16 Globalisasi dan Inlanderisme

Postulat Thomas Friedman (2006) bahwa “dunia yang datar” (The World is Flat) tampaknya memang sebuah kenyataan. Konvergensi sistem ekonomi dan teknologi telah menciptakan perekonomian dunia yang sarat saling keterkaitan antar negara. Akibatnya, ketika krisis ekonomi melanda suatu negara maka dampaknya akan merambah negara lain dan bahkan seluruh dunia – jika ukuran ekonominya sangat besar seperti Amerika Serikat (AS) atau China. Kelesuan ekonomi Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika perekonomian global itu. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama perhatian kita harus berpindah dari kelesuan ekonomi AS, ke krisis Yunani, dan yang terkini adalah devaluasi mata uang China, Yuan.

Semua kejadian itu secara langsung maupun langsung berdampak ke  negeri  kita.  Dalam  kasus  devaluasi  Yuan,  misalnya,  dua negara ASEAN yang disebut-sebut paling menjadi korban adalah Malaysia dan Indonesia. Ringgit dan rupiah mengalami depresiasi yang besar terhadap dolar AS. Bahkan perekonomian Indonesia seolah juga tersandera oleh keputusan tentang perubahan suku bunga oleh Bank Sentral AS (the Fed). Singkatnya, dalam proses globalisasi ekonomi ini, tidak ada negara yang bisa hidup dalam ruang hampa. Lebih jauh lagi, perekonomian dunia akan terus berubah seiring waktu. Krisis bisa terjadi susul menyusul. Tidak ada lagi apa yang disebut sebagai stabilitas, yang ada adalah perubahan dinamik. Keadaan inilah yang oleh para ekonom China sebagai kondisi “new normal”.

Kondisi ini terlukiskan dengan baik oleh sebuah “puisi” yang tertulis di lantai sebuah pabrik suku cadang mobil di Beijing – hanya beberapa hari setelah pemerintah China secara formal bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), 11 Desember 2001 (Friedman, 2006). Puisi itu berbunyi

Setiap pagi di Afrika, seekor rusa* bangun.

Dia tahu dia harus lari lebih cepat dari singa yang tercepat atau dia akan dimangsa.

Setiap pagi seekor singa bangun.

Dia  tahu  dia  harus  mendahului  rusa  yang  berlari paling lambat atau dia akan mati kelaparan.

Tidak penting apakah anda seekor singa atau seekor rusa.

Begitu matahari terbit, anda lebih baik segera berlari.

Sang pemilik pabrik jelas menyadari sepenuhnya kehadiran globalisasi sebagai sebuah keniscayaan. Dan sebagai seekor “rusa” dia harus segera berlari jika tidak mau dimangsa oleh “singa” globalisasi.  Suka  tidak  suka,  globalisasi  memang  telah  hadir dan menancapkan pengaruhnya pada perikehidupan (livelihood) seluruh warga negara-negara yang mempercayakan nasibnya pada rejim globalisasi- tanpa mengecualikan Indonesia.

Untuk dapat berhasil dalam dunia yang semakin “rata”, terhubung dan saling tergantung, maka diperlukan kesigapan – seperti “rusa” yang harus berlari lebih cepat daripada “singa”. Kesigapan dalam mengarungi dunia saat ini dan masa depan mensyaratkan kemandirian dan kreativitas. Untuk memiliki kemandirian seseorang harus menguasai keahlian tertentu. Sedangkan kreativitas idealnya telah terasah selama proses belajar mengajar di universitas – tentu saja bagi mereka yang mau memanfaatkan kesempatan yang tersedia, baik kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler.

Di luar kemandirian dan kreativitas, masih ada satu lagi yang diperlukan untuk bisa berhasil dalam globalisasi, yaitu kepercayaan diri – terutama ketika kita harus menghadapi pesaing berbilang bangsa. Kepercayaan diri dalam interaksi antar bangsa menuntut kita untuk membebaskan diri dari apa yang disebut oleh salah satu founding father negeri ini, Mochamad Hatta, sebagai mentalitas inlanderisme bekas bangsa terjajah. Pengidap inlanderisme selalu merasa kagum – dan tentu selanjutnya gentar– terhadap orang asing (terutama yang berkulit putih). Dalam pengamatan dan pengalaman saya selama ini, salah satu kunci pendobrak inladerisme adalah penguasaan bahasa internasional. Penguasaan bahasa internasional akan semakin menguatkan kepercayaan diri kita – dan tentu saja akan berimbas pada kemandirian kita.