26 Mengarah Jalan  Searah

Ir. Drs. Djoko Setijowarno,  MT. – Pengajar Prodi. Teknik Sipil Unika Soegijapranata

Artikel dimuat di Jawa Pos, 13 Februari 2017

Awal tahun 2017, warga Kota Semarang disuguhi program jalan searah. Dimulai jalan Veteran, jalan Menteri Supeno, Jalan Dr. Karyadi, putaran Taman KB dan jalan Mayjend. MT Haryono. Kemudian berlanjut di awal bulan Februari untuk sebagian ruas Jalan Imam Bonjol, Jalan Kapten Piere Tendean, Jalan Thamrin dan Jalan Gajah Mada. Sebenarnya, beberapa ruas jalan tersebut, sebelum masa reformasi sudah searah, seperti selurh ruas Jalan Imam Bonjol, Jalan Kapten Piere Tendean, Jalan Thamrin dan Jalan Gajah Mada. Sekarang hanya mengembalikan ke posisi semula. Namun, warga sudah melupakan itu, sudah hampir 20 tahun berlalu.

Walau mendapat penolakan warga, karena kaget dan kurang sosialisasi menjadikan sejumlah jalan di hari pertama penerapan mengalami kemacetan. Idealnya, memang harus dilakukan sosialisasi dan simulasi. Memang tidak dapat ditolak adanya jalan searah ini.

Jumlah  kendaraan  bermotor  semakin  bertambah,  namun  kapasitas  jalan tidak bertambah, cenderung berkurang. Aktivitas parkir tepi jalan telah menyebabkan gangguan samping di sejumlah ruas jalan hingga menyebabkan kapasitas jalan berkurang.

Jalan searah sudah menjadi konsekuensi dari sebutan Semarang sebagai Kota Metropolitan yang tinggi tingkat mobilisasi warganya. Sayangnya, aturan sistem jalan searah tidak dibarengi dengan menggalakkan program penataan transportasi umum.

Pada pisnispnya, jalan dengan sistem satu arah dapat meningkatkan kapasitas jaringan jalan dengan mengurangi tundaan pada ruas-ruas jalan dan persimpangan. Asalkan gangguan tepi jalan juga harus dihilangkan. Sangat efektif untuk pola jalan grid. Yang diterapkan di Semarang ada yang bukan pola grid, bervariasi. Setidaknya mampu menampung 50% arus lalu lintas. Pola atau sifatnya permanen dan sementara. Sementara diterapkan pada hari atau jam tertentu. Misalnya, diterapkan dari jam 06.00 hingga jam 22.00 atau di hari ibur dan akhir pekan tidak berlaku sistem satu arah.

Secara teori, keuntungan lain adalah dapat mengurangi hambatan-hambatan pada persimpangan (konflik kendaraan membelok dan konflik arus kendaraan dengan penyeberang jalan), meningkatkan kecepatan rata-rata kendaraan (tidak berarti waktu perjalanan dapat lebih cepat), memungkinkan penyesuaian lebar lajur lalu lintas (dapat menambah kapasitas ataupun menambah lajur baru), meningkatkan waktu tempuh, memungkinkan perbaikan pengoperasian angkutan umum (terhindari berangkat dan pulang melalui jalan yang sama), terjadinya penyebaran lalu lintas (menghindari kemacetan pada jalan-jalan yang berdekatan), menyederhanakan pengaturan lampu pemberi isyarat lalu lintas (kasus koordinasi), dan gangguan oleh kendaraan yang keluar masuk parkir pada pinggiran jalan berkurang

Namun ada kerugiannya, seperti mempengaruhi aktivitas usaha di kiri kanan jalan (mengurangi angka penjualan), menyulitkan penyeberang jalan, menyebabkan waktu perjalanan bertambah lama bagi sejumlah pemakai jalan (harus berputar, tetapi dapat juga lebih cepat), kurang menyenangkan bagi lingkungan permukiman, memungkinkan fatalitas bertambah akibat kecepatan kendaraan tinggi, menyulitkan angkutan umum apabila tidak diberikan lajur khusus bis yang perlawanan arus (contra flow), pejalan  kaki tidak   harus   searah   dengan   lalu   lintas   kendaraan   bila berjalan di luar kerb, menyulitkan masyarakat yang tidak terlalu sering bepergian ke daerah tersebut.

Bagi kendaraan-kendaraan untuk kebutuhan darurat, seperti pemadam kebakaran dan ambulance terpaksa memutar, bagi pendatang baru membingungkan dan memungkinkan pasangan jalan sistem satu arah yang semula kawasan tenang berubah menjadi kawasan yang ramai.

Untuk merencanakan jalan satu arah harus mempertimbangkan jaringan jalan yang ada apakah dapat diperoleh sepasang jalan searah untuk mendistribusikan arus yang sebelumnya dua arah. Pengaruh yang muncul terhadap pengoperasian angkutan umum. kemudian, apakah perlu dilakukan pertimbangan terhadap larangan parkir untuk memenuhi jumlah lajur yang cukup. Perubahan apa saja yang perlu dilakukan dalam perambuan, marka, lampu pemberi isyarat lalu lintas dan peralatan pengontrol lainnya.

Memperhitungkan pula pengaruh dari angkutan barang. Juga pengaruhnya terhadap daerah-daerah pembangkit lalu lintas sekitar jalan satu arah tersebut dan diperhitungkan pula pengaruh dari sistem perparkirannya. Dapat pula mempertimbangkan geometrik jalan satu arah, pertemuan dengan lalu lintas dua arah tidak menimbulkan kemacetan maupun masalah keselamatan.

Jalan searah ini akan efektif, jika dibarengi dengan penataan transportasi umum yang memadai. Jalan searah hanya dapat mengurai ketersendatan lalu lintas, namun tidak dapat mengatasi ketersendatan lalu lintas. Tidak ada proses peralihan dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. yang ada hanya beralih lewat jalan mana.

Program penataan transportasi umum harus dikebut, jika perlu di sejumlah jalan searah dilakukan program contra flow untuk kendaraan umuu, seperti tahun lalu dilakukan Pemkot. Surakarta ketika menjalankan program jalan searah. Parkir tepi jalan harus dihilangkan untuk menambah kapasitas jalan.