20 Kepemimpinan yang Autentik

*       Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 18 Januari 2013

“..I don’t want clever, conversation, I never want to work that hard, I just want someone, that I can talk to, I want you just the way you are.” (“Just the way you are”, Billy Joel)

“Blusukan” mendadak jadi kosa kata baru dalam bahasa Indonesia. Terimakasih kepada Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) yang telah melakukannya dan berperan dalam memperkenalkan istilah itu. Belakangan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga ikut “blusukan” ke kampung nelayan di Tangerang belum lama ini. Uniknya, alih alih mendapatkan acungan jempol – seperti Jokowi, ketika “blusukan” SBY malah tidak dtianggapi dengan antusias. Publik cenderung skeptis, meragukan program “blusukan” SBY.

Tanpa menafikan kenyataan bahwa Jokowi saat ini tengah menjadi sosok media darling, serangkaian “blusukan” Jokowi sejak awal masa jabatannya sebagai orang nomor satu DKI Jakarta memang terkesan otentik – tidak di buat-buat. Sigap dan tanggap bertandang ke pemukiman warga miskin yang terlanda bencana kebakaran atau banjir dengan tanpa ekspresi canggung memang sungguh menguatkan kesan otentik itu. Ingat saja, hanya beberapa jam selepas pulang dari pesta rakyat menyongsong 2013 di jantung kota Jakarta – yang tentu sudah menguras tenaganya, Jokowi sudah meluncur ke pemukiman warga yang mengalami musibah kebakaran. Bisa dibayangkan betapa penatnya fisik Jokowi ketika itu.

Yang tak kalah menariknya, Jokowi tetap tampil dengan logat Jawanya yang kental – tanpa usaha untuk mengubahnya sama sekali. Kata “… anu..” sering terlontar di sela kalimat-kalimatnya. Namun, sungguh “ajaib” publik metropolitan terbesar di Indonesia itu terkesan menerima Jokowi sesuai aslinya. Meminjam ungkapan Billy Joel dalam lagu “Just the way you are” publik menginginkan Jokowi “just the way he is” – seperti apa adanya. Tanpa perlu mengubah logat bicara dan gaya dia diterima. Keberterimaan Jokowi dengan gayanya yang asli adalah sebuah lukisan ke-Indonesia-an nan indah.

Pemilihan Kepala Daerah di Jakarta memang membuahkan hasil  yang menarik untuk dicermati. Pasangan Joko Widodo dan Basuki Cahya Purnama sungguh merupakan pertunjukan hebat tentang betapa warga Daerah Khusus Ibukota Jakarta lebih memilih pemimpin daripada partai. Pesona kepemimpinan kedua tokoh muda tersebut terbukti jauh lebih kuat daripada aura partai politik. Dengan kata lain warga Jakarta – sebagai cerminan masyarakat Indonesia – cukup cerdas dalam memilih pemimpin, tidak tergoyahkan oleh kekuatan politik dan bahkan “goyangan” sektarian sekalipun.

Kehadiran sosok kedua pemimpin muda itu seolah memenuhi kerinduan warga masyarakat akan pemimpin yang membumi dan yang tidak berjarak terhadap warga biasa. Yang diinginkan masyarakat adalah pemimpin yang bertindak, bukan sekedar memegang jabatan. William George dalam buku “Rediscovering the Secrets to Creating Lasting Value Leadership” (2003) menyatakan bahwa yang diperlukan jaman ini adalah pemimpin yang otentik. Pemimpin jenis ini adalah sosok yang berintegritas tinggi, memiliki komitmen untuk mengembangkan lembaga di mana dia berada. Yang diperlukan saat ini adalah pemimpin yang yang memiliki tekad yang kuat dan mendalam untuk mewujudkan lembaganya berguna – bukan saja bagi segenap orang yang kena-mengena, namun juga bagi masyarakat yang lebih luas.

Salah  satu  karakter  utama  pemimpin  otentik  adalah  mandiri dan swakarsa. Menjadi sosok yang otonom dan penuh prakarsa. Untuk memiliki karakter utama ini, seseorang tentu harus berani menghadapi tantangan besar – harus mampu menenggang tekananan dari segala penjuru. Dalam ungkapan William George, seorang pemimpin otentik harus siap mengalami “kesepian sorang pelari jarak jauh” (The Loneliness of the Long Distance Runner). Dengan seringnya sang pemimpin mengambil keputusan dan bertindak yang dianggap tidak lazim maka ia harus siap kesepian. Kekukuhan sikap untuk berani berbeda dari mayoritas – demi tujuan baik yang diyakininya – adalah syarat esensial seroang pemimpin otentik.

Menurut Michael Hyatt (http://michaelhyatt.com) ada lima penanda  kepemimpinan  otentik,  yaitu:  (1)  memiliki  wawasan (have insight), (2) menunjukkan prakarsa (demonstrate initiative), (3) menebar pengaruh (exert influence), (4) memiliki dampak (have impact) dan (5) mempraktekkan integritas (exercise integrity). Dari kelima penanda itu, keberanian bertindak mungkin merupakan penciri yang paling menonjol pemimpin yang otentik.

Tokoh selalu lahir dalam ruang dan saat yang tepat, tetapi tidak semua orang yang hadir di ruang dan saat yang sama menjadi tokoh. Hanya mereka yang mampu membaca situasi dan mengambil sikap-tindakan yang menonjol akan menjadi tokoh.

Dalam rumusan Stephen Covey (The 8th Habit, 2004) “You will discover that such influence and leadership comes by choice, not from position or rank”.   Menurut Covey prakarsa adalah persoalan pilihan. Pilihan itulah yang disebut sebagai kepeloporan atau leadership.

Visi kemimpinan seseorang tidaklah selalu sudah mencuat jelas sejak awal. Visi dapat disemaikan dan terus bertumbuh seiring dengan tergeraknya nurani menyaksikan perubahan di sekelilingnya. Fenomena itu ditemukan oleh Covey pada sejumlah tokoh besar dunia yang ditemuinya. Ia mengamati bahwa pada umumnya para tokoh itu kesadaran akan visi umumnya berkembang secara lambat. Karena visi lahir dari dorongan untuk memenuhi kebutuhan dan kepekaan nuraninya untuk segera bertindak.

Dalam kasus Jokowi nampaknya masyarakat telah merasakan otentisitas kepemimpinannya. Semoga kepercayaan kepada Jokowi bukan hanya lahir dari kerinduan masyarakat yang sangat akut akan hadirnya pemimpin yang otentik di negeri ini. Inilah tantangan terbesar Jokowi untuk membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang otentik di tengah harapan masyarakat yang begitu besar.

Harapan yang begitu besar untuk pemecahan seabreg masalah pelik kota Jakarta bisa berisiko “menggelincirkan” sosok Jokowi menjadi superhero – seperti superman atau spiderman – yang tidak boleh gagal dan salah. Padahal sesuai ungkapan “rocker juga manusia” pastilah “Jokowi juga manusia” – yang tidak pernah sempurna. Semoga Jokowi dapat menyurusi alur perjalanan kepemimpinannya tanpa harus tergelincir.