8 Universitas, Gerbong Kemajuan

*      Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 8 Agustus 2011

Setelah  terpuruk  oleh  krisis  1998,  Indonesia  kini  diprediksi oleh sejumlah pihak akan betransformasi menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Saat ini Indonesia telah berada di peringkat 17 ekonomi terbesar di dunia, dan peringkat 6 di antara negara berkembang (baca: The Indonesia Competitiveness Report 2011 – The World Economic Forum). GDP per kapita Indonesia pada tahun 2010 disebut sudah melampaui 4000 USD. Lebih jauh, menurut skenario Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) – yang disusun pemerintah pada awal tahun ini – Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD 14.250 – USD 15.500 dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 – 4,5 Triliun. Dari sisi daya saing, Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index, GCI) Indonesiapun terus beranjak naik dari peringkat 54 (114 negara yang distudi) ke 44 (139 negara yang distudi) pada tahun 2010.

Angka angka di atas memang terkesan sangat menakjubkan tetapi juga sekaligus meragukan. Apalagi jika kita perhadapkan dengan gelombang kabar buruk yang melanda media cetak dan elektronik di negeri ini. Berita dan ulasan tentang korupsi yang merajalela, kesenjangan ekonomi yang semakin lebar dan   kemiskinan, pengurasan sumber daya alam serta kerusakan lingkungan   di seluruh sudut negeri tentu secara alami membuat kita mudah berprasangka terhadap gambaran hebat pembangunan ekonomi Indonesia.

Sebagai sebuah komunitas akademik, civitas academica universitas sudah selayaknya menanggapi “kabar baik” perekonomian Indonesia secara obyektif dengan tanpa meninggalkan sikap skpetis yang merupakan ciri khas kaum intelektual. Civitas academica jangan sampai terjebak dalam   apa yang dalam ilmu statistika dikenal sebagai Kesalahan Jenis Pertama atau Error of the First Kind. Jangan sampai – karena hanya mengandalkan kemampuan olah pikir yang diwarnai prasangka – kita secara prematur menolak   “hipotesis” bahwa perekonomian Indonesia berkembang pesat yang sejatinya benar. Jangan jangan, Indonesia yang tengah berubah ini memerlukan sikap dan cara pandang baru (mindset) warganya.

Tentu saja potret cantik perekonomian Indonesia bukannya tanpa catatan. Kekuatan ekonomi Indonesia masih bertumpu hampir sepenuhnya pada ekspor komoditas primer dan hasil ekstraksi sumber daya alam, seperti pada masa kolonial Belanda – sedangkan kinerja sektor manufaktur masih lemah. Indonesia bahkan dikhawatirkan mengalami kutukan sumber daya (resource curse) karena tidak berhasil dalam menganekaragamkan ekonominya sehingga tidah hanya bergantung pada ekspor komoditas primer (The Kian Wie, 2011).

Catatan yang senada juga diberikan oleh Forum Ekonomi Dunia (the World Economic Forum, WEF). Menurut lembaga ini, meskipun tingkat daya saingnya semakin menguat Indonesia masih memiliki kelemahan dalam sejumlah pilar daya saing, antara lain kesehatan masyarakat, infrastruktur, efisiensi ketanagakerjaan, dan kesiapan teknologi (technological readiness). Penilaian GCI bertumpu pada 12 pilar daya saing, yaitu: (1) kelembagaan, (2) infrastruktur, (3) lingkungan ekonomi makro, (4) kesehatan dan pendidikan dasar, (5) pendidikan tinggi dan pelatihan, (6) efisiensi pasar, (7) efisiensi ketenagakerjaan, (8) pasar keuangan, (9) kesiapan teknologi, (10) ukuran pasar, (11) kecanggihan bisnis, dan (12) inovasi.

Seperti kita maklumi bersama, saat ini yang tengah menjadi primadona dalam diskursus publik adalah pilar pertama: kelembagaan. Pilar Kelembagaan menyangkut mutu lembaga publik dan swasta, termasuk efisiensi pemerintahan, tingkat keamanan, governance korporasi, keadilan dan tranparansi lembaga lembaga publik. Tanpa bermaksud menafikan kerusakan kronik pilar kelembagaan di negeri ini, menurut hemat saya sudah terlalu banyak waktu dan energi yang tercurah untuk membahasnya di semua jenis media dan ruang ruang publik. Universitas, menurut hemat saya, sebaiknya tidak larut begitu saja dalam arus kuat diskursus publik – yang semakin hari semakin pekat dengan nuansa politik. Ketika semakin banyak institusi kemasyarakatan, terutama media, semakin leluasa dan tanpa canggung lagi memeragakan bias politiknya maka universitas sudah selayaknya terpanggil untuk terlibat secara obyektif atas nama kepentingan masyarakat luas.

Dengan  kata  lain,  di  samping  terus  secara  kritis  memantau dan menyampaikan saran terhadap jalannya pembangunan, universitas sudah selayaknya pula ikut memperkuat daya saing Indonesia sesuai dengan fungsi dan ranah kerjanya. Mengacu pada ke 12 pilar daya saing WEF, setidaknya ada tiga pilar yang langsung kena mengena dengan universitas, yaitu pilar (5) Pendidikan Tinggi dan Pelatihan, (9) Kesiapan Teknologi dan (12) inovasi. Inti dari pilar Pendidikan Tinggi dan Pelatihan fokusnya adalah  mutu  dan  akses  ke  pendidikan  menengah  dan  tinggi, serta mutu magang kerja calon lulusan. Pilar Kesiapan Teknologi terfokus pada penetrasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan kemampuan mengadopsi dan meningkatkan peran teknologi untuk memacu produktifitas. Pilar Inovasi mencerminkan potensi nasional dalam membangkitkan kemampuan inovasi dakhil (endogenous).

Menurut hemat saya semua universitas di Indonesia sudah selayaknya   menempatkan   pengembangan   ketiga   pilar tersebut di atas sebagai prioritas. Ketiga pilar itu layak untuk secara frontal dihadapi oleh semua universitas – baik sebagai tantangan maupun peluang.  Akses dan mutu pendidikan tinggi, kemampuan mengadopsi dan   meningkatkan peran teknologi, serta  kemampuan  inovasi  sudah  seharusnya  menjadi  agenda kerja universitas universitas di negeri ini, kecuali jika mereka siap ditinggal  oleh  gerbong  kemajuan  Indonesia.  Akhirnya, yang   pantang   dilupakan   adalah   bahwa   universitas   adalah wahana persemaian generasi muda yang harus siap mengarungi tantangan jaman baru, bukan mereka yang terkungkung oleh ketidakberdayaan masa lalu. Indonesia yang akan dihadapi oleh mereka yang masih mahasiswa hari ini tentu berbeda dengan Indonesia yang dipahami dan dialami oleh para dosennya.