22 “Gayeng” dan Modal Sosial

*       Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 25 Februari 2016

Setengah tahun sudah “Jateng Gayeng” diluncurkan sebagai branding Provinsi Jawa Tengah di Purwokerto. Menurut Tonny Subagyo, penciptanya, “Jateng Gayeng” mengandung makna masyarakat Jawa Tengah yang penuh semangat, berani, tangguh, jujur, ramah, menggembirakan, harmonis dan hangat. Ungkapan “Jateng Gayeng” juga mengandung makna interaksi antar anggota masyarakat – yang setara, saling terbuka dan dipenuhi kegembiraan serta kehangatan. Kata “gayeng” juga menggambarkan kondisi lingkungan yang mendukung perikehidupan masyarakat Jawa Tengah sehingga dapat memiliki interaksi yang setara, saling terbuka dan dipenuhi kegembiraan serta kehangatan. Dengan kata lain, diperlukan kondisi lingkungan yang “baik dan terawat” untuk mendukung terjadinya suasana dan semangat “gayeng”. Dengan demikian, kata “gayeng” sudah mencakup unsur spirit dan atmosfir.

Menurut saya, branding “Jateng Gayeng” memiliki kelebihan karena sifatnya yang kurang asertif dibandingkan, misalnya, dengan branding Mboten Ngapusi, Mboten Korupsi”. “Jateng Gayeng” lebih sebagai ajakan dan ungkapan kebanggaan terhadap spirit dan atmosfir lokal Jawa Tengah.   Pemilihan “gayeng” sebagai tagline bisa dikatakan sebagai pilihan yang secara stratejik sesuai dengan kebutuhan aktual Jawa Tengah saat ini.   Jawa Tengah memerlukan kerjasama dan sinergi yang melibatkan segenap pemangku kepentingan untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembangunan. Dengan spirit dan atmosfir “gayeng” kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompok  diharapkan  dapat  terkurangi.    Singkatnya,  branding ini layak diangkat sebagai salah satu strategi untuk menguatkan modal sosial (social capital).

Kehadiran branding Jateng Gayeng” jika dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah provinsi akan memupuk modal sosial yang sangat berharga bagi pewujudan Pembangunan Daerah yang Berkelanjutan (MacNeill, 2007 dalam Redekop, 2010).  Mengacu Francis Fukuyama, modal sosial dimaknai sebagai norma informal dalam wujud nyata yang mendorong kerjasama antar perorangan. Di dalam dunia ekonomi, modal sosial mereduksi biaya transaksi, sedangkan di dunia politik, modal sosial mendorong terjadinya kerjasama dalam pencapaian tujuan bersama.

Seperti diungkapkan di atas, dalam perkara interaksi antar anggota masyarakat, “gayeng” mengandung makna setara, saling terbuka dan dipenuhi kegembiraan serta kehangatan. “Gayeng” juga menggambarkan kondisi lingkungan yang memungkinkan terjadinya interaksi yang setara, saling terbuka dan dipenuhi kegembiraan serta kehangatan itu. Singkatnya, “gayeng” mencakup baik unsur spirit dan atmosfir interaksi antar anggota masyarakat.

Modal sosial terbangun atas norma-norma tradisional seperti kejujuran, rasa saling percaya (trust), semangat timbal balik (reciprocity), komitmen dan tanggung jawab, hingga nilai dan doktrin yang kompleks seperti agama (Francis   Fukuyama, 2001). Empat unsur kunci dalam interaksi antar warga yang “gayeng”, yaitu kesetaraan, saling keterbukaan, kegembiraan dan kehangatan, jelas dapat menguatkan norma-norma penyusun modal sosial. Unsur kesetaraan merupakan bagian dari norma semangat timbal balik;   begitu pula unsur keterbukaan adalah bagian dari norma kejujuran dan rasa saling percaya. Di dalam kelompok yang memiliki modal sosial dikenal adanya ‘radius of trust’, yaitu lingkaran anggota yang menjalankan norma kerjasama secara nyata. Jika modal sosial suatu kelompok menghasilkan luaran yang positif, maka ‘radius of trust’-nya bisa melampaui kelompok itu sendiri. Selanjutnya, unsur kegembiraan dan kehangatan merupakan pupuk penyubur bagi semua norma penyusun modal sosial. Kegembiraan dan kehangatan akan memberikan dorongan lebih pada proses kerjsama antar anggota masyarakat.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa modal sosial mendorong kerjasama, kemitraan dan koordinasi – yang pada gilirannya memberikan manfaat bagi perbaikan ekonomi maupun politik suatu  wilayah.  Dalam  rangkuman  Jordan  dkk  (2010)  reduksi biaya transaksi, pertumbuhan gerakan koperasi, peningkatan pendapatan warga dan pertumbuhan ekonomi adalah manfaat modal sosial dalam dunia ekonomi. Begitu pula, manfaat modal sosial dalam dunia politik bisa mencakup perbaikan partisipasi politik dan good governance. Memperhatikan sejumlah bukti tentang kekuatannya maka tidaklah keliru jika setiap wilayah, tidak mengecualikan Jawa Tengah, melibatkan modal sosial dalam agenda pembangunan wilayah. Dalam hal ini branding layak diangkat sebagai salah satu strategi untuk menguatkan modal sosial. Branding “Jateng Gayeng” sendiri memiliki kelebihan karena sifatnya yang persuasif.

Untuk dapat memperkuat modal sosial, pengenalan (sosialisasi) branding “Jateng Gayeng”  harus dilakukan secara terstruktur dan masif. Hanya dengan begitu, proses penanaman (internalisasi) unsur-unsur nilai dalam branding itu dapat terjadi. Pemilihan “gayeng” sebagai tagline bisa dikatakan sebagai pilihan yang secara stratejik sesuai dengan kebutuhan aktual Jawa Tengah saat ini. Jawa Tengah memerlukan kerjasama dan sinergi yang melibatkan segenap pemangku kepentingan untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembangunan. Dengan spirit dan atmosfir “gayeng” kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompok diharapkan dapat terkurangi.

Keberhasilan penanaman branding baru ini kepada khalayak internal – yang mewujud dalam berbagai prakarsa kolektif – akan menghasilkan atmosfir yang dapat meningkatkan daya pikat provinsi ini bagi pada khalayak eksternal. Pada gilirannya, dapat diharapkan akan semakin banyak orang yang berminat untuk berkunjung dan bahkan berkarya di Jawa Tengah – dalam bentuk kegiatan wisata, bermukim, investasi dan bisnis.