Transformasi Pidato yang Menginspirasi

Kata Pengantar – Benediktus Danang Setianto

Tidak mudah bagi saya untuk menuliskan pengantar bagi karya-karya Prof. Budi Widianarko. Pertama, tentu saya merasa bahwa orang akan lebih tertarik untuk segera membaca tulisan beliau daripada menikmati pengantar ini. Kedua, jangan-jangan pengantar yang saya buat setelah saya membaca seluruh karya beliau yang ada dalam terbitan ini, justru malah memberikan penafsiran yang tidak tepat atas karya beliau. Ketiga, sebagai sebuah pengantar, saya membayangkan harus bisa memberikan ajakan untuk membaca karya beliau padahal tanpa ajakan, orang pasti akan tertarik untuk membaca karya beliau. Namun, setelah saya pertimbangkan, di tengah kesibukan saya menjadi salah satu peserta Workshop IASACT.

2017 di HongKong, saya hanya membayangkan kalau saya berfungsi sebagai seorang Master of Ceremony dalam sebuah acara dan meminta pembicara untuk naik ke panggung dan mempresentasikan karyanya atau sedikit lebih baik, saya membayangkan sebagai seorang moderator diskusi yang memperkenalkan beliau dan CV- nya sebelum beliau diberi kesempatan untuk bicara. Dalam posisi seperti itulah tampaknya pengantar ini ditempatkan.

Yang dikumpulkan di sini adalah pidato Prof Budi Widianarko selama menjadi Rektor yang disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Unika SOEGIJAPRANATA dengan agenda tunggal wisuda sejak tahun 2010 sampai dengan 2017, dan beberapa tulisan beliau lainnya.

Yang menarik adalah, dari setiap pidatonya, kita selalu menemukan sesuatu untuk kita pelajari. Alih-alih hanya sekedar sambutan ucapan selamat datang, terima kasih dan selamat wisuda, Prof. Budi atau Prof BW (demikian beliau sering disebut) memberikan entah wacana baru yang sedang digelutinya, keprihatinan akan kondisi masyarakat, ajakan untuk berbuat lebih banyak dan tentu saja hal-hal yang harus disiapkan untuk menghadapi masa depan, baik untuk wisudawan tetapi sekaligus juga untuk Unika SOEGIJAPRANATA dan beberapa pemikirannya tentang kondisi yang terjadi pada saat tulisan dibuat.

 

Uniknya lagi, semua pidato yang disampaikan saat wisuda selalu bisa  ditransformasikan  beliau  menjadi  sebuah  naskah  bernas yang dipublikasikan untuk masyarakat yang lebih luas. Di sinilah apresiasi lebih tinggi layak disampaikan sehingga tidak hanya peserta wisuda saja yang menikmati pikiran-pikiran tajam beliau, tetapi juga masyarakat yang berkesempatan membaca transformasi pidato beliau ke dalam artikel media massa.

 

Buku ini menjadi bentuk transformasi berikutnya, mereka yang tidak melanggan atau kebetulan terlewatkan satu-dua artikel yang termuat bisa membacanya dalam buku ini. Terlebih lagi, dengan penyusunan sesuai dengan pengelompokan tertentu yang dilakukan dalam kesatuan buku ini, semakin membuat pembaca dapat menemukan benang merah, keruntutan dan ketersatuan pemikiran-pemikiran beliau. Transformasi karya yang selalu akan menginspirasi.

Meskipun  ada  empat  bagian  dalam  buku  ini,  namun pembaca akan bisa menemukan bahwa tulisan dalam bagian-bagian tersebut bukanlah berdiri sendiri tetapi merupakan pikiran-pikiran yang saling berkelindan layaknya relasi rektor dan lembaga yang dipimpinnya sekaligus tanggungjawabnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Alih-alih mengantarkan bagian per bagian dari tulisan tersebut, perkenankanlah saya mengantarkan tulisan-tulisan luar biasa dari Prof BW dengan pendekatan dan pengelompokan yang berbeda. Hal ini secara sengaja saya lakukan justru untuk menunjukkan betapa rangkaian tulisan dalam buku ini, bisa dibaca per judul, per bagian, atau sesuai dengan kebutuhan pembaca itu sendiri. Tidak ada keharusan membacanya berurutan dari halaman pertama sampai terakhir, karena kedalaman judul per judul dan kaitannya justru kadang ditemukan ketika kita lincah menelusuri dengan bebas lembar mana yang hendak kita baca.

Tantangan bagi wisudawan

Ajakan untuk mempersiapkan diri bagi masa depan disampaikan Prof BW pada tahun 2010 ketika mengawali tugasnya untuk memimpin lembaga perguruan tinggi. Dengan menyitir pendapat Howard  Gardner,  kita  semua  diingatkan  tentang  tugas  dasar dari  Perguruan  Tinggi  untuk  mempersiapkan  generasi  muda yang  memiliki  discipline,  creative,  dan  synthesizing  mind,  yang harus dibarengi juga dengan tantangan yang lebih membentuk kepribadian yaitu respectful dan ethical mind.

Tantangan untuk menyiapkan diri juga juga dikaitkan dengan upaya untuk menambahkan ketrampilan komunikasi, rasa percaya diri dan semangat berkompetisi sehingga mampu meningkatkan nilai keterkerjaan (employability) bagi lulusan Unika SOEGIJAPRANATA.

Dorongan lain yang ditujukan kepada wisudawan adalah ajakan untuk tidak takut keluar dari cangkang telur kenyamanan hidup dan mempersiapkan diri menjadi warga global (global citizenship), siap  maju  dalam  persaingan  sarjana  di  tingkat  pasar ASEAN, dengan penguasaan bahasa internasional yang lebih baik tanpa harus kehilangan menjadi pribadi-pribadi yang berintegritas sebagaimana sudah dilatihkan di Unika SOEGIJAPRANATA melalui ATGW (Awaken The Grateful Winner d/h Awakening The Giant Within) dan SALT (Soegijapranata Advance Leadership Training) dan pelatihan-pelatihan softskill lainnya semasa kuliah.

Tugas Perguruan Tinggi

Tulisan beliau juga banyak memberikan refleksi terhadap dinamika perguruan tinggi setidak-tidaknya selama beliau memimpin, baik yang dialami secara internal maupun realitas di eksternal yang ikut mempengaruhinya.

Pada tahun 2010, Universitas sebagai Pembawa kabar baik menjadi tema sentral pidato karena refleksi kondisi eksternal bangsa pada saat itu. Hal ini ditegaskan lagi dengan peran Unika SOEGIJAPRANATA untuk secara aktif menjalankan metode pembelajaran Service Learning dengan 5 R-nya yaitu Relationship, Rigor, Reciprocity, Reflection dan Real Life, sehingga pembelajaran yang diberikan lengkap antara Head, Hand, dan Heart, dalam tulisan beliau di tahun tahun sesudahnya.

Salah satu tonggak yang membuat tugas Unika SOEGIJAPRANATA semakin tegas adalah dirumuskannya semboyan kampus yang berasal dari Mgr. Albertus Soegijapranata sendiri yaitu Talenta pro patria et humanitate. Rumusan yang semakin menegaskan bahwa Unika tidak mau menjadi menara gading yang terpisah dari masyarakatnya tetapi harus siap sedia mendampingi masyarakatnya. Tema yang kemudian mencuat lagi dengan pengalaman nyata dari hasil refleksi karya yang memberikan pengalaman bagi semua dosen dan karyawan untuk merasakan denyut nadi masyarakat desa di tahun 2016 dengan Close Encounter of the Third Kind.

Salah satu hasil dari perjalanannya ke Belanda, Prof Budi belajar dari keteladanan Muhammad Hatta yang direfleksikan bahwa betapa pentingnya menumbuhkan semangat untuk memberikan talenta yang terbaik bagi Negara ini. Untuk itu, salah satu tugas utama dari perguruan tinggi adalah juga mencetak pelopor-pelopor integritas.

Dalam  menyikapi  pertumbuhan  IT  yang  begitu  pesat  beberapa kali Prof BW juga ungkapkan dalam tulisannya. Kebutuhan akan kecepatan akses karena terjadinya Konvergensi Ekonomi dan Teknologi dan sinyalemen bahwa dunia ini datar (bedakan dengan bumi datar) dari Thomas L Friedman ternyata memunculkan kedangkalan pemikiran yang harusnya menjadi tugas Perguruan Tinggi untuk memperbaikinya.

Demikian juga munculnya Pakar Warga akibat terjadinya demokrasi pengetahuan dengan adanya fenomena crowd-sourcing. Unika harus bertransformasi menjadi knowledge hub tanpa harus kehilangan kecerdasannya untuk bisa memilih informasi-informasi yang Satisficing –Satisfying dan sufficient. Karena tanpa memiliki kecerdasan tersebut maka ledakan informasi yang terjadi tidak akan bisa dikendalikan dan dimanfaatkan.

Keprihatinan Perguruan Tinggi akan kehidupan bermasyarakat dan bernegara

Beberapa tulisan beliau juga menekankan pentingnya tetap terlibat dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Setelah beberapa kali memaparkan kelebihan pertumbuhan ekonomi, ajakan untuk tetap secara positif mendukung pemerintah juga disertai dengan catatan kritis terhadap berbagai hal yang lalai dilakukan pemerintah. Rendahnya tingkat literasi Indonesia disampaikan pada tahun 2016, ketidakpastian yang terjadi akan situasi politik juga mencuat di awal tahun 2015, serta fenomena brain drain yang pasti terjadi ketika pemerintah tidak mampu memberikan ruang bagi prestasi-prestasi anak negeri.

Fenomena demokrasi yang kebablasan juga ditanggapi dengan pentingnya menemukan kepemimpinan yang otentik. Menyitir tulisan Michael Hyatt, beliau mengatakan bahwa memiliki wawasan, menunjukkan prakarsa, menebar pengaruh, memiliki dampak dan mempraktekkan integritas adalah kualitas karakter pemimpin yang otentik. Dengan karakter seperti itulah maka harapan Negara Indonesia akan berkembang jauh lebih baik akan segera terwujud. Tentu saja karakter tersebut harus bisa antara lain diciptakan oleh dunia pendidikan yang telah menjadi Paideia bagi karakter tersebut.

Mosaik-mosaik pemikiran seperti itulah yang akan ditemui ketika kita kembali lagi membaca ulang lembar demi lembar tulisan Prof BW, sambil membayangkan kebahagiaan yang dirasakan oleh wisudawan/wisudawati dan para keluarganya serta kebanggaan para anggota senat yang menyaksikannya. Suasana wisuda tidak lagi sekedar menjadi ritual perguruan tinggi yang membosankan tetapi juga kuliah pamungkas dari rektornya untuk para mahasiswanya di akhir masa kuliahnya. Harapannya perasaan semacam inilah yang juga muncul ketika membaca buku ini. Jauh dari kata membosankan namun juga tidak sekedar menghibur melainkan memunculkan keresahan untuk terlibat menemukan jawaban atas problema yang terjadi.

Talenta pro patria et humanitate, dari Unika SOEGIJAPRANATA untuk tanah air dan kemanusiaan, demikianlah tampaknya rangkuman dari semua pidato beliau. Semoga ini menjadi pengantar yang lebih memberikan ajakan mendalami detail-detail pemikiran beliau.

Hongkong, 4 Juli 2017

Benediktus Danang Setianto