2 Nasionalisme ala Sepakbola: Pesan dari Yogyakarta

Dr. Antonius Maria Laot Kian-Dosen FHK Unika Soegijapranata  Artikel dimuat di Kolom Opini Harian Kedaulatan Rakyat, Senin, 6 Februari 2017, hal. 12.

Sabtu, 4 Februari 2017 merupakan hari bersejarah dalam persepakbolaan Indonesia yang mati suri sejak induk organisasi sepakbola Indonesia dibekukan FIFA. Betapa tidak! Pada hari tersebut, Presiden Joko Widodo membuka dengan resmi turnamen sepakbola berskala nasional bertajuk Piala Presiden. Kota Yogyakarta menjadi kota pembuka bagi penyelenggaraan turnamen ini. Tidak tanggung-tanggung, 20 tim sepakbola, yaitu 18 tim dari Liga Super Indonesia dan 2 (dua) tim dari Divisi Utama ikut meramaikan turnamen ini. Beberapa di antaranya dari ujung barat Indonesia, semisal Semen Padang FC dan Sriwijaya FC, sedangkan di timur Indonesia ada Persipura Jayapura dan Perseru Serui; dari Kalimantan ada Persiba Balikpapan, Barito Putra, Pusamania Borneo FC, sementara di Sulawesi terdapat PSM Makassar; sisa yang lain berasal dari Pulau Jawa, Bali, dan Madura.

Kehadiran Presiden Joko Widodo dalam acara pembukaan turnamen ini memberikan nuansa tersendiri; apalagi beberapa menteri pun turut menyertai Presiden. Dalam kebersahajaan busana putih dan disambut oleh keramahan Yogyakarta, pantaslah  bagi  kita  untuk  meninggalkan sejenak hiruk-pikuk Jakarta. Abaikan sementara cerita-cerita sidang penistaan agama yang belakangan diikuti oleh aduan sang mantan Presiden karena merasa disadap dalam pusaran Pilkada DKI Jakarta; atau tentang Patrialis Akbar yang menodai MK lantaran disangkakan melakukan tindak pidana korupsi; lupakan sejenak bola-bola liar politik ibukota negara, dan berkonsentrasi pada bola di Stadion Maguwoharjo Sleman yang menurut Presiden Joko Widodo: mempersatukan, menciptakan prestasi, dan menggembirakan! Melalui sepakbola, Presiden kita memberi pesan sederhana ini: nasionalisme.

Sepakbola itu Mempersatukan

Dalam sambutannya yang singkat, Presiden Jokowi memberi pesan agung nasionalisme dalam sepakbola, yaitu supaya menjadikan sepakbola sebagai pemersatu, sepakbola untuk menciptakan prestasi, dan sepakbola menjadi tontonan yang menggembirakan. Adalah Sindhunata, dalam salah satu catatan trilogi sepakbola-nya (“Bola di Balik Bulan”, 2002), menulis, “Diakui atau tidak, arena bola sejak dahulu kala selalu menjadi panggung, di mana orang menumpahkan rasa nasionalismenya… Di lapangan hijau, pemain Inggris tidak hanya menggiring bola, tetapi dianggap (atau menganggap diri) melakukan perbuatan patriotis. Dulu pernah kepala Terry Butcher (stopper Inggris) berdarah karena bertabrakan dengan kepala pemain Swedia dalam sebuah duel udara. Manajer Bobby Robson menganggap darah Butcher sebagai darah patriot yang tertetes untuk membela tanah tumpah darahnya”.

Chauvinisme”   sepakbola   ala   Inggris   memberikan   gambaran bahwa meskipun setiap pemain berada dalam tradisi klub yang berbeda-beda, namun dalam satu tujuan membela tim nasional, setiap pemain bersatu.

Hal itu hanya bisa terjadi apabila gesekan-gesekan perbedaan dikurangi. Rumah bangsa kita ibarat tim sepakbola. Diperlukan visi bersama yang menguatkan persaudaraan di antara  perbedaan;  dibutuhkan  kerendahan hati untuk melepaskan perbedaan demi persatuan. Itulah sebabnya dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo berulang kali memberi pesan untuk menciptakan sepakbola yang mempersatukan. Dalam A Sociology of Football in a Global Context, Jamie Cleland (2015) menguraikan bahwa sepanjang sejarah manusia, sepakbola telah menjadi semacam katalisator bagi ikatan sosial, kegembiraan dan integrasi. Belajar dari sepakbola, nasionalisme bermakna Bhineka Tunggal Ika!

Sepakbola itu Menciptakan Prestasi

Nihil prestasi. Demikianlah nasib tim sepakbola nasional kita dalam era sepakbola modern selepas juara AFF U-19 pada 2013. Agak sulit membanggakan timnas kita di sela-sela rapuhnya PSSI selepas juara AFF U-19 tersebut. Berbagai persoalan melanda persepakbolaan kita hingga berujung pada pembekuan PSSI oleh FIFA. Dalam non-ritmisnya perjalanan pengelolaan sepakbola nasional kita, Piala Presiden 2017 memberikan harapan bahwa setelah ini akan ada aliran prestasi yang membanggakan.

“Menciptakan prestasi”, mungkin hal tersebut sedang menuju kepunahan di negara ini. Beberapa pekan belakangan ini seluruh narasi kebangsaan kita dicemari oleh saling curiga yang akut. Alih-alih menghadirkan keberhasilan membanggakan di berbagai bidang pembangunan, kita disibukkan oleh aneka permasalahan kronis: korupsi, perpecahan antargolongan, pengkultusan kelompok, penyebaran berita bohong, yang berujung pada tindakan saling melaporkan; belum lagi narkoba yang terus menggerogoti generasi muda.

Sebagaimana sepakbola, menciptakan prestasi dalam hidup berbangsa merupakan hal yang paling penting. Banyaknya prestasi di berbagai bidang pembangunan menjadi tolok ukur “kesehatan” rumah bangsa kita. Demi menciptakan  prestasi,  John  F  Kennedy  meminta  untuk  mempertanyakan apa yang sudah dibuat bagi negara. Demi menciptakan prestasi, Bung Karno dengan berani meminta supaya diberikan 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Menciptakan prestasi itu sesederhana kesigapan seorang penjaga gawang untuk menjaga gawangnya agar tidak kebobolan, demikian Ted Richards dalam Soccer and Philosophy: Beautiful Thoughts on the Beautiful Game (2010).

Sepakbola itu Menggembirakan

Sindhunata (2002) kembali menulis, “kespontanan, keapaadaan, kiranya harus tetap menjadi landasan bola. Bola kiranya tetap mempunyai jiwa kejujuran kanak-kanak. Tanpa kejujuran kanak-kanak, bola hanya akan menjadi kompleks taktik dan strategi, rumit dan membosankan”. Landasan sepakbola yang jujur dan apa adanya membuat penikmatnya mampu untuk saling berbagi kegembiraan. Sebagaimana sepakbola, tolok ukur kehidupan berbangsa ditentukan oleh kemampuan berbagi kegembiraan.

Kehidupan berbangsa harus dijalani dengan kegembiraan. Kegembiraan menciptakan passion yang memerdekakan. Kegembiraan menciptakan ikatan- ikatan emosional yang membangkitkan harapan untuk bertindak secara positif dalam segala hal. Tidaklah mengherankan bila permintaan Presiden Joko Widodo agar sepakbola harus menjadi tontonan yang menggembirakan terungkap pula dalam caranya yang santai dan selalu tersenyum menanggapi berbagai pertanyaan media. Sebaliknya, betapa membingungkan suasana politik berbangsa bila para mantan Presiden masih “berkiprah” dan menampilkan dimensi lain dari politik: penuh taktik, rekayasa, rumit, dan cenderung culas.

Dari bumi Yogyakarta yang berjiwa ayem tentrem serupa Indonesia kecil, 3 (tiga) pesan Presiden Joko Widodo melalui sepakbola sejatinya mengungkapkan bahwa nasionalisme merupakan sebuah pembelajaran yang terus-menerus, karena persatuan, prestasi, dan kegembiraan akan selalu berhadapan dengan disintegrasi bangsa. Kita berharap agar dari kota yang lain pun pesan-pesan tersebut dapat didengungkan.