26 Kegembiraan Mengajar Mengalir dari Hati

*      Disajikan dalam Seminar Pedagogi & Andragogi Inspiratif, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pembelajaran (LP3), UNIKA Soegijapranata, 10 Juli 2015.

Prolog

Saya meyakini bahwa salah satu sasaran utama pengelolaan sebuah universitas adalah mewujudkan kampus yang “MENGESANKAN” dan “BERMAKNA” bagi semua pihak yang kena mengena dengannya – baik warga kampus (mahasiswa, tenaga kependidikan dan dosen) maupun masyarakat luas. Pada hakekatnya  universitas  adalah  sebuah  rumah  belajar  (a  place of  learning)  bagi  mahasiswa  –  segala  jenjang  (diploma,  sarjana dan pasca sarjana) –   dosen, tanpa mengecualikan para tenaga kependidikan.

Mahasiswa ke kampus bukan hanya untuk dikuliahi, melainkan untuk belajar. Begitu pula para dosen ke kampus bukan hanya untuk mengajar melainkan juga terus belajar. Para karyawan ke kampus bukan hanya demi menjalankan tugas rutin belaka, melainkan juga belajar untuk terus mengasah kompetensi dan memperbaiki pelayanan. Kehidupan kampus yang ideal mewujud dalam suasana sukacita belajar (the joy of learning) bagi setiap insan yang berada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan gambaran ideal Universitas Katolik yang tertuang dalam Ex corde Ecclesiae – Konstitusi Apostolik tentang Pendidikan Tinggi (1990): “By vocation, the Universitas magistrorum et scholarium is dedicated to research, to teaching and to the education of students who freely associate with their teachers in a common love of knowledge”.

Universitas adalah lembaga yang  sarat dengan pendidikan dan pengajaran. Universitas memang sebuah rumah belajar. Ungkapan “universitas magistrorum et scholarium” (universitas sebagai komunitas  guru dan murid) secara gamblang menunjukkan itu. Bahkan dalam bentuk awalnya, universitas abad pertengahan (di Eropa) sebenarnya dilahirkan dan lantas dikelola oleh kumpulan guru atau dosen. Untuk mewujudkan kampus yang demikian maka diperlukan para dosen yang bukan hanya menonjol secara intelektual dan mampu mengajar melainkan yang mau sepenuh hati, jujur dan antusias terhadap profesinya.

Rumah Belajar

Menurut George Dennis O’Brien dalam buku “All the Essential Halftruths about Higher Education” (O’Brien, 1998) menyebut “universitas sebagai rumah belajar” memang bak menyebut “bujangan sebagai lelaki yang belum menikah”. Tetapi dia mengingatkan bahwa hakekat universitas sebagai rumah belajar jangan sampai dilupakan “hanya” demi menjawab tantangan perubahan jaman.

Hakekat universitas sebagai rumah belajar tidak lekang oleh waktu. Dalam konteks kekinian sekalipun, ketika harus hidup di tengah masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society), kecuali  mendukung  perekonomian – tiga dari empat tujuan utama universitas  menyangkut  proses  belajar  (learning)  yatu: (1) menginspirasi dan memampukan individu-individu untuk mengembangkan kemampuan intelektual hingga ke tingkat yang paling tinggi, (2) memajukan pengetahuan dan pemahaman, (3) membentuk masyarakat yang demokratik dan beradab (Laurillard, 2002). Mandat universitas memang bukan hanya melaksanakan riset. Bahkan ketika kita menengok peran yang diharapkan dari sebuah universitas riset (research University) maka produk pertamanya adalah pendidikan (Lendel, 2010).

Dalam pendidikan, jangan pernah dilupakan bahwa setiap manusia pada dasarnya unik. Ini bukan hanya berlaku bagi mahasiswa tetapi juga para dosen. Di satu pihak, setiap universitas ditantang untuk dapat mentranformasikan keragaman kualitas asupan mahasiswa menjadi sebuah keunggulan. Untuk dapat mewujudkannya, curahan waktu dan tenaga saja tidaklah mencukupi, para dosen juga harus terus-menerus mengasah empati. Dalam interaksi dengan para mahasiswanya seorang dosen berperan sebagai mentor yang dituntut memiliki sejumlah kualitas, antara lain sebagai teman sekaligus pembimbing, lebih matang, otoritas akademik, pengasuh, dan sepenuh hati.

Di pihak lain, harus disadari pula bahwa setiap insan dosen pada hakekatnya berbeda. Keragaman dosen tentu multidimensional – mulai dari keragaman keahlian hingga kepribadian – yang tentunya akan berimbas pada gaya dan ketrampilan mengajar. Apapun kepakaran dan gaya mengajarnya dalam menjalani profesinya, seorang dosen berhak atas kepuasan dan kebahagiaan kerja. The joy of learning hanya dapat terjadi ketika dosen dan mahasiswa sama-sama menemukan kesukacitaan.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mewujudkan kesukacitaan itu. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi gagasan tentang tantangan pada para dosen untuk menemukan kesukacitaan ketika menjalankan profesinya. Meminjam istilah Palmer (1998) yang menjadi tantangan terbesar para dosen adalah menemukan “The Courage to Teach”.

The Courage to Teach

Saya memang sudah cukup lama ingin berbagi dengan rekan- rekan sejawat tentang buku Palmer (1998) itu. Palmer menulis bukunya bertumpu pada premis “Good teaching cannot be reduced to technique; good teaching comes from the identity and integrity of the teacher”. Memang sosok guru atau dosenlah yang menentukan baik buruknya proses belajar mengajar, bukan teknik pengajarannya. Keberhasilan dalam mengajar ditentukan oleh jati diri dan integritas sang dosen. Kemampuan kita untuk secara simultan “nyambung” (to connect with) – atau mungkin lebih tepatnya melebur – dengan mahasiswa dan mata kuliah lebih ditentukan kejujuran pada diri sendiri daripada oleh metode pembelajaran yang kita gunakan.

Ilustrasi berikut ini mungkin kita jumpai dalam keseharian di kampus ini. Berdasarkan percakapan dari tahun ke tahun dengan para mahasiswa tentang sosok dosen yang baik, Palmer (1998) menyimpulkan bahwa tidak mungkin untuk mendaku bahwa dosen yang baik menerapkan metode pembelajaran yang sama. Dosen-dosen yang baik versi mahasiswa ternyata menggunakan cara mengajar yang sangat beragam. Ada yang mengandalkan ceramah tidak banyak memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya atau mendebat; namun ada pula yang sedikit bicara dan memberi banyak kesempatan mahasiswa untuk berpendapat. Ada yang ketat mengikuti bahan kuliah; ada yang justru mengandalkan imaginasi untuk memberi konteks pada bahan kuliah. Begitu pula, ada yang cenderung suka memberi “imbalan” (carrot) kepada mahasiswa; dan ada yang justru mengandalkan sanksi (stick). Namun yang pasti, semua dosen yang baik tadi memiliki satu sifat (trait) yang sama, yaitu pribadi yang hadir (present) atau mengada (in existence) saat kuliah. Mahasiswa mengungkapkannya dalam kalimat-kalimat seperti “Pribadi Bu A benar-benar hadir di saat beliau mengajar”; “Pak B sangat antusias dalam mengajarkan mata kuliahnya”; “Kita bisa merasakan bahwa mata kuliah itu adalah hidup Profesor C”. Bahkan ada mahasiswa yang kesulitan memerikan sosok dosen yang baik, karena menurutnya para dosen yang baik sangat berbeda satu sama lain – namun tidak demikian dengan para dosen yang buruk. Menurut mahasiwa itu, para dosen yang buruk dapat berciri sama, yaitu “Their words float somewhere in front of their faces, like the balloon speech in cartoons” (Perkataan mereka seolah mengambang di depan wajah  mereka, seperti teks dalam komik yang diwadahi “balon”).

Dalam rumusan Palmer (1998) dosen yang baik memiliki kemampuan untuk membentuk tenunan yang kompleks antara dirinya  dengan  mata  kuliahnya  dan  mahasiswa  –  sehingga para mahasiswa dapat belajar menenun dunianya sendiri. Bagi seorang dosen tentu sangat membahagiakan ketika menyaksikan mahasiswa kita nantinya berhasil menjadi manusia mandiri yang mampu menenun dunianya sendiri. Sebagai penenun kita bisa menggunakan beragam metode pengajaran, mulai dari ceramah, dialog ala Socrates, percobaan laboratorium, pemecahan masalah melalui kerjasama, dan bahkan creative chaos. Sekali lagi, bukan metode yang menentukan tenunan para dosen ini, melainkan hati mereka – sebagai tempat meleburnya intelek, emosi, spirit dan kemauan seorang manusia.

Perlu perlu diantisipasi bahwa seiring dengan perjalanan karir mengajar tidak jarang muncul godaan untuk melemahkan suara itu. Dalam dunia yang semakin menghargai ilmu pengetahuan dalam bentuk uang (knowledge economy) keteguhan hati para dosen sering diuji. Kita tentu mengenal berbagai julukan untuk dosen “selebriti”, seperti “seminaris” (rajin seminar, pengamat), “proyektor” dan konsultan. Kegiatan mereka memang dapat digolongkan sebagai darma pengabdian kepada masyarakat. Hanya saja kegiatan-kegiatan itu umumnya berbayar dan bayarannya masuk ke kocek pribadi. Tentu kiprah para dosen “selibriti” ini juga menguatkan reputasi universitasnya. Meskipun begitu, yang seringkali terjadi mereka lebih undangan pekerjaan di luar kampus daripada kewajiban utama di kampus.

Tentu tidak semua dosen “selebriti” terjebak dalam pola itu. Dosen yang menolak undangan pekerjaan luar – dengan berujar “maaf saya ada jadwal mengajar pada jam yang sama” – sangat boleh jadi justru lebih dihargai oleh pihak pengundang karena bersikap profesional. Kejadian seperti itu boleh saja ditanggapi dengan kekaguman, namun sebenarnya itu adalah sebuah keniscayaan. Dalam hal ini, sang Guru Besar benar-benar menghayati esensi sebuah universitas sebagai komunitas dosen dan mahasiswa, magistrorum et scholarium. Bagaimana jadinya jika kampus sering ditinggalkan para Guru Besarnya untuk “mengamen” ke mana- mana.

Kita yang berkarya di dunia pendidikan harus menyadari bahwa pada dasarnya setiap manusia itu unik. Dengan demikian, setiap universitas ditantang untuk dapat mentranformasikan “modal” mahasiswa yang umumnya terbatas menjadi sebuah keunggulan. Untuk dapat mewujudkannya, curahan waktu dan tenaga, serta teknik mengajar saja tidaklah mencukupi. Dosen harus terus- menerus mengasah empati pula. Dalam berinteraksi dengan para mahasiswanya seorang dosen diharapkan berperan sebagai mentor yang memiliki sejumlah kualitas, seperti menjadi teman sekaligus pembimbing, lebih matang, otoritas akademik, pengasuh, dan sepenuh hati.

Kualitas mentor itu terbaca sangat jelas dalam kisah tentang seorang dosen UNPAR yang pernah mengunjungi semua tempat kos mahasiswa di bawah perwaliannya (baca Sufiyanto, 2015). Kisah-kisah seperti itu sungguh membangkitkan semangat. Ternyata masih ada rekan dosen yang dengan sungguh-sungguh menorehkan goresan indah dalam lukisan wajah pendidikan tinggi Indonesia yang penuh bopeng. Mereka menghadirkan oasis di tengah lansekap pendidikan tinggi kita yang mulai gersang, tergerus oleh semangat pragmatisme dan industrial. Sebagai orang yang telah bekerja hampir 30 tahun di pendidikan tinggi, saya hanya bisa menyimpan kekaguman itu di dalam hati dan tergerak untuk segera membagikannya kepada para kolega.

Mentoring antar dosen juga cukup penting dalam menciptakan kesukacitaan belajar di kampus. Dalam pengamatan Palmer (1998) kehebatan para mentor dosen ternyata tidak semata-mata terletak pada cara pengajaran mereka, tetapi pada kemampuan mereka untuk membangkitkan kebenaran dalam diri kita. Kebenaran itu dapat kita temukan bertahun-tahun berikutnya melalui dampak terasakan dalam hidup kita.

Epilog

Palmer  (1998)  menyebut  adanya  suara  “the  teacher  within”  -suara bathin yang bersumber pada kesejatian diri (the true self) –  yang  mendorong  seseorang  tergerak  untuk  menjadi  guru. Ketika seorang dosen menemukan suara bathin itu maka ia akan mengajar dengan sepenuh hati dan penuh kesukacitaan. Mungkin dalam sepakbola suara bathin itulah yang dikagumi oleh David Beckham – mantan bintang sepakbola Inggris – dari para pemain Brazil yang menurutnya selalu menikmati pertandingan di manapun dan di aras apapun dengan penuh kesukacitaan tanpa mengurangi semangat untuk menang.

Tidak semua orang bisa segera mengenali suara “the teacher within”- sejak memutuskan untuk menjadi dosen. Ada yang memerlukan pemicu atau sosok teladan atau idola. Tetapi pada intinya, mereka yang memiliki dan mampu mendengar suara “the teacher within” itulah yang akan mereguk kepuasan dan kebahagiaan atas pilihan berkarya sebagai dosen.

Daftar Bacaan

Ex Corde Ecclesiae. Apostolic Constitution of the Supreme Pontiff John Paul II on Catholic Universities.

Laurillard, D. (2002). Rethinking Teaching for the Knowledge Society.

EDUCAUSE Review Jan/Feb 2012. p. 16-25.

Lendel, I. (2010). The Impact of Research Universities on Regional Economies:       The     Concept     of     University     Products. Economic    Development    Quarterly    24(3):    210–230.    DOI: 10.1177/0891242410366561

O’Brien, G.D. (1998). All the Essential Half-Truths about Higher Education. University of Chicago Press. Chicago.

Palmer, P.J. (1998). The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of  a Teacher’s Life. Jossey-Bass Publ. San Francisco.

Sufiyanto, A.M.  (ed.)  (2015).  Cincin  Sang  Dosen.  Penerbit Kanisius. Yogyakarta.