12 Mobilitas Yang Bermutu

*       Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 6 Januari 2012

Globalisasi ternyata telah benar benar hadir dalam kehidupan kita, warga Indonesia. Mobilitas manusia Indonesia melintasi batas batas wilayah dan negara terus meningkat hari lepas hari. Pemesanan lebih dari 200 pesawat Boeing 737 seri terbaru oleh sebuah perusahaan penerbangan swasta nasional – yang merupakan pemesanan terbesar sepanjang sejarah penerbangan Indonesia dan bahkan bagi produsennya – adalah bukti kesiapan menyongsong peningkatan mobilitas manusia Indonesia. Tidak heran, jika Presiden Barack Obama  hadir  pribadi  dalam  penandatanganan  kerjasama antara perusahaan penerbangan nasional itu dan produsen pesawatnya – sebuah momentum yang penuh makna di tengah terjungkalnya Amerika Serikat dalam krisis ekonomi.

Mobilitas warga Indonesia yang meningkat pesat dapat dengan mudah dikenali kesibukan dan keruwetan   bandara bandara kita. Saat ini Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah melayani jumlah penumpang   dua kali lipat dari yang diproyeksikan sebelumnya, sehingga banyak penerbangan tertunda terbang atau mendarat hanya “gara gara” menunggu giliran. Semarang pun tak mau ketinggalan. Kini ibu kota Jawa Tengah telah terhubung ke dua kota utama ASEAN – Singapura dan Kuala Lumpur – melalui jalur udara.

Mobilitas warga yang meningkat tentu saja berita baik yang harus kita syukuri, tetapi kita harus juga mulai memilikirkan aspek kualitasnya. Kita memerlukan mobilitas yang bermutu artinya bukan sekedar mobilitas konsumtif (wisata) atau mobilitas tenaga kerja tidak terampil berupah rendah. Mobilitas warga Indonesia yang bermutu ditandai, terutama oleh pergerakan individu individu yang memiliki modal ketrampilan dan intelektual yang secara kompetitif dapat mengisi lowongan kerja profesional di aras regional dan global. Saat ini kita masih berada di bawah Filipina, misalnya, yang warganya mampu mengisi berbagai jenjang profesi global – yang dalam istilah salah satu peneliti migrasi dari Miriam College, Filipina “from domestic helpers to CEOs”. Diberlakukannya  komunitas ASEAN  pada  tahun  2015 nanti merupakan batu ujian bagi Indonesia untuk membuktikan kemampuannya menciptakan mobilitas yang bermutu.

Segenap universitas tentu saja memiliki tanggung jawab yang besar untuk membantu meningkatkan mobilitas manusia Indonesia yang semakin berkualitas. Sebagai konsekuensinya, universitas dituntut untuk membekali peserta didiknya dengan kompetensi yang sepatutnya dimiliki oleh warga global (global citizen).

Pendidikan tentang kewargaan global (global citizenship) harus mulai diperkenalkan di kampus kampus negeri ini. Universitas harus menyiapkan para mahasiswanya agar “melek” globalisasi (globally literate), yang setidaknya mencakup beberapa ciri berikut ini (1). pola pikir kritis, (2) keingintahuan tentang dunia sebagai entitas utuh, (3) kepedulian dan apresiasi global terhadap konteks sejarah dan budaya kejadian yang tengah berlangsung di dunia saat ini, (4) kepedulian etis: dari cara pandang ethnocentric ke “ethno- relative”, (5) pengetahuan tentang bagaimana menjawab dan memecahkan masalah lintas budaya, (6) ketrampilan berbicara dan menulis dalam bahasa internasional, (7) kefasihan budaya: kemampuan untuk dengan mudah berpindah ke dalam dan antar budaya (Bruce Johnstone dkk.,  2010). Beberapa elemen kunci yang menurut saya dapat disertakan dalam pendidikan “melek” globalisasi di kampus kampus antara lain adalah (1) Apa itu globalisasi? Khususnya era Asia dan peran Indonesia, (2) pengantar tata kelola global, (3) pengantar kepedulian lintas budaya, (4) kerjasama tim ragam budaya, (5) negosiasi lintas budaya, dan (6) ketrampilan menyajikan gagasan.

Ilustrasi berikut ini mungkin menarik untuk direnungkan – karena ternyata ada satu faktor “klasik” yang tidak bisa dikesampingkan. Menanggapi permintaan saya, seorang alumnus S1 UNIKA Soegijapranata  yang  saat  ini  tengah  berkarir  di  ibukota  salah satu negara di benua Afrika – sebagai Manajer Pemasaran sebuah perusahaan farmasi Indonesia – menyebut tiga (3) faktor yang dia peroleh dari univeristas ini yang memuluskan perjalanan karirnya di sana. Yang pertama adalah paparan (exposure) pada bahasa Inggris, kegigihan/keuletan, dan inspirasi dari dosen. Ya, sekali lagi, inspirasi dosen. Sebagai elemen yang “abadi” dalam profesi guru, dosen memang dituntut untuk menyadari bahwa mereka adalah sosok yang berpeluang menjadi sumber inspirasi bagi para mahasiswa. Untuk bisa memberikan inspirasi tentu saja para dosen harus memiliki wawasan yang luas – bukan hanya menguasai bidangnya secara khusus melainkan harus berusaha mengembangkan apa yang disebut sebagai model T dalam pengembangan keilmuan. Setiap sosok dosen harus berupaya mengembangkan wawasannya selubar mungkin untuk memberi konteks yang lengkap bagi ilmu yang semakin dalam mereka gali.

Dalam banyak kasus, inspirasi sebenarnya bisa disemaikan oleh semua dosen yang menghayati dan berdedikasi pada profesinya. Syaratnya hanya satu. Dalam membagikan ilmu dan menuntun jiwa-pikiran muda para mahasiswa sang dosen tidak sekedar menggunakan ketajaman olah pikirnya – tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah menggunakan kepekaan hatinya.  Dosen boleh bergelar doktor dan profesor dengan beragam ilmu yang mereka kuasai tapi satu hal yang harus selalu menjadi prioritas, yaitu mereka harus mencerminkan satu sikap dan perilaku – yaitu mengutamakan mahasiswa.