29 Konektivitas Lewat Kereta Bandara

Ir. Drs. Djoko Setijowarno,  MT. – Pengajar Prodi. Teknik Sipil Unika Soegijapranata

Artikel dimuat dJawa Pos, 17 April 2017

Kereta merupakan sambungan antar moda yang efektif dan efisien melayani masyarakat. Ini adalah visi Presiden Joko Widodo yang diwujudkan dalam pembangunan sejumlah kereta bandara, seperti Kereta Bandara Soekarno Hatta, Bandara Minangkabau dan Bandara Adi Soemarmo.

Berawal dari tersedianya Stasiun Maguwo yang digeser mendekati pintu keluar Bandara Internasional Adi Sucipto di Yogyakarta. Dianggap sudah ada konektivitas sebagai kereta bandara. Setiap perjalanan KA Prameks Jurusan Yogyakarta-Solo atau sebaliknya selalu berhenti di Stasiun Maguwo.

Selanjutnya dibangun kereta bandara yang menghubungkan Bandara Internasional Kualanamu dengan Stasiun Medan yang terletak di pusat Kota Medan sepanjang 28 km. Kereta bandara ini mulai beroperasi pada 25 Juli 2013.

Proyek kereta Bandara Soekarno Hatta membentang sejauh 36 kilometer denga rute Manggarai – Sudirman – Duri – Batu Ceper-Bandara Soekarno Hatta. Kapasitas angkut diperhitungkan untuk 332 ribu penumpang dengan kisaran tarif Rp 100 ribu – Rp 150 ribu. Biasanya nanti setelah akan dioperasikan, tarif sebesar itu diturunkan disesuaikan dengan kemampuan penggunanya. Asal nanti tarifnya tidak serendah Bus Damri atau setinggi taksi bandara. Dapat diambil di antaranya sekitar Rp 75 ribu – Rp 100 ribu, seperti halnya di negara tetangga Malaysia dan Thailand.

Ada lagi kereta Bandara Minangkabau juga akan segera dioperasikan. Panjangnya 23 km dengan layanan rute Padang – Tabing – Bukuh dan Bandara Internasional Minangkabau. Kapasitas angkutnya 348 penumpang untuk sekali jalan. Rencananya Kereta Bandara Internasional Minangkabau dan Kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang akan diluncurkan tahun ini.

Di Kota Palembang sedang dibangun kereta ringan (light rail transit/LRT) sejauh 23,4 km yang membentang dari Bandara Sultan Badarudiin II hingga Kawasan OPI. Jaringan kereta ini juga memadukan jalur kereta bandara dengan kereta perkotaan. Terdapat 13 stasiun yang akan melayaninya.

Teranyar adalah kereta Bandara Adi Soemarmo yang baru dilakukan ground breaking pada 8 April 2017 oleh Presiden Joko Widodo. Jalur kereta bandara ini menghubungkan Stasiun Solo Balapan dengan Bandara Adi Soemarmo sejauh 13,5 km.

Jalur  tersebut  merupakan  jalur  eksisting  antara  Stasiun  Solobalapan  – Stasiun Kalioso sepanjang 3,5 km. Kondisi eksisting jalur tersebut melewati perkampungan  di  kelurahan  Gilingan,  Nusukan  dan  Kadipiro.  Sebagian jalur kereta bandara Solo Balapan – Bandara Adi Soemarmo berdampingan dengan jalan Tol Solo – Kertosono.

Pembangunan kereta bandara memang gencar dilakukan di era Presiden Joko Widodo. Contohnya, kereta bandara Adi Soemarmo yang proyeknya baru saja diresmikan. Indonesia bisa dianggap terlambat dalam urusan membangun kereta bandara. Jika mengandalkan transportasi jalan saja, maka bisa mengganggu mobilitas penumpang terjadi gangguan.

Indonesia sudah bisa dibilang terlambat untuk perkara membangun kereta bandara. Pengalaman Bandara Internasional Soekarno Hatta sebagai rujukan. Dulu pemerintah cuma membangun akses jalan tol, akibatnya ketika macet atau ada gangguan lain, tidak bisa berbuat apa-apa ketika banjir tiba. Ditambah empat lajur lagi, juga tidak menyelesaikan masalah. Karena menumpuk semua perjalanan di jalan tol.

Meski begitu, dengan pesatnya pertumbuhan industri maskapai penerbangan, dilengkapinya bandara dengan akses kereta menjadi indikator kondisi transportasi suatu negara. Saat ini, baru Bandara Internasional Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara) yang sudah mengoperasikan kereta bandara.

Dengan adanya kereta bandara, artinya banyak alternatif transportasi. Volume penumpang yang masih sedikit jangan menjadi alasan kereta bandara kemudian tidak dibangun.

Bandara Adi Soemarmo sekarang bisa dikatakan masih sepi. Tetapi ke depan bakal ramai, apalagi ada akses kereta juga ke Yogyakarta. Tapi selain itu, pembangunan kereta bandara juga harus didorong penuh oleh pemdanya.

Setidaknya hingga 2019 sudah beroperasi 5 kereta bandara, yakni Bandara Internasional Kualanamu, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Internasional  Minangkabau,  Bandara  Internasional  Sultan  Badaruddin  II, dan Bandara Internasional Adi Soemarmo. Masih ada kemungkinan tiga bandara  lagi  yang  mengikutinya,  yakni  Bandara  Raden  Intan,  Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dan Bandara Jawa Barat International Airport (JBIA).

Jika semuanya bisa beroperasi, suatu capaian pembangan kereta bandara yang belum pernah dilakukan pemerintah sebelumnya untuk membangun konektivitas simpul transportasi.

Lantas, bagaimana dengan Bandara Internasional Ahmad Yani yang terletak di Kota Semarang. Berpindahnya terminal penumpang ke sisi utara dan ditargetkan  selesai  dibangun  pertengahan  tahun  2018,  mengisyaratkan dapat dibangun jaringan kereta bandara. Bentuk jalurnya beragam, bisa berupa kereta ringan seperti di Palembang atau kereta bandara dengan jalur tersendiri.

Selain tersedia taksi, BRT Trans Semarang dan Bus Damri, perlu dipikirkan jalur Kereta Bandara A. Yani. Kereta bandara menandakan transportasi massal modern di masa depan.