27 Daerah Minati Bangun Kereta Ringan

Ir. Drs. Djoko Setijowarno,  MT. – Pengajar Prodi. Teknik Sipil Unika Soegijapranata

Artikel dimuat di Jawa Pos, 27 Februari 2017

Kereta ringan atau light rail transit (LRT) sudah mulai terbangun di Indonesia. Dimulai dari LRT Jabodetabek lintas Cibubur-Cawang (14,3 km dan 4 stasiun), lintas Cawang-Kuningan-Dukuh Atas (10,5 km dan 7 stasiun) dan lintas Bekasi Tmur-Cawang (18,5 km dan 5 stasiun). Berikutnya, diikuti LRT Sumatera Selatan di Palembang lintas Bandara Sutan Mahmud Badaruddin II – OPI (24,3 km dan 13 stasiun) dan LRT Jakarta lintas Kelapa Gading- Velodrome Rawamangun (6 km dan 4 stasiun).

Keunggulan LRT layang adalah bebas hambatan, menghilangkan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Tidak mengganggu perjalanan kereta, terhindar gangguan kriminal dan sabotase.

LRT Sumatera Selatan mulai bangun Oktober 2015 dalam rangka Asian Games 2018 di Kota Pelambang. Pekerjaan konstruksi per Januari 2017 mencapai 30%. Pengerjaannya cukup mengganggu lalu lintas harian warga Palembang. Terlebih saat pekerjaan pondasi berlangsung. Pembangunan jalur LRT menggunakan median jalan dan pengerjaannya dilakukan 24 jam. Pekerjaan konstruksi ditarget selesai akhir Desember 2018 dan siap dioperasikan Juni 2018. Mengingat jalan-jalan di dalam Kota Pelambang sudah semakin padat lalu lintasnya, sehingga perlu jalur alternatif di jalur yang sama tetapi bebas hambatan.

LRT Sumatera Selatan ini unik selain akan melayani angkutan perkotaan (Kota Palembang dan Kab. Banyuasin) juga penumpang bandara. Jalur LRT melintasi aliran Sungai Musi, dibangun bentang jembatan 445 meter bersisian dengan konstruksi Jembatan Ampera sekarang. Di sepanjang jalur akan terbangun 13 stasiun dan satu depo berkapasitas 14 train set. Tipe proyek adalah design and built melalui penugasan berdasar Perpres No. 116 Tahun 2015 dan Perpres No. 55 Tahun 2016 kepada kontraktor pelaksana PT Waskita Karya dan pengoperasian sarana pengadaan, pengusahaan, pengoperasian dan pemeliharaan) akan diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia.

Lebar jalan rel 1.067 mm dengan axle load 12 ton. Kecepatan rencana 100 km/ jam. Kecepatan maksimum 85 km/jam. Konstruksi berupa elevated (slab track) dengan persinyalan fixed block with cap signal (ETCS Level 1). Sistem electrical dengan third rail system (sistem rel ketiga) 750 VDC.

Setiap rangkaian terdiri 3 cars (kereta) berkapasitas 445 penumpang. Lama berhenti di stasiun satu menit. Kecuali di Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badarudin II dan Stasiun OPI selama 10 menit. Pembuatan sarana oleh PT Inka di Madiun. Sarana yang disapkan sebanyak 8 train set (6 train set operasi dan 2 train set perawatan dan cadangan).

Biaya pembangunan Rp 10,5 triliun, setelah diaudit oleh konsultan independen. Cukup mahal sekitar Rp 465 miliar/km. Bandingkan membangun jalan rel di permukaan Rp 30 miliar/km.

Bikin iri

Setelah melihat perkembangan LRT Sumatera Selatan, beberapa daerah mulai berminat dengan melakukan studi kelayakan kereta ringan. Harapannya dapat terbangun di daerahnya. Demam kereta ringan sudah menjangkit beberapa kepala daerah. Padahal jika melihat kondisi transportasi umum berbasis jalan raya, masih kepayahan dan kurang dikembangkan sungguh- sungguh. Akan tetapi mau melompat untuk mengelola kereta ringan.

Investasi untuk membangun kereta ringan tidaklah murah. Pengadaan sarana mencapai Rp 710 miliar untuk pembelian saran dan fasilitas pendukung. Untuk sarana sudah kontrak dengan PT Inka Rp 385 miliar. Belum lagi nanti pengoperasiannya harus disubsidi. Jelas banyak pemda  yang tidak sanggup memberikan subsidi, karena keterbatasan APBD. Selain Kota Jakarta yang memiliki APBD Rp 70an triliun, paling tinggi tidak mencapai Rp 8 trilun untuk kota dan kabupaten.

Di sisi lain, Kota Palembang termasuk berhasil membangun bus sistem transit mencapai 8 koridor sejak tahun 2009. Banyak kota lain dalam waktu bersamaan belum sampai 5 koridor terbangun. Hanya Kota Pekanbaru sudah 7 koridor yang dioperasikan.

Berdasarakan studi PT Pricewaterhouse, besaran ATP diperkirakan kisaran Rp 5 ribu. Sedangkan tarif keekonomian Rp 25.500/orang. Besaran rata-rata tingkat isian 33% dengan frekuensi 48 perjalanan KA/hari. Diperkirakan jam sibuk 06.00-09.00 dan 16.00-19.00. Headway peak hour 15 menit dan headway non peak hour 30 menit.

Kota Bandung dan Surabaya lebih dulu menyiapkan studi kelayakan kereta ringan. Dua jalur trem di Surabaya dan dua jalur kereta ringan layang untuk Bandung. Pemda tidak hanya minta dibangun pemerintah pusat, namun kemampuan subsidi dan jumlah penggunanya nanti setelah beroperasi harus dikalkulasi. Harus ada kebijakan transportasi untuk memaksa warganya menggunakan transportasi umum supaya tidak sia-sia terbangun.

Kemampuan  finansial  APBD  terbatas,  cukup  membangun transportasi publik berbasis jalan raya. Mulai operasikan bus sedang hingga bus gandeng. Di Bogota sudah mencoba bus gandeng hingga 3 unit dalam satu rangkaian. Prasarana jalan sudah tersedia, tinggal adakan armada bus, bangun halte, garasi dan perangkat IT untuk pelayanan lebih baik.

Kota Semarang yang berhasrat membangun LRT, dapat mempertimbangkan ini. Demam transportasi umum baik, tetapi jangan memaksa kehendak harus kereta ringan, sementara kemampuan finansialnya rendah.