakomodasi kebenaran sistem pengetahuan lain, termasuk PET. Dalam ancangannya, PI harus secara lambat laun mengakumulasi berbagai pengamatan yang bermanfaat dan meramunya dengan teori-teori yang kokoh. Menurut Anderson, pengamatan dibuat untuk diperbaiki dan dilengkapi; teori diciptakan untuk dirubuhkan dan diganti. Singkatnya, ilmu pengetahuan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan dan piranti- piranti untuk menjalankan observasi dan menciptakan teori – bukan kebenaran mutlak.

 

Penolakan hasil studi ilmiah – seperti AMDAL – oleh masyarakat lokal yang mengandalkan kearifan lokal haruslah dipandang sebagai  sebuah  tantangan  untuk  berlangsungnya  integrasi  PI dan PET. Dalam kerumitan persoalan lingkungan, keragaman kebenaran adalah sebuah keniscayaan. Berbagai kebenaran harus bisa hidup berdampingan. Jika ini disadari oleh para pengambil kebijakan maka banyak ketegangan lingkungan yang bisa diatasi dengan mencari titik temu – bukan dengan kepongahan sistem pengetahuan (ilmiah) yang sedang berkuasa. Keselarasan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal akan menorehkan wajah ekologi yang peka pada panggilan nurani.