11 Mutu Indonesia Dan Kepercayaan Diri

*       Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 30 November 2016

Mengacu laporan Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) yang sudah dirilis oleh OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan), Victoria   Fanggidae   dari   Perkumpulan   Prakarsa   (Kompas, 2/9/2016) menyuarakan keprihatinan tentang mutu sumber daya manusia Indonesia. Victoria menunjukkan posisi manusia dewasa Indonesia (survey hanya dilakukan di Jakarta) di peringkat paling bawah dari semua negara peserta survei – yang umumnya negara maju – pada hampir semua jenis kompetensi yang untuk bekerja dan berkarya dalam masyarakat, seperti literasi, numerasi, dan kemampuan pemecahan masalah.

Telaah lebih teliti terhadap laporan PIAAC (2016) mengungkapkan sejumlah temuan menarik. OECD menyebutkan rendahnya skor literasi dan numerasi manusia dewasa Indonesia (Jakarta) tidak mengejutkan karena pembandingnya negara-negara yang secara ekonomi lebih maju dari Indonesia. Yang unik adalah bahwa sebaran skor kompetensi di Indonesia lebih tinggi dibandingkan semua negara peserta. Disparitas ini berimbas pada penghasilan. Hasil  survei  di  Jakarta  menunjukkan  bahwa  meningkatnya aras pendidikan formal seseorang memberikan peningkatan penghasilan   yang   jauh   lebih   besar   dibandingkan   negara negara OECD. Dalam hal ini penambahan satu standar deviasi durasi pendidikan formal (3,4 tahun) memberikan peningkatan penghasilan (per jam) sebesar 26.6% dibandingkan dengan peningkatan hanya 14,4% di negara-negara OECD. Artinya, mereka yang mengenyam pendidikan tinggi berpeluang untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih baik daripada mereka yang tidak.

PIAAC sendiri adalah sebuah survei internasional yang dilakukan di lebih dari 40 negara. Survei tersebut mengukur kompetensi kognitif utama dan kompetensi lain yang diperlukan di dunia kerja (workplace) agar seseorang dapat berpartisipasi dalam kemajuan ekonomi masyarakatnya. Salah satu asumsi penting yang mendasari PIAAC (2016) adalah bahwa kemampuan mengelola informasi dan memecahkan masalah menggunakan komputer menjadi sebuah kebutuhan mendasar seiring dengan semakin berperannya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam dunia kerja dan pendidikan. Studi PIAAC secara khusus dirancang untuk mengukur sejumlah ketrampilan utama dalam mengolah informasi, yaitu: literasi, numerasi, dan pemecahan masalah   dalam   lingkungan   kaya   teknologi   (problem   solving in technology-rich environments).   Orang dewasa yang sangat menguasai ketrampilan yang diukur dalam survei tersebut kemungkinan besar akan berpeluang mengambil kesempatan- kesempatan yang tercipta oleh perubahan teknologi dan struktur masyarakat yang sedang berlangsung. Mereka yang kesulitan dalam menggunakan teknologi-teknologi baru akan menghadapi risiko besar untuk tersingkir dari persaingan.

Menurut hemat saya asumsi PIAAC ini berlaku universal, termasuk bagi lulusan perguruan tinggi Indonesia. Di tengah sejumlah  kritik  terhadap  kinerja  pendidikan  tinggi  Indonesia yang  masih berada  di  bawah  negara-negara  lain  –  bahkan  di kawasan ASEAN  sekalipun  –  ternyata  kita  juga  menyaksikan jumlah lulusan perguruan tinggi Indonesia yang bekerja di luar negeri juga terus meningkat. Dalam catatan saya, lulusan Unika yang berkarir di luar negeri juga semakin bertambah. Banyak fakta menunjukkan bahwa berkarir di luar negeri bukan hanya terbuka bagi mereka yang studi di luar negeri dan bukan hanya bagi mereka yang menapaki karir mulai dari entry-level job di luar negeri. Ternyata peluang juga terbuka bagi mereka yang merajut karir di dalam negeri terlebih dahulu. Dalam catatan saya, ada seorang alumnus Unika mengawali karirnya selama 10 tahun di sebuah kota kecil (Pati) dan kini kini bergabung dengan sebuah perusahaan multinasional menjadi seorang factory manager di Petaling Jaya, Malaysia.  Ada juga seorang alumnus Unika yang memulai karir di Cikupa Tangerang, kemudian ke Johor Baru, lantas ke Singapura. Saya juga mengenal seorang yang menjalani pendidikan universitasnya di UNDIP yang setelah berkarir cukup lama di Thailand dan kini di Swedia.

Kita perlu menyadari bahwa kompetensi dibentuk sejak di kampus dan terus dikembangkan dalam berkarir di perusahaan atau organisasi. Itulah esensi lifelong learning (belajar sepanjang hayat), dan perguruan tinggi sebenarnya memang punya mandat untuk mempersiapkan individu yang siap dan mampu terus mempelajari hal hal baru sesuai dengan dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh di kampus, serta sekaligus dia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan masyarakat. Yang terakhir ini dikenal sebagai sebagai soft skills atau transferrable skills – yang dapat dimaknai sebagai ketrampilan yang dapat dilatihkan atau diakuisisi oleh siapa saja.

Di samping terus mengembangkan ketrampilan atau kompetensi seseorang yang ingin sukses berkarir di jaman ini dituntut punya kemampuan lain, yaitu ketrampilan dalam memperkenalkan diri (to make yourself heard). Dalam hal ini, literasi dalam teknologi informasi dan komunikasi amat penting. Kemampuan untuk memanfaatkan jejaring sosial – seperti LinkedIn dan sejenisnya – sangat krusial untuk memperkenalkan kompetensi seseorang. Dewasa ini kegiatan untuk memburu talenta-talenta hebat di dunia profesional (head hunting) sudah sangat jamak dan bahkan telah menjadi salah satu bagian tidak terpisahkan dari perkembangan dunia bisnis dan industri global.

Selain itu pemanfaatan internet tidak terbatas hanya pada mereka yang ingin berkarir sebagai profesional. Bagi mereka yang bekerja di dunia seni dan desain – termasuk animasi – memperkenalkan karya melalui internet adalah salah satu cara yang mungkin paling efektif untuk menembus pasar global saat ini. Begitu pula bagi mereka yang berniat untuk berwirausaha maka internet memberi ruang bagi produk dan kreativitas pemasaran (e-commerce) yang nyaris tanpa batas. Singkatnya, fenomena “the world is flat” yang dikemukakan  oleh  Thomas  L.  Friedman  (2005)  satu  dekade lalu kini sudah menjadi sesuatu yangg lazim. Kegiatan global outsourcing untuk call center, kontrak produksi, jasa akuntansi, analis kesehatan, jasa pendidikan dan sebagainya yang dulu hanya berlangsung di China, India, dan Filipina   – kini telah menyebar di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Fakta di atas bisa jadi menunjukkan bahwa sebenarnya kita mesti lebih percaya diri dalam menilai mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Selain itu globalisasi memang sudah hadir dan telah berhasil menjebol batas-batas antar negara.   Maka pesan yang dapat disampaikan kepada para mahasiswa adalah “siapapun anda, lulusan manapun anda yang penting adalah kompetensi anda (you are what you are good at)”. Di manapun anda berkarir – selama anda terus mengembangkan kompetensi yang khas dan unggul – maka peluang selalu terbuka untuk anda berkarir di mana saja di berbagai belahan dunia.