2 Universitas Pembawa Kabar Baik

Dimuat di Harian SUARA MERDEKA 16 Februari 2011

Tanpa terasa kita telah meninggalkan dasawarsa pertama milineum ketiga. Gerak maju sang waktu ternyata masih menyisakan ketidakpastian. Uncertainty still happens!. Mari kita tengok kembali apa yang berlangsung di negeri tercinta ini selama 1-2 tahun terakhir. Ingatan kolektif kita nyaris sepenuhnya diisi oleh rentetan bencana, baik bencana moral maupun bencana alam. Indonesia dalam ingatan kolektif warganya adalah negeri dengan wajah penuh goresan kesedihan dan keculasan. Harus diakui, meskipun dengan sedih, berita dan liputan media telah berhasil membentuk wacana publik yang sarat dengan kepedihan. Manifestasi pameo “a bad news is a good news” tak terelakkan lagi, dan kita harus rela menerimanya karena wajah media adalah bayangan cermin masyarakatnya.

Untuk menyebut beberapa, negeri ini telah dihantam oleh serentetan bencana “moral”, seperti kasus “markus”, mafia peradilan, Bank Century, mafia pajak, hingga yang paling mutakhir pelancongan Gayus dengan paspor ajaibnya, serta pelantikan seorang tersangka menjadi kepala daerah. Perpaduan antara bencana-bencana “moral” tadi dengan sejumlah bencana alam yang dahsyat – seperti longsor dan banjir Wasior, tsunami Mantawai, letusan Gunung Merapi dan Gunung Bromo – benar- benar tidak memberi celah bagi menyeruaknya kabar baik.

Dihantam gelombang kabar buruk ternyata tidak menyurutkan langkah masyarakat untuk terus menggulirkan kehidupan. Life goes on! Apakah ini wujud resiliensi manusia Indonesia? atau masyarakat justru sudah jenuh dan akhirnya masa bodoh menyikapi rentetan kabar buruk itu. Terlepas dari itu semua, kita masih patut bersyukur bahwa bela-rasa, solidaritas, kesetiakawanan masih selalu lahir spontan ketika menyikapi bencana alam. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menghimpun kekuatan bela-rasa, solidaritas dan kesetiakawanan – bukan hanya saat didera  bencana  alam  –  menjadi  sebuah  kekuatan  yang  besar untuk mengubah wajah negeri ini.  Siapa yang harus mengambil prakarsa? Dalam pandangan saya, universitas (baca: civitas academica) wajib menjadi salah satu penggeraknya. Universitas harus tampil di depan sebagai pembawa kabar baik.

Berakar di Masyarakat

Dalam sejarahnya, ada suatu masa ketika universitas dilahirkan oleh dan demi membela hak-hak dan kepentingan warga masyarakat (kota). Universitas-universitas di Eropa pada abad pertengahan, seperti Bologna (1158), Paris (1170), Cambridge (1209) dan Praha (1348) didirikan oleh warga kota. Sebagai Universitas scientiarum, perguruan-perguruan tinggi itu dijalankan oleh masyarakat warga (civil society) – sehingga tanggung jawab universitas adalah tanggungjawab kewargaan (Bernhard Kieser SJ, 2009).

Dalam konteks kekinian, ketika ia harus hidup di tengah masyarakat ilmu   pengetahuan   (knowledge   society),   universitas   memiliki empat tujuan utama, yatu:  (1) menginspirasi dan memampukan individu-individu untuk mengembangkan kemampuan mereka hingga ke tingkat yang paling tinggi, (2) memajukan pengetahuan dan pemahaman, (3) mendukung perekonomian, (4) membentuk masyarakat yang demokratik dan beradab (Lord Dearing’s National Committee of Inquiry into Higher Education UK, seperti dikutip Diana Laurillard, 2002). Masih menurut Diana Laurillard, dengan terpenuhinya keempat tujuan itu diharapkan universitas dapat berperan untuk memampukan masyarakat untuk terus secara  mandiri  memiliki  pemahaman  tentang  dirinya  sendiri dan dunia sekitarnya – to enable society to maintain an independent understanding of itself and its worlds. Dengan kata lain universitas harus senantiasa mendampingi masyarakat dalam mengarungi perubahan jaman.

Kabar Baik

Nilai penting universitas dalam sebuah masyarakat sama sekali bukan karena muridnya disebut sebagai maha-siswa atau sebagian gurunya disebut sebagai maha-guru, melainkan karena kemampuannya menyampaikan kabar baik kepada masyarakat. Universitas harus mampu senantiasa membaca tanda-tanda jaman dan mengabarkannya kepada masyarakat. Inilah kabar baik yang diharapkan dari kehadiran universitas di tengah masyarakat yang melahirkannya.

Terimakasih pada media cetak, seperti Suara Merdeka, yang menyediakan halaman untuk warga universitas berwacana tentang apa yang tengah terjadi di “dunia nyata” masyarakat. Terlebih dari itu, tulisan opini para mahasiswa dan dosen yang mengkritik hal-hal yang patut dikoreksi di negeri ini adalah juga kabar baik. Tugas komunitas intelektual – terutama intelektual kampus – adalah memotret keadaan masyarakatnya dan mengusulkan bagaimana memperindah potret itu.

Tersedianya halaman khusus “Edukasia” juga menjadi lahan persemaian kabar baik tentang perkembangan dan kemajuan universitas. Jangan jangan, hanya halaman inilah yang menampilkan berita yang membesarkan hati, seperti keberhasilan penelitian, dosen dan mahasiswa berprestasi, peran serta universitas kita di aras global – untuk menyebut beberapa. Memang, meskipun belum berjaya secara mondial universitas- universitas kita masih senantiasa mampu menyampaikan kabar baik bagi masyarakat.

Dalam menghadapi arus kuat globalisasi dan gairah kebendaan yang  luar  biasa  dahsyat  saat  ini,  universitas  mau  tidak  mau harus berada di garda depan. Universitaslah lahan persemaian para pemimpin masyarakat yang nantinya diharapkan mampu mengarungi arus deras globalisasi dan meredam gairah kebendaan itu.  Universitas  –  sadar  tidak  sadar  –  punya  tanggungjawab untuk menghasilkan para pemimpin yang sanggup membaca tanda  tanda  jaman  secara  arif  dan  membebaskan  masyarakat dari  keterpurukan.  Tetapi  –  suka  tidak  suka  –  sangat  boleh jadi seluruh pelaku atau pemicu krisis kemasyarakatan adalah produk  universitas  juga.  Meminjam  ungkapan Albert  Enstein, memang biang keladi semua krisis adalah pikiran manusia sendiri. “The world we have created is the product of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking”, tulis Albert Einstein. Untuk mengubah wajah dunia yang buram ini hanya dmulai  dari  perubahan  pemikiran.  Di  dalam  pemikiran  tentu saja melekat nilai dan etika. Dan dalam hal ini universitas adalah salah satu “dapur” pemikiran terpenting dalam masyarakat. Dengan kata lain, mandat universitas adalah membentuk dan mengasah pemikiran dosen, mahasiswa dan alumninya (civitas academica) agar senantiasa memihak, berpikir dan bertindak demi kemaslahatan dan masyarakat sekitarnya. Jika mandat ini benar- benar dapat dilaksanakan oleh universitas universitas kita, maka itulah kabar baik yang dirindukan oleh masyarakat.