23 Pikiran yang Tertata

*        Dimuat di Harian KOMPAS 7 Mei 2016


Th
e Organized Mind  –  Thinking Straight in the Age of Information Overload” (“Pikiran yang Tertata – Berpikir Lurus di Era Luapan Informasi”) – itulah judul sebuah buku yang memikat saya untuk membelinya. Buku itu ditulis oleh Daniel Levitin (2014).

Sudah bukan pengetahuan baru bahwa saat ini kita hidup dalam luapan informasi. Begitu banyak informasi yang melintas di depan dan menghampiri mata dan telinga kita sehingga memaksa pikiran kita untuk bekerja sangat keras untuk memilah dan memberikan tanggapan. Berbagai studi oleh para pakar informasi telah menunjukkan secara telak luapan  informasi  (information  overload)  itu  dalam  sejumlah nilai kuantitatif yang mencengangkan.

Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada tahun 2011 rata-rata setiap orang di sana menerima informasi lima kali lipat dari apa yang mereka dapatkan di tahun 1986 – atau setara dengan 175 surat kabar. Pada saat bersantai – di luar pekerjaan – setiap orang mengolah informasi sebanyak 34 gigabytes atau setara dengan 10.000 kata setiap harinya. Luapan informasi audio-visual (citra dan suara) saat ini tengah berlangsung dengan sangat luar biasa. Data tiga tahun lalu menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 21.000 stasiun televisi di dunia yang menghasilkan 85.000 jam siaran – dan rata-rata orang hanya menyaksikan 5 jam siaran yang setara dengan 20 gigabytes citra dan suara. Itu semua belum memperhitungkan unggahan 6000 jam video ke pangkalan   Youtube setiap harinya. Sangat jelas bahwa sungguh besar risiko bagi kita untuk tenggelam oleh luapan informasi ini.

Untuk hal yang lebih “tangible”, jenis barang yang dijajakan di supermarket misalnya, kita juga menyaksikan apa yang disebut oleh Daniel Levitin (2014) sebagai “ledakan pilihan” (explosion of choices). Jika pada tahun 1976 rata-rata supermarket di Amerika Serikat menyediakan 9000 jenis produk maka empat dekade  setelahnya  angka  itu  membengkak  menjadi  sekitar 40000. Ironisnya, kebanyakan sudah bisa memenuhi hampir seluruh kebutuhannya dengan hanya 150 jenis produk dari supermarket. Artinya ada sekitar 39850 produk di supermarket yang diabaikan oleh rata-rata konsumen.

Tentu diperlukan strategi untuk menghadapi luapan informasi dan  ledakan  pilihan  tadi.  Yang  menjadi  pertanyaan  adalah apa kiat yang pas agar kita tidak tenggelam dalam luapan informasi dan limbung oleh ledakan pilihan.

Sang penulis, Daniel Levitin, menawarkan sebuah kiat yang dikenal sebagai satisficing – secara etimologis kata bentukan baru ini merupakan paduan antara kata satisfying dan sufficient. Istilah satisficing – sebagai sebuah strategi adaptasi ketika menghadapi begitu banyak pilihan – dikemukakan pertama kali  oleh  Herbert  Simon,  seorang  Pemenang  Hadiah  Nobel – seorang pakar teori organisasi dan pengolahan informasi. Simon mereka cipta istilah baru ini demi mendapatkan kata yang pas untuk menggambarkan keadaan “tidak mendapatkan opsi yang benar-benar terbaik tetapi sudah cukup baik” (“not getting the very best option but one that was good enough”).

Dengan menjalankan strategi satisficing kita tidak akan menghambur-hamburkan energi untuk memikirkan informasi yang tidak terlalu penting – tetapi mencurahkan perhatian pada informasi yang lebih penting. Satisficing ternyata juga merupakan salah satu dasar peilaku produktif yang pada gilirannya juga mampu menghadirkan kebahagiaan pada seseorang. Menurut Levitin (2014) kita semua, tanpa terkecuali, senantiasa menerapkan strategi  satisficing  ini  dalam  menjalankan  kegiatan  keseharian kita. Sebut saja, saat membersihkan lantai rumah sebagian besar dari kita tentu tidak akan membersihkannya secara sangat tuntas menggunakan sikat gigi bekas – demi tidak menyisakan debu atau  noktah  setitikpun  di  sambungannya.  Andai  saja  semua orang – kecuali tenaga pembersih profesional – terobsesi untuk melakukan pembersihan tuntas itu, bagaimana jadinya dengan pekerjaan mereka yang lain. Disadari atau tidak, kita telah sering menerapkan strategi satisficing itu.

Persoalannya sekarang yang kita hadapi adalah luapan informasi dan ledakan pilihan yang sangat masif dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Untuk mampu keluar dari ancaman itu maka kita  harus  berusaha  menata  pikiran  kita  dengan  kesadaran penuh bahwa pikiran kita terbatas – baik dalam penyimpanan dan pengunduhan (storage & retrieval). Selanjutnya, mau tidak mau kita harus terus berlatih untuk memilih, memilah dan mengurutkan informasi berdasarkan nilai pentingnya – dan berani sampai tingkat tertentu mengabaikan informasi yang tidak terlalu penting. Yang menjadi tantangan seringkali kita kesulitan untuk melakukan tiga hal tersebut. Untuk mengatasi hal itu maka kita harus berani secara rutin untuk mengambil jeda sejenak di tengah irama hidup yang semakin cepat ini dengan melakukan refleksi, kilas balik, demi menemukenali hakekat di tengah belantara informasi yang menghampiri kita. Dengan melakukan refleksi itu maka kita punya bekal yang lebih baik dalam menjalani hari baru.

Ekologi Nurani*

Dalam Sarasehan “Perempuan Membaca Amdal” di kampus Unika Soegijapranata, Semarang 21 April 2016 yang lalu, hadirin terpukau mendengar tutur kata lugas nan runtut dua perempuan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah yang menolak kehadiran pabrik semen di kampung mereka. Dengan menggunakan bahasa Jawa sederhana, Gunarti (Pati) dan Sukinah (Rembang) menyampaikan dengan jelas dan masuk akal dampak kehadiran pabrik semen terhadap perikehidupan mereka selaku petani. Pandangan mereka menarik untuk disandingkan dengan isi dokumen AMDAL yang disusun oleh para pakar.

Bagi kedua perempuan itu bumi Kendeng – yang mereka sebut sebagai Ibu Bumi –  adalah Sang Ibu Pemberi kehidupan bagi petani, peternak, anak-anak, pepohonan dan burung. Oleh karenanya, manusia harus membalas budi Ibu Bumi dengan merawatnya dan mensedekahinya – bukan merusaknya dengan penambangan bahan semen. Kedua perempuan itu menyuarakan kekhawatiran akan musnahnya sumber-sumber air oleh operasi pabrik semen yang akan membuat mereka tidak bisa bertani lagi.

Begitu sederhana, namun gamblang, kearifan lokal yang  mereka pegang dengan penuh keyakinan itu. Mereka yang mempelajari keberadaan dan pemanfaatan ekosistem karst menurut cara kerja ilmu pengetahuan modern yang sarat kaidah ilmiah – seperti para pakar penyusun dokumen AMDAL – sangat boleh jadi memandang sebelah mata pemahaman kedua perempuan itu. Dalam perkembangan pengetahuan ilmiah yang kompleks dan terstruktur ketat, pemahaman Gunarti dan Sukinah terkesan dangkal. Bukankah terlalu naif jika penolakan eksploitasi ekosistem karst oleh industri semen hanya didasarkan pada prinsip balas budi kepada Ibu Bumi, Ibu sang Pemberi?

Ketegangan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bukan hanya kisah di pegunungan Kendeng. Kisah serupa juga pernah terjadi di Hong Kong pada tahun 1965, seperti dicatat oleh Anderson – anthropolog Universitas California Riverside. Ketika itu berlangsung pembangunan rumah sakit di lereng curam yang menghadap ke teluk Castle Peak.   Atas pembangunan di lokasi ekstrim itu warga setempat spontan berkomentar “Ini sungguh berbahaya, fondasi rumah sakit itu memotong urat nadi sang Naga”. Peringatan itu mewakili keyakinan warga setempat tentang keberadaan mahluk Naga yang hidup dalam tanah di lereng perbukitan itu. Tanpa memerlukan waktu lama, peringatan itu terbukti. Fondasi rumah sakit yang baru selesai ditanam, roboh diterjang longsoran tanah dari atasnya. Fondasi itu tumbang setelah Hong Kong dihajar typhoon yang disusul hujan lebat selama beberapa hari. Atas peristiwa itu, warga setempat berujar: “Lihat! ini pasti terjadi karena nadi sang Naga telah dipotong”. Mungkin sebagian orang menganggap apa yang dipahami warga teluk Castle Peak itu sebagai takhyul belaka. Tetapi sebagai sebuah sistem pengetahuan kearifan lokal itu terbukti mampu bekerja dengan baik dengan memberikan ramalan yang tepat.

Saling Melengkapi

Dalam perkembangannya – seperti diungkapkan oleh Monica Hernandez-Morcillo dkk   dalam Journal Environment (Januari- Februari 2014) – pengetahuan ekologi tradisional semakin diperhitungkan dalam pengembangan ilmu, kebijakan dan manajemen lingkungan. Meskipun berbeda pengetahuan ilmiah (PI) dan pengetahuan ekologi tradisional (PET) dianggap saling melengkapi dan memperkaya dalam upaya memperbaiki proses pengambilan keputusan lingkungan dan pemahaman tentang keberadaan serta dinamika ekosistem.

PET tidak hanya diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya saja. Karena melekat erat pada perilaku sehari-hari warga maka transmisi PET bisa terus menerus dan meluas. Terlebih lagi, PET juga terdokumentasi sebagai naskah tertulis dan berbagai media baru. Lebih jauh warga lokal juga telah mampu secara dinamik mengkombinasikan PET secara tradisional dan oral dengan pegetahuan ekologi popular serta ilmiah – sebagai exogenous knowledge. Kemampuan untuk mengombinasikan dua sistem pengetahuan itu juga terbaca dari paparan Gunarti dan Sakinah tentang dampak pabrik semen. Mereka menggabungkan ajaran untuk setia kepada Ibu Bumi, sebagai Sang Ibu Pemberi, dengan elemen-elemen pengetahuan ilmiah seperti daya dukung ekosistem, cekungan air tanah, dan rencana tata ruang dan wilayah – yang mereka peroleh dari pertukaran wacana dengan para pelaku pengetahuan ilmiah.

Kesenjangan pemahaman dan keyakinan antara para pakar penyusun AMDAL dan warga setempat – yang diwakili oleh dua perempuan itu – menunjukkan tiada pihak yang bisa memonopoli kebenaran. Apalagi dua pihak yang “bersitegang” menghidupi dua sistem pengetahuan yang berbeda, yaitu PI dan PET. Dalam hal ini, kebenaran tidak tunggal melainkan beragam. Sudah selayaknya, pelaku PI tidak terlalu menganggap remeh PET.

Dalam persoalan lingkungan, sebenarnya kedua jenis pengetahuan ini justru perlu diselaraskan – namun sayangnya kesadaran untuk itu sering terlambat. Sebagai “adik”, PI sering tidak memperhitungkan muatan kebenaran dalam PET, sang “kakak”. Anderson (1996) menyarankan cara kerja PI hendaknya diubah untuk mengakomodasi kebenaran sistem pengetahuan lain, termasuk PET. Dalam ancangannya, PI harus secara lambat laun mengakumulasi berbagai pengamatan yang bermanfaat dan meramunya dengan teori-teori yang kokoh. Menurut Anderson, pengamatan dibuat untuk diperbaiki dan dilengkapi; teori diciptakan untuk dirubuhkan dan diganti. Singkatnya, ilmu pengetahuan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan dan piranti- piranti untuk menjalankan observasi dan menciptakan teori – bukan kebenaran mutlak.

Penolakan hasil studi ilmiah – seperti AMDAL – oleh masyarakat lokal yang mengandalkan kearifan lokal haruslah dipandang sebagai sebuah tantangan untuk berlangsungnya integrasi PI dan PET. Dalam kerumitan persoalan lingkungan, keragaman kebenaran adalah sebuah keniscayaan. Berbagai kebenaran harus bisa hidup berdampingan. Jika ini disadari oleh para pengambil kebijakan maka banyak ketegangan lingkungan yang bisa diatasi dengan mencari titik temu – bukan dengan kepongahan sistem pengetahuan (ilmiah) yang sedang berkuasa. Keselarasan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal akan menorehkan wajah ekologi yang peka pada panggilan nurani.