10 Perjumpaan Jenis Ketiga

Judul tulisan ini terinspirasi oleh fenomena Close Encounter of the Third Kind (perjumpaan jenis ketiga). Istilah close encounter saya pinjam dari khasanah ufology – ilmu tentang UFO (unidentified flying object) – yang menggambarkan kejadian saat seseorang menyaksikan kehadiran UFO. Ahli astronomi dan peneliti UFO J. Allen Hynek penulis buku “The UFO Experience – A Scientific Inquiry“ (1972) membagi tiga jenis perjumpaan manusia dengan UFO. Perjumpaan jenis pertama adalah saat seseorang secara visual melihat UFO dengan cukup jelas dari jarak sekitar 160  meter;  sedangkan  perjumpaan  jenis  kedua  adalah  adanya efek dan  jejak  fisik  yang  menyertai  kehadiran  UFO  –  seperti hawa panas, kemacetan kendaraan dan piranti alat elektronik, reaksi hewan-hewan, jejak kimia dan sebagainya . Puncak dari perjumpaan dengan UFO adalah saat seseorang bukan hanya melihat  “pesawat”nya  melainkan  juga  bersua  dengan  mahluk luar angkasa – entah itu humanoid, robot atau alien. Inilah yang disebut sebagai perjumpaan jenis ketiga, close encounter of the third kind.

Saya memilih metafora close encounter of the third kind ini untuk menggambarkan pentingnya perjumpaan antara civitas academica dengan dunia sekelilingnya. Perjumpaan yang dekat merupakan modal untuk mewujudkan relevansi kegiatan di balik dinding universitas dengan apa yang sedang berkecamuk di dunia yang lebih luas. Relevansi adalah keniscayaan bagi sebuah universitas, karena tanpa relevansi ia akan terasing dari masyarakat.

Untuk mereduksi “jarak” antara kegiatan kampus dan dunia yang lebih luas universitas harus secara sistematik mengembangkan berbagai program. Demi mewujudkan perjumpaan langsung dengan masyarakat lokal universitas memang telah melibatkan mahasiswa berbagai kegiatan seperti kemah bakti, kuliah kerja nyata, kuliah kerja usaha, live in dan service learning. Tidak ketinggalan pula, kegiatan ekskursi, kerja praktek, magang serta internship demi perjumpaan dengan lingkungan profesional – seperti industri, bisnis, institusi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga riset.

Untuk perjumpaan dengan globalisasi, sudah jamak universitas mengirim dosen dan mahasiswanya mengikuti program faculty/ student exchange/mobility ke berbagai universitas dan institusi di luar negeri. Begitu pula dengan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan terjadinya perjumpaan antara mahasiswa dan dosen dengan sejawatnya dari berbagai negara, seperti seminar, konferensi, student camp, research camp, dan sebagainya. Perjumpaan-perjumpaan yang digambarkan di atas sebagian sudah berwatak perjumpaan jenis ketiga. Namun yang harus ada dalam setiap perjumpaan itu adalah proses mengalami – terlibat sebagai pelaku aktif – bukan sekedar “memotret” keadaan. Idealnya dalam setiap perjumpaan itu para dosen dan mahasiwa tidak hanya bersikap sebagai wisatawan intelektual (intellectual tourist).   Kini, adagium “seeing is believing” sudah tidak memadai lagi. Ia harus diubah menjadi “experiencing is believing”.

Perjumpaan yang dekat dan intens antara civitas academica dengan masyarakat   sekelilingnya   adalah   keniscayaan   bagi   universitas yang transformatif. Artinya, tanpa perjumpaan nyata dan dekat dengan masyarakatnya tidak mungkin universitas akan berperan dalam transformasi wilayah dan masyarakat penghuninya. Tanpa menghadirkan perjumpaan dengan globalisasi, maka jangan berharap universitas ini mampu membekali lulusannya untuk berkiprah di aras  mondial.  Perjumpaan  dengan  globalisasi  sebenarnya  tidak harus berlangsung di kampus luar negeri, kampus universitas ini telah berusaha menghadirkan semangat kewargaan global (global citizenship) bagi civitas academicanya – melalui kehadiran mahasiswa/ dosen/peneliti dari luar negeri.

Tentunya masing-masing individu diharapkan mengambil peran untuk secara aktif mereguk peluang yang tersedia. Pada aras individu, perjumpaan dengan dunia yang lebih luas merupakan kebutuhan yang tidak pernah berkesudahan. Anjuran yang sama juga berlaku untuk mereka yang sudah berkarir – dan menghuni dunia yang sempit – jangan pernah enggan untuk selalu menyempatkan diri untuk melakukan close encounter of the third kind dengan masyarakat sekitar  dan  dunia.  Tanpa  perjumpaan  itu  jangan-jangan  justru kita yang akan menjelma menjadi alien – sosok yang terasing dari lingkungan setempatnya dan tidak memiliki orientasi global.